Belajar agama boleh dari buku atau harus langsung ke ulama?

yaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:
Bolehkah belajar ilmu dari kitab-kitab saja tanpa belajar kepada ulama, khususnya jika ia kesulitan belajar kepada ulama karena jarangnya mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang ucapan yang menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya:
Bolehkah belajar ilmu dari kitab-kitab saja tanpa belajar kepada ulama, khususnya jika ia kesulitan belajar kepada ulama karena jarangnya mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang ucapan yang menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya?

Beliau menjawab:
Tidak diragukan lagi bahwa ilmu bisa diperoleh dengan mempelajarinya dari para ulama dan dari kitab. Karena, kitab seorang ulama adalah ulama itu sendiri, dia berbicara kepadamu tentang isi kitab itu. Jika tidak memungkinkan menuntut ilmu dari ahli ilmu maka ia boleh mencari ilmu dari kitab. Akan tetapi memperoleh ilmu melalui ulama lebih dekat (mudah) daripada memperoleh ilmu melalui kitab, karena orang yang memperoleh ilmu melalui kitab akan banyak menemui kesulitan dan membutuhkan kesungguhan yang besar, dan akan banyak perkara yang akan dia fahami secara samar sebagaimana terdapat dalam kaidah syar'iyyah dan batasan yang ditetapkan oleh para ulama. Maka dia harus mempunyai tempat rujukan dari kalangan ahli ilmu semampu mungkin.

Adapun perkataan yang menyatakan: barangsiapa yang gurunya adalah kitabnya maka kesalahannya akan lebih banyak dari pada benarnya. Perkataan ini tidak benar secara mutlak, tetapi juga tidak salah secara mutlak. Jika seseorang mengambil ilmu dari semua kitab yang dia lihat, maka tidak ragu lagi bahwa dia akan banyak salah. Adapun orang yang mempelajarinya bersandar kepada kitab orang-orang yang telah dikenal ketsiqahannya, amanahnya, dan ilmunya, maka dalam hal ini dia tidak akan banyak salah bahkan dia akan banyak benarnya dalam perkataannya.

Diambil dari Kitabul 'Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Dunia dan amalan shalih

Imam Nawawi dalam muqodimah kitab beliau yang sangat bermanfaat, Riyadus Shalihin. Beliau berkata, Allah berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ منْهُمْ مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونَ
Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan (Adz-Dzariaat:56.57)
Imam Nawawi dalam muqodimah kitab beliau yang sangat bermanfaat, Riyadus Shalihin. Beliau berkata, Allah berfirman

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إلاَّ لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ منْهُمْ مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونَ

Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan (Adz-Dzariaat:56.57)

Ayat diatas merupakan keterangan yang sangat jelas bahwa jin dan manusia diciptakan untuk beribadah. Oleh karena itu sudah semestinya mereka memperhatikan untuk apa mereka diciptakan, seraya berpaling dari kemewahan kemegehan dunia dengan bersikap zuhud, karena dunia merupakan alam fana yang tidak akan kekal. Dunia hanyalah merupakan jembatan yang menghubungkan ke alam akhirat, bukan tempat untuk bersenang-senang dan tempat tinggal yang abadi. Oleh karena itu, orang-orang yang sadar dan memahami akan benar-benar melaksanakan ibadah dan orang-orang yang sehat akalnya adalah orang-orang yang zuhud. Allah berfirman

إنَّمَا مَثَلُ الحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَآءِ فَأخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ ممَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأَنْعَامُ حَتَّى إذَا أَخَذَتِ الأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَأزَّيَّنَتْ وَظَنَّ أهْلُهَا أنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيها أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلاً أَو نَهَاراً فَجَعَلْنَاهَا حَصِيداً كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِالأَمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dan langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-permliknya mengira bahwa mereka pasti menguasasinya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir (Yuunus: 24)

Salah seorang penyair berkata

إِنَّ للهِ عِبَاداً فُطَنَا طَلَّقُوا الدُّنْيَا وخَافُوا الفِتَنَا
نَظَروا فيهَا فَلَمَّا عَلِمُوا أَنَّهَا لَيْسَتْ لِحَيٍّ وَطَنَا
جَعَلُوها لُجَّةً واتَّخَذُوا صَالِحَ الأَعمالِ فيها سُفُنا

Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang cerdas, yaitu yang tidak mementingkan dunia dan takut akan fitnah
Mereka senantiasa memperhatikan, maka ketika mengetahui, dunia ini bukanlah tempat tinggal selama-lamanya bagi yang hidup.
Merekapun menjadikan dunia bagaikan samudra dan menjadikan amalan shalih sebagai bahtera untuk berlayar mengarunginya

Berharap kepada Allah atau terlena oleh tipuan syaithan?

Tidak sedikit orang yang jatuh dalam dosa dan kemaksiatan bahkan mereka berani meremehkan dosa-dosa tersebut. Mereka mengatakan, bukankah Allah Maha Pengampun? bukankah Allah akan mengampuni dosa selain syirik? bukankah Allah Maha Pengasih? dan seterusnya…yang pada akhirnya mereka terus-menerus dan meremehkan dosa-dosa. Mereka lupa bahwa Allah juga mempunyai adzab yang sangat pedih.
Harapan atau lamunan?
Berharap kepada Allah adalah suatu kemestian, berharap akan diterimanya amalan yang telah dilakukan, berharap diterima taubatnya, berharap agar dosa-dosanya diampuni dan seterusnya.

Lalu, apakah dengan modal berharap saja cukup? Berharap akan kasih sayang Allah sementara kita mengabaikan rambu-rambunya? Berharap mendapatkan surga-Nya sementara kita melalaikan kewajiban-kewajiban dan melanggar larangan-larangan-Nya?

Kalau seandainya ada seorang petani yang mempunyai lahan luas, tetapi dia tidak mengolah, menanam dan merawatnya, akankah dia akan berharap panen dengan hasil yang baik?

Kalau seandainya ada pelajar yang sehari-hari menghabiskan waktu untuk bermain, menonton TV dan yang semisalnya tanpa mempedulikan pelajaran, akankah dia akan berharap mendapat nilai ujian yang baik?

Tentu petani dan pelajar tersebut tidak dapat berharap akan mendapatkan hasil yang baik, kalaupun mereka berharap, tentu itu hanya khayalan dan lamunan mereka saja.

Hal ini seperti orang yang senantiasa melakukan dosa-dosa bahkan meremehkannya kemudian dengan entengnya berkata, “Allah kan Maha pengampun”, “Allah akan mengampuni dosa selain syirik”

Berharap kepada Allah disertai dengan ketaatan
Sesungguhnya salafus shalih telah meletakkan roja (berharap) dan khouf (takut) pada tempatnya:

Abu Ishaq melihat Amr bin Syarahil pernah datang ke pembaringannya lalu berkata: “Andaikata ibuku tidak melahirkan aku” Lantas istrinya berkata: “Hai Abu Maisarah, bukankah Allah telah berbuat baik kepadamu? Dia telah memberimu hidayah menuju Islam. Dia juga telah memperlakukanmu begini?” Ia menjawab, “Benar, akan tetapi Allah telah memberitahu kita bahwa kita semua akan melewati jembatan di atas neraka dan tidak menjelaskan bahwa kita akan bisa selama daripadanya”

Abu Bakar Al-Muzani berkata: “Seandainya ada pengumuman dari langit bahwa hanya ada satu orang diantara kalian yang akan masuk surga, niscaya setiap orang harus berusaha menjadi satu orang tersebut. Dan seandainya ada pengumuman dari langit bahwa hanya ada satu orang diantara kalian yang masuk neraka, niscaya setiap orang harus berusaha menghindari agar tidak menjadi satu orang tersebut.

Hasan berkata: “Orang mukmin adalah orang yang tahu bahwa firman Allah adalah sama seperti yang Dia firmankan. Orang mukmin adalah orang yang paling baik amalnya dan paling kuat ketakutannya. Andaikan ia menginfakkan harta sebesar gunung, maka ia tidak merasa tenang sebelum melihat hasilnya secara nyata. Semakin bertambah keshalihannya, kebajikan dan ibadahnya, maka semakin bertambah pula kesulitannya untuk memejamkan mata dan berkata, “Aku tidak akan selamat”. Sedangkan orang munafik berkata: “Jumlah manusia sangat banyak, dosaku akan diampuni dan tidak ada masalah bagiku” Akibatnya ia lupa beramal, Ia hanya mengkhayal terhadap Allah.

Syaqiq Al-Balkhi berkata, “Orang mukmin itu seperti orang yang menanam pohon kurma dan merasa takut kalau-kalau akan tumbuh subur semak belukar”. Sedangkan orang munafik itu seperti orang yang menanam semak belukar dan berharap akan menuai buah kurma. Sungguh jauh panggang daripada api.

Allah azza wa jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah” (Al-Baqarah: 218)

Siapa yang berharap akan rahmat Allah? Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata: “Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan orang-orang tersebut yang berhak mengharapkan rahmat-Nya, bukan orang-orang yang zhalim dan orang-orang fasiq.

Ibnu Mas’ud Radhiallaahu ‘anhu pernah berkata: ”Seorang mukmin melihat suatu dosa seakan-akan ia duduk dibawah gunung dan takut jikalau gunung itu menimpanya dan orang fajir (pendosa) melihat dosa bagaikan lalat yang lewat didepan hidungnya seraya berkata “begini”, Ibnu Syihab menafsirkan: yakni berisyarat (mengebutkan) tangannya didepan hidung untuk mengusir lalat.

Oleh karena itu, sudah semestinya bagi kita untuk seperti petani kurma yang teliti memilih benih, menyiapkan lahan dengan baik, menyirami dan memupuknya, memelihara dari gangguan hama dan penyakit, kemudian berharap akan panen yang baik, bukan seperti petani yang menanam belukar dengan mengharap memanen kurma.

Referensi:
1. Jawabul Kafi liman sa’ala ‘anid Dawa’I Syafi, Ibnul Qoyyim edisi bahasa Indonesia. Terapi penyakit dengan Al-Quran dan As-Sunnah penerbit Pustaka Amani
2. 1000 Hikmah Ulama Salaf (Kisah-kisah pilihan dalam Hilyatul Auliya’) karya Shalih bin Abdul Aziz Al-Muhaimid, penerbit Pustaka Elba.

1. Sebabnya
Amalan harus sesuai dengan syari'at dalam sebabnya. Hal itu seperti seseorang melakukan ibadah dengan yang tidak pernah Allah sebutkan, misalkan; dia shalat dua raka'at setiap kali memasuki rumahnya dan menjadikan hal ini sebagai perbuatan Sunnah. Seperti ini tertolak. Walaupun perkara shalat pada dasarnya disyari'atkan, tetapi ketika ia kaitkan dengan sebab yang tidak bersumber dari syar'at, maka hal ini mengakibatkan ibadah tersebut tertolak. Contoh yang lain: apabila seseorang membuat perayaan dengan sebab kemenangan kaum Muslimin pada Badar, maka hal ini pun tertolak, sebab ia mengaitkannya sebab yang tidak pernah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

2. Jenisnya
Bila seseorang beribadah kepada Allah dengan suatu ibadah tidak pernah disyari'atkan agama dalam hal jenisnya, maka tidak akan diterima. Sebagai contoh: bila seseorang berkurban dengan kuda, maka hal ini tertolak, sebab menyelisihi perintah syariat dalam hal jenis, dimana syar'at Islam memerintahkan harus dari jenis binatang ternak tertentu, yaitu: unta, sapi dan kambing. Adapun seseorang yang memotong kuda dengan niat mensadaqahkan dagingnya maka hal itu diperbolehkan, sebab ia tidak dikatakan berkurban kepada Allah dengan menyembelihnya, hanya menyembelihnya untuk dishadaqahkan dagingnya.

3. Ukurannya
Apabila seseorang beribadah kepada Allah dengan ukuran yang lebih dari ukuran yang telah ditentukan syari'at maka hal itu tidak diterima. Sebagai contoh: bila seseorang berwudhu' dengan membasuh setiap bagian sebanyak empat kali, maka yang keempat tertolak, sebab hal itu melebihi ketentuan syari'at. Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam berwudhu' tiga kali-tiga kali, lalu beliau bersabda:
مَنْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ أَسَاءَ وَتَعَدَّى وَظَلَمَ
“Barangsiapa yang melebihkannya, maka ia telah berbuat jelek, melampaui batas dan berbuat kezhaliman (HR. Ahmad, An-Nasaai, Ibnu Majah dengan sanad yang hasan)


4. Sesuai teknisnya
Apabila seseorang mengamalkan sesuatu dalam rangka beribadah kepada-Nya tetapi menyelisihi syari'at dalam hal teknisnya, maka tidak akan diterima, dan hal itu tertolak. Contoh: seseorang shalat, ia langsung bersujud sebelum melakukan ruku', maka shalatnya tidak sah dan tertolak, sebab tidak sesuai dengan teknis tuntunan syari'at. Demikian pula dalam hal wudhu' dengan cara berbalik seperti memulai dengan membasuh kaki sebelum mengusap kepala setelah itu membasuh tangan lalu muka, apabila berwudhu' dengan teknis seperti ini maka tidak sah, sebab tidak mengikuti perintah syari'at dalam hal teknis atau tata-caranya.

5. Sesuai dengan syari'at dalam hal waktunya.
Bila seseorang shalat sebelum masuk waktunya, maka shalatnya tidak mungkin diterima sebab ia menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari'at. Juga bila menyembelih kurban sebelum mengadakan shalat `Id, inipun tertolak, sebab menyelisihi waktu yang telah ditentukan syari'at. Apabila seseorang beri'tikaf pada selain waktunya, maka hal itu tidak sesuai dengan pedomannya, namun hal ini diperbolehkan sebab Rasulullah ', membolehkan `Umar bin al-Khaththab beri'tikaf di Masjidil Haram ketika beliau bernadzar. Apabila seseorang mengakhirkan suatu ibadah yang telah ditentukan waktunya oleh syari'at tanpa adanya alasan yang dibenarkan, seperti shalat Shubuh setelah terbit matahari tanpa udzur, maka (dengan sikap seperti ini) shalatnya tertolak, sebab ia telah beramal dengan amalan yang tidak bersumber dari Allah dan Rasul-Nya.

6. Sesuai dalam ketentuan
Apabila seseorang beri'tikaf di sekolah atau di rumah, bukan di mesjid, maka amalannya ini tidak sah, sebab tidak sesuai dengan tuntunan syari'at dalam ketentuan tempatnya, di mana ibadah I'tikaf harus dilakukan di masjid.

Maka perhatikanlah keenam hal di atas dan wujudkanlah dalam setiap yang diwajibkan kepadamu. Berikut ini beberapa permisalan di antara perkara yang tertolak sebab menyelisihi ketentuan Allah dan Rasul-Nya:

Contoh 1.
Orang yang berjual beli setelah adzan kedua pada hari Jum'at dan ia termasuk golongan yang diwajibkan menghadiri shalat jum'at, maka akad transaksinya tidak sah, sebab ia menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan apabila hal ini terjadi maka wajib dibatalkan, masing-masing mengembalikan uang dan barangnya. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat bahwa ketika Rasulullah saw dikabarkan bahwa kurma yang baik sebanyak satu sha' ditukar dengan dua sha' (yang jelek), dua sha' dengan tiga sha'. Seketika Rasulullah bersabda: Kembalikan! Artinya kembalikan barang dagangannya, sebab telah menyelisihi ketentuan Allah dan Rasul-Nya.

Contoh 2.
Seseorang wanita menikahkan dirinya tanpa adanya wali, maka pernikahannya pun tidak sah, sebab Rasulullah saw bersabda: Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali

Contoh 3.
Seseorang yang mentalak isterinya dalam keadaan haid, apakah talaknya dianggap atau tidak? Jawab: dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Tatkala seseorang mengatakan kepada Imam Ahmad rahimahullah, pendapat bahwa talak ketika
sang isteri sedang haid dibolehkan (terjadi), seketika beliau berkata Itu pendapat jelek. Inilah perkataan Imam Ahmad rahimahullah yang ilmunya sangat piawai dalam hadits dan fiqih, beliau mengingkari perkataan tersebut. Demikian pula sebagian ulama ada yang mengingkari pendapat bahwa talak di saat haidh tidak terjadi, mereka berpendapat sebaliknya, yakni bahwa hal itu terjadi dan dianggap talak satu. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal itu tidak terjadi, srperti pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, walhasil ini termasuk masalah khilafiyyah (diperselisihkan).
Saya menyebutkannya di sini dengan maksud jangan sampai orang-orang gampang menfatwakan tidak menganggap terjadinya talak diwaktu haid, bahkan kalian harus memberlakukan hukum tersebut kepada mereka sebagaimana mereka sengaja melakukannya. Meskipun talak dengan lafazh tiga kali dengan satu ucapan, pada masa Rasulullah saw, Abu Bakar, dan dua tahun masa pemerintahan `Umar dihitung satu kali. Namun ketika manusia berani (menyepelekan) perkara yang haram, maka `Umar radhiallahu’anhu.menghukumi mereka dengan menjatuhkannya (menganggapnya tiga kali), seraya beliau berkata: Engkau tidak boleh kembali kepada isterimu, sebab kamu sendiri yang menyengaja menceraikannya tiga kali. Saya pun setuju dengan pendapat ini (dianggap terjadi), sebab kebanyakan manusia sekarang suka mempermainkannya, di saat orang awam datang dan mengatakan bahwa dirinya telah menceraikan isterinya dalam keadaan haidh sejak sepuluh tahun yang lalu, dan Anda katakan padanya; Hal itu dianggap terjadi, lantas ia berkata padamu: Itu hanya talak di waktu haid dan dianggap talak bid'ah. Orang ini mengatakan demikian padahal dirinya awam. la tidak tahu mana pergelangan tangan di antara kumpulan manusia (ungkapan yang menunjukkan kebodohannya), dan ia mengatakan demikian sebab hawa nafsunya.
Apakah mungkin kita fatwakan bahwa talak Anda tidak terjadi?! Jawab: Tidak mungkin kita lakukan demikian, sebab di pundak kita pertanggungjawaban yang sangat agung di hari Kiamat kelak. Bahkan kita katakan padanya: Anda telah mewajibkan diri Anda, maka hal itu harus Anda ikuti. Bagaimana menurutmu apabila isterimu telah habis masa `iddahnya dari penceraian itu dan ia menikah dengan laki-laki lain, apakah kamu akan mendatangi suami barunya dan berkata: `Perempuan ini isteri saya?!!' Tentu Anda tidak akan berkata seperti ini. Maka apabila dia berpendapat bahwa talak tiga itu berlaku (seperti pendapat kami), maka tentunya ia tidak akan membuka pintu (thalak) ini (untuk dipermainkan).
Walhasil, talak dalam keadaan haidh mayoritas ulama menyatakannya berlaku. Dan pendapat yang mengatakan sebaliknya, Imam Ahmad mengomentarinya dengan perkataan beliau: Ini pendapat yang buruk, artinya tidak pantas untuk dijadikan pedoman.

Contoh 4.
Seseorang menjual satu uqiyah (ukuran) emas dengan satu setengah uqiyah, maka yang seperti ini dikatakan jual beli yang bathil (tidak sah), sebab Rasulullah saw bersabda:
Jangan kalian menjual emas dengan emas kecuali dengan ukuran dan berat yang sama
(HR. Bukhari, Muslim)

Contoh 5.
Seseorang shalat dengan mengenakan baju curian. Mayoritas ulama mengatakan: shalatnya sah, sebab larangan di sini tidak berkaitan dengan shalat tetapi larangannya hanya tentang mencuri baju. Apakah baju itu dipakai untuk shalat atau tidak, maka tidak berkaitan dengan shalat. Nabi saw sendiri tidak mengatakan: Janganlah kalian shalat dengan mengenakan baju curian. Beliau hanya melarang mencuri dan mengharamkannya dan tidak mengaitkannya dengan masalah shalat.

Contoh 6
Seseorang shalat sunnah tanpa adanya alasan pada saat waktu larangan shalat, maka amalannya ini tertolak sebab hal itu terlarang baginya.

Contoh 7.
Seseorang puasa pada hari raya `Idul Fithri, maka puasanya tertolak sebab ia melakukannya pada waktu larangan baginya.

Contoh 8.
Seseorang berwudhu' dengan air curian, maka hal itu tetap sah, sebab larangan di sini berkenaan dengan mencuri air. tidak berkenaan langsung dengan wudhu' dengan air tersebut. Apabila larangan dimaksud berkenaan dengan wujud ibadah itu sendiri, maka ibadah ini tidak sah. Tetapi bila larangan ini bersifat umum, maka hal itu tidak berkait dengan sah atau tidaknya suatu ibadah.

Contoh 9
Seseorang mencurangi temannya dengan cara menipunya dalam hal jual beli, maka hasil jual belinya tetap dikatakan sah, sebab larangan di sini hanya berkisar tentang tipu-menipu. Apabila orang yang tertipu ini menerima hasil jual belinya, maka hal itu tetap dikatakan sah. Rasulullah saw bersabda:

Janganlah kalian menghadang al jalab (sebelum sampai ke pasar). Apabila kalian menemui (jalab) dan membeli sesuatu darinya, kemudian majikannya (orang kampung yang membawa jalab itu) mendatangi pasar, maka harus dilakukan pilihan (tawar menawar) kembali. (HR. Muslim)

Al jalab adalah barang-barang yang dibawa oleh orang Arab perkampungan berupa hewan ternak, bahan makanan dan selainnya, [di mana mereka tidak mengetahui harga pasaran dari barangbarang dagangannya]. Dalam hal ini Rasulullah tidak mengatakan: Maka jual belinya bathil (tidak sah), bahkan telah sah, namun orang yang dihadangnya (orang kampung itu) berhak untuk mengadakan tawar-menawar harga lagi, karena ia menjadi pihak yang telah dirugikan.

Harus dibedakan antara larangan yang berkaitan dengan wujud suatu amalan dengan sesuatu yang tidak berkaitan dengannya. Apabila berkaitan dengan wujudnya, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu tertolak (tidak benar), sebab jika Anda memaksanya menganggap benar, berarti Anda menentang Allah dan Rasul-Nya. Tetapi jika berkait dengan sesuatu di luar amalan, maka amalan tersebut tetap dikatakan shahih, dan dosa dalam amalan yang Anda amalkan (berupa menipu atau mencuri) adalah diharamkan (dengan dalil tersendiri).

Contoh 10.
Seseorang berhaji dengan harta curian, misalkan dengan mencuri unta kemudian berhaji dengan hasil penjualannya. Hajinya tetap shahih, dan inilah pendapat mayoritas ulama, akan tetapi dirinya berdosa dengan mencuri unta tersebut, atau dengan mencuri mobil misalkan. Sebab perbuatan mencuri ini ada di luar ibadah tersebut. Bukti (bahwa biaya haji itu di luar ibadah hajinya), ialah terkadang ada seseorang yang berhaji tanpa mengunakan biaya kendaraan. Sebagian ulama menghukuminya dengan tidak shahih, dan keputusan mereka ini dilantunkan dalam satu bait syair:

إذا حججتَ بمالٍ أصلُهُ سُحْتٌ
ضفما حججتَ ولكنْ حجَّتِ العيرُ

Jika kamu berhaji dengan harta yang asalnya dosa (haram)
Maka kamu tidak berhaji, akan tetapi untanyalah yang berhaji.

Dalam riwayat Muslim:Siapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang-bukan urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak. Dalam riwayat ini tersurat bahwa apabila dalam suatu amalan tidak berlandaskan pada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka hal itu secara pasti akan tertolak. Dalam masalah ibadah, tanpa diragukan lagi ketentuan ini berlaku, sebab perkara ibadah berpatokan pada prinsip yang baku (bahwa pada asalnya dilarang), hingga adanya dalil yang menjadikannya disyari'atkan.

Jika ada seseorang mengadakan satu bentuk peribadatan kepada Allah Ta'ala, lalu orang lain mengingkarinya, kemudian ia balik bertanya: Apa dalilmu kalau hal itu perbuatan haram? Sanggahan seperti ini jelas mungkarnya. Maka pengingkar harus berkata: Dalilnya adalah bahwa pada dasarnya ibadah itu hukumnya terlarang, hingga adanya dalil yang mensyari'atkannya. Adapun pada selain ibadah (mu'amalah), hukum asalnya adalah boleh (selama tidak ada dalil yang melarangnya), baik yang berkaitan dengan pelakunya maupun perbuatannya, karena pada dasarnya berhukum halal/boleh.

Contoh pelaku (perbuatan selain ibadah), misalnya: seseorang memburu burung untuk memakannya, lalu orang lain mengingkarinya. Kemudian ia menyanggah: Apa dalil keharamannya? Sanggahan dia benar, sebab asal hukum berburu burung adalah halal, berdasarkan firman Allah Ta'ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعاً
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah: 29)

Contoh perbuatan pada selain ibadah yang hukum asalnya halal: si A mengerjakan sesuatu di rumahnya atau pada mobilnya, pakaiannya atau apa saja yang berkaitan dengan perkara dunia, kemudian si B mengingkarinya. Lalu si A menyanggah dan bertanya: Apa dalilmu mengharamkan perbuatan saya? Ucapanya A dibenarkan sebab asal perbuatannya dihalalkan.

Inilah 2 kaidah yang sangat penting dan bermanfaat (yaitu bahwa ibadah itu hukum asalnya dilarang, sampai ada dalil yang melegalkannya. Sebaliknya, muamalah itu pada asalnya diperbolehkan selama tidak ada dalil yang melarangnya.

Atas dasar ini, dalam masalah ibadah kita harus memperhatikan tiga kesimpulan
1. Apa yang kita ketahui bahwa syariat membolehkan suatu ibadah, maka itu berarti disyariatkan
2. Apa yang kita ketahui bahwa syariat melarangnya, maka berarti hal itu terlarang
3. Apa yang tidak kita ketahui bahwa suatu hal tidak termasuk ibadah, maka hal itu terlarang

Adapun dalam masalah muamalah, kitapun harus memperhatikan 3 tiga kesimpulan
1. Apa yang kita ketahui bahwa syariat membolehkannya, maka hal itu berarti boleh, seperti amalan Rasulullah saw memakan keledai liar
2. Apa yang kita ketahui bahwa syariat melarangnya, maka hal itu berarti dilarang
3. Dan apa yang tidak kita ketahui ketentuan hukumnya, maka hal itu berarti dibolehkan, sebab hukum asal pada selain ibadah adalah boleh.

Syarh Arbain Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Membongkar Kedok Dukun Berlabel Ustadz/Kyiai

Metode ini nampaknya tidak penting. Namun sengaja kami kemukakan, karena sebagian kaum muslimin banyak yang tidak bisa membedakan antara penyembuhan secara Qurani dengan penyembuhan secara sihir.
Ada cukup banyak cara dan sangat bervariatif, yang semuanya mengandung kesyirikan atau kekufuran nyata. Dan Insya Allah, kami akan menyebutkan sebagian di antaranya, yakni delapan cara yang disertai dengan jenis kesyirikan atau kekufuran yang terkandung pada setiap cara tersebut secara ringkas. Hal ini sengaja kami kemukakan, karena sebagian kaum muslimin banyak yang tidak bisa membedakan antara penyembuhan secara Qurani dengan penyembuhan secara sihir. Yang pertama adalah cara imani ( keimanan ) dan yang kedua cara syaithani ( atas petunjuk syaitan ). Dan masalahnya akan semakin kabur bagi orang-orang tidak berilmu, di mana tukang sihir itu membacakan mantra dengan pelan sementara dia akan membaca ayat Al Qur’an dengan kencang dan terdengar oleh pasien sehingga pasien itu mengira bahwa orang itu mengobatinya dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an, padahal kenyataannya tidak demikian. Sehingga si pasien itu akan menerima perintah tukang sihir sepenuhnya.
Dan tujuan dari penyampaian dan penjelasan cara ini adalah untuk memperingatkan kaum muslimin agar mereka berhati-hati terhadap berbagai jalan kejahatan dan kesesatan, dan agar tampak jelas jalan orang-orang yang berbuat kejahatan.


1. Cara iqsam (bersumpah atas nama jin dan syaitan)
2. Cara adz-dzabh, yaitu dengan cara menyembelih binatang untuk dipersembahkan kepada jin dan syaitan.
3. Cara sufliyah, yaitu menempelkan ayat-ayat Al Qur’an atau hadits di bagian bawah kaki.
4. Cara najasah, yaitu menulis ayat-ayat Al Qur’an dengan benda yang najis.
5. Cara tankis, yaitu dengan cara berkomunikasi dengan bintang –bintang.
6. Cara al-kaff, yaitu melihat melalui telapak tangan.
7. Cara al-atsar, yaitu dengan menggunakan benda bekas dipakai.


Beberapa Tanda yang Dapat Dijadikan Barometer untuk Mengenali Tukang Sihir

Jika anda mendapatkan satu tanda dari tanda-tanda berikut ini pada orang-orang yang melakukan pengobatan, maka tidak diragukan lagi dia adalah seorang tukang sihir. Berikut ini tanda-tanda tersebut :


1. Menanyakan nama si pasien dan nama ibunya.

2. Meminta salah satu dari beberapa benda bekas dipakai si pasien ( baik itu baju, topi, sapu tangan, atau kaos ).

3. Terkadang meminta hewan dengan kriteria tertentu untuk disembelih dengan tidak menyebut nama Allah padanya, dan terkadang darah binatang sembelihan itu dioleskan pada beberapa tempat penyakit yang dirasakan oleh pasien atau melempar binatang itu ke tempat puing-puing bangunan.

4. Penulisan mantra-mantra tertentu.

5. Membaca jimat-jimat dan mantra-mantra yang tidak dapat dipahami.

6. Memberi suatu pembatas yang terdiri dari empat persegi kepada pasien, yang di dalamnya terdapat huruf-huruf atau angka-angka.

7. Dia menyuruh pasien untuk mengurung diri dari orang-orang untuk waktu tertentu di suatu ruangan yang tidak dimasuki sinar matahari, yang kaum awam menyebutnya dengan hijbah.

8. Terkadang si penyihir itu menyuruh pasien untuk tidak menyentuh air untuk waktu tertentu, yang paling sering selama empat puluh hari. Dan tanda itu menunjukkan bahwa jin yang melayaninya adalah beragama Nasrani.

9. Memberi beberapa hal kepada pasien untuk ditimbun di dalam tanah.

10. Memberi pasien beberapa kertas untuk dibakar dan mengeluarkan asap.

11. Berkomat-kamit dengan kata-kata yang tidak dapat dipahami.

12. Terkadang si penyihir memberitahu pasien nama dan kampung halaman pasien tersebut serta permasalahan yang akan dikemukakannya.

13. Si penyihir juga menuliskan untuk pasien beberapa huruf terputus-putus di sebuah kertas ( jimat ) atau di lempengan tembikar putih, lalu menyuruh pasien melarutkan dan meminumnya.


Jika anda megetahui bahwa seseorang adalah tukang sihir, maka hindarilah dan janganlah Anda mendatanginya, dan jika tidak, maka Anda termasuk dalam sabda Nabi: “Barangsiapa mendatangi seorang dukun, lalu dia membenarkan apa yang dikatakannya, berarti dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.’’ ( diriwayatkan oleh Al Bazzar, dengan beberapa penguatnya, hadits ini hasan dan diriwayatkan juga oleh Ahmad dan Al Hakim, dishahihkan oleh Al Albani : lihat Shahihul Jaami’ ( no. 5939 ). )

Menanti Kedatangan BuahTangan-Nya

Apakah engkau dapat menjawab pertanyaan ini yang nampaknya basi. Namun tidak ada salahnya diajukan karena fenomena ini akan terus ada hingga akhir zaman. Mengapa sebagian besar pemuda-pemudi muslim merasa adem ayem saja ketika dirinya terjatuh dalam kubangan dosa pergaulan, terutama dengan lawan jenis ?
Fenomena ini mungkin tidak akan kami sampaikan pada kesempatan ini jika saja saudari-saudariku sepondokan, baik yang berstatus aktivis muslim maupun bukan, mampu menjaga kehormatan dirinya dan bersabar atas berbagai macam gelombang syahwat dan syubhat yang terus didengung-dengungkan oleh pihak yang tidak senang dengan kejayaan agama ini.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (ujian) ini terhadap umatnya. Sebagaimana yang telah disabdakan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti hawa nafsu pada perut kamu dan kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.”
(HR. Ahmad).

Dengan penuh kesabaran, mereka akan senantiasa terus merusak generasi muda serta kaum wanitanya. Mengapa ? karena dari wanita-wanita yang rusak moralnya akan terlahir generasi penerus bangsa yang rusak pula ditambah lagi para pemudanya yang tidak tahu lagi menjaga adab-adab dalam bergaul yang telah ditentukan oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dan telah temaktub di dalam agama yang telah sempurna ini.

Memang betul diri ini bukanlah pribadi yang alim namun ijinkanlah kami mengisi catatan kehidupan kami dengan sesuatu yang bermanfaat bagi agama ini. Adanya tulisan ini juga bukan berarti kami ingin memposisikan sebagai pihak yang paling benar, sekali lagi tidak.
Mudahan-mudahan uraian ini mampu mewakili kebiasaan kaum kami ketika berinteraksi dengan kaum hawa.

Harapan kami melalui media ini ialah engkau bersama teman-teman kosmu proaktif dalam mencegah kemungkaran, terutama di lingkungan terkecilmu, yaitu di pondokan. Sekurang-kurangnya saling nasehat-menasehati dan saling mengingatkan saudaranya, yang masih belum memperoleh hidayah, agar terhindar dari bahaya tersebut.

Kami yakin di benak ukhti telah tersirat keinginan di atas namun terganjal sesuatu. Bisa saja berupa perasaan bahwa dirinya belumlah pantas menasehati saudaranya. Entah dikarenakan merasa lebih muda, kurang sholeh, masih kurang ilmu agamanya dibandingkan dia, tidak ingin membuka aib saudaranya, tidak ingin membuat saudaranya sedih kemudian akan membenci ukhti, atau tidak ingin mencampuri urusan orang lain.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmu kepada manusia.

Beliau bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”.
(HR. Bukhari & Muslim).

Nah, bukankah ayat yang telah ukhti hafal tidak hanya satu... Mulai dari ayat pertama Surah An-Naas sampai…Kami yakin telah beratus-ratus ayat dalam memorimu. Apakah itu masih belum cukup ? Hmmm, menunggu hingga menjadi hafidzhoh, kah ?


“Jadilah kalian di tengah manusia laksana lebah di tengah bangsa burung, tiada seekor burung pun melainkan menganggap remeh terhadapnya, padahal seandainya bangsa burung itu mengetahui barokah yang terkandung di perut lebah, niscaya mereka tak akan meremehkannya. Maka bergaullah di tengah manusia dengan lisan dan jasad kalian dan berbaurlah bersama mereka dengan amal shalih dan hati kalian. Sesungguhnya manusia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia usahakan dan pada hari kiamat nanti akan dikumpulkan bersama siapa yang dicintainya”.
(Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu).

Perlu diingat pula bahwa azab yang ditimpakan terhadap suatu kaum yang di dalamnya penuh dengan kemungkaran dan kemaksiatan tidak hanya menimpa kepada mereka yang bermaksiat tetapi juga akan menimpa selain mereka. Begitu banyak contoh musibah di negeri ini dimana korbannya tidak hanya dari kalangan ahli maksiat namun juga menimpa orang-orang sholeh di daerah tersebut. Apakah gempa di Bengkulu hanya menimpa ahli maksiat sajakah ? Atau apakah ukhti tega menimpakan azab Allah kepada seluruh penghuni pondokan walaupun secara tidak langsung ?

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu, dan ketauhilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al-Anfal: 25).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya manusia apabila melihat seorang yang zhalim lalu tidak mencegahnya, niscaya, hampir-hampir Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan azab untuk mereka semuanya.”
(HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Ketika kita telah mengetahui pentingnya ilmu, maka sebagai buah dan konsekuensi dari ilmu tersebut adalah beramal. Bayangkan jika ada seorang kimiawan yang sudah menguasai teori reaksi kimia, menguasai teori bahan-bahan kimia, dan trik mencampur bahan tersebut agar menghasilkan reaksi kimia yang cepat dan aman namun dia tidak mau mengaplikasikan ilmunya tersebut. Apakah teori tersebut dapat dikatakan bermanfaat bagi dirinya ?

Begitupula ilmu agama yang telah kita pelajari tanpa kita amalkan maka tidak akan bermanfaat bagi kita karena Allah akan menghisab tentang apa yang kita amalkan disamping apa yang kita ketahui. Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu maka ia telah menyerupai kaum Nasrani dan barangsiapa yang berilmu tanpa mengamalkannya maka ia telah menyerupai kaum Yahudi. (Tafsir Ibnu Katsir).

Ibnu Mas’ud rahimahullah berkata, “Belajarlah ilmu. Apabila sudah tahu, maka amalkanlah”. Selain itu betapa indahnya perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah, “Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim”.

Perkataan ini mengandung makna yang dalam karena apabila seseorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka dia adalah orang yang bodoh. Hal ini karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh. Maka seseorang yang berilmu tidaklah menjadi seorang alim yang sebenarnya sampai dia mengamalkan ilmunya.

Semua orang yang belajar ilmu dengan tujuan bukan untuk mengamalkannya akan diharamkan baginya keberkahan ilmu, kemuliaannya, dan pahalanya yang agung.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya,

“Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar”. (HR. Thabrani. Muhaddits abad ini, Muhammad Nashiruddin Albani, berkata sanadnya jayyid (baik)).

Kiranya, dalil berikut ini cukup bagi saudariku yang di kampus aktif di organisasi keagamaan. Bahkan menjadi pemandu asistensi agama Islam di prodinya. Namun ketika berada di pondokan, malah hobi mendatangkan teman lelakinya. Maka dikhawatirkan ia termasuk golongan yang menyuruh orang lain berbuat kebajikan namun ia sendiri terjatuh dalam keburukan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya, “Didatangkan seseorang pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke neraka sehingga terurai usunya dan dia berputar sebagaimana kedelai berputar pada penggilingan. Kemudian berkumpullah para penghuni neraka disekelilingnya dan berkata, “Wahai fulan, apa yang menimpamu ? Bukankah kamu dulu menyuruh kami untuk berbuat baik dan mencegah kami dari kemungkaran ?” Kemudian orang tersebut berkata, “Dahulu aku menyuruh berbuat kebaikan tapi aku tidak melakukannya dan aku mencegah perbuatan munkar namun aku melakukannya.”
(HR. Bukhari & Muslim dari Usamah bin Zaid).

Kami yakin saudariku tentu telah memperoleh proses tarbiyah di lingkungan kampus, organisasi, maupun liqo. Namun siapa yang mampu menjamin sepulangnya dari liqo atau kajian keilmuan mereka akan terbebas dari perilaku jahil. Bahkan orang sekelas murabbi pun tidak akan mampu menjaga kondisi keimanan para mutarabbi-nya akan tetap istiqomah sebagaimana yang ditampakkannya ketika liqo.

Mudah-mudahan kajian-kajian, entah itu liqo, TTS, dan lain sebagainya, yang sedang saudari-saudariku ikuti mampu membentengi dirinya dari terkaman kami, para serigala berbulu domba. Dan juga semoga beberapa penggal kalimat di bawah ini dapat menjadi bahan bagi ukhti untuk dapat menyelamatkan saudaramu, terutama yang berada satu pondokan, agar tidak semakin dalam tergelincir dalam jurang kemaksiatan.

Tentunya semua itu dilakukan dengan niat ikhlas berdakwah lillahi ta’ala serta penuh hikmah agar mereka segera sadar akan kekeliruannya selama ini. Kebenaran yang pada asalnya susah untuk diterima oleh jiwa, ketika disampaikan dengan cara yang buruk dan kasar, tentunya justru akan membuat orang semakin lari dari kebenaran. Oleh karena itulah, dakwah pada dasarnya harus disampaikan dengan cara lemah lembut.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim).




Wahai saudariku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...
Allah ta'ala memberikan permisalan tentang orang yang telah mengumpulkan banyak kebaikan akan tetapi nanti di akhirat, amalan kebaikan yang diandalkannya tidak dapat banyak bermanfaat,

Allah berfirman yang artinya,
”Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah:266).

Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma ketika menjelaskan ayat di atas, beliau mengilustrasikan dengan orang kaya yang beramal karena taat kepada Allah, kemudian Allah mengutus setan padanya, lalu orang itu melakukan banyak kemaksiatan sehingga amal-amalnya terhapus (Tafsir Ibnu Katsir).

Oleh karenanya tidaklah pantas diri kita merasa sungkan menasehatinya hanya karena amal ibadahmu belumlah sebanyak dia. Ketauhilah, sebagaimana hadits di atas, amal ibadah sebanyak apapun tidak akan banyak bermanfaat baginya bilamana dirinya masih gemar bergelimang dalam kemaksiatan. Atau engkau merasa belum bisa menyaingi kekayaan mereka ? Atau menganggap dirimu bodoh hanya karena IP-mu di bawah saudaramu ?

Marilah kita merenungkan sejenak sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut,
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang ‘alim (pandai) dalam masalah duniawi namun jahil (bodoh) terhadap masalah akhirat”. (Shahihul Jami’: 1875).

Saudariku…sering kali kita melihat seseorang yang bergelimang dalam kemaksiatan namun Allah Ta’ala memberinya kenikmatan duniawi yang sangat besar dan kemudahan dalam melakukan segala urusannya. Ada yang diberi harta yang melimpah, rumah mewah, mobil bagus, dan lain-lainnya. Namun di sisi lain, kita melihat orang-orang yang dikenal dengan ketaatan pada Allah banyak mendapatkan cobaan duniawi baik berupa kemiskinan, kekurangan uang, penyakit dan lain sebagainya.

Ya… bisa juga dianalogikan dengan keadaan umat Islam kini dibandingkan umat lainnya. Dimana orang-orang yang maju dalam bidang ekonomi, teknologi, perindustrian, dll masih didominasi oleh umat non muslim sedangkan kaum muslimin hanya sebagai penonton dan masih berada dalam keterpurukannya hingga saat ini. Apakah Allah Ta’ala tidak adil dalam memberikan balasan pada hamba-Nya ?

Saudariku…itulah istidroj yang menipu
Kita melihat orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah malah dibukakan pintu rezeki seluas-luasnya serta dimudahkan segala urusan hidupnya. Maka demikianlah hakikat istidroj (dilulu). Allah akan memberi mereka kenikmatan duniawi sehingga mereka akan terus-menerus melakukan kemaksiatan dan mereka merasa aman dari makar Allah. Sampai suatu saat Allah akan membalasnya dengan azab yang sangat pedih setelah dosa-dosa kemaksiatannya bertumpuk. Na’udzu billahi min dzaalik.



Bagi saudara kita yang belum tersadar akan kekeliruannya selama ini, cukuplah dalil di bawah ini menjadi renungan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah ? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf: 99).

Allah juga mengancam orang yang merasa PD melanggar rambu-rambu syariat-Nya dan terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan. Allah berfirman yang artinya,
“Maka serahkanlah kepada-Ku orang-orang yang mendustakan perkataan ini. Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.”
(QS. Al-Qolam: 44-45).

Sebenarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengingatkan kita namun banyak saudara kita yang enggan menghadiri majelis ilmu. Sehingga warisan beliau ini makin asing di telinga kita. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Jika engkau melihat seorang hamba yang senantiasa diberi kenikmatan dunia yang diinginkannya sementara dia senantiasa berada dalam kemaksiatan, maka itulah istidroj.”(HR.Ahmad & Ibnu Jarir).

Lebih tragisnya lagi apabila kita masih saja merasa lalai akan makar Allah. Maka secara tidak sadar kita telah terjerembab ke dalam dosa besar. Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma tentang dosa besar, maka beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.”(HR. Al Bazar & Ibnu Abi Hatim).

Adakalanya sikap lalai ini disebabkan saudara kita berpaling dari agama Allah, lalai dari mengenal Tuhannya serta meremehkan hak-hak-Nya. Akibatnya ia meninggalkan kewajiban dan terus-menerus berbuat maksiat. Sehingga rasa takut, terhadap azab Allah baik di dunia maupun di akhirat, dari hatinya terus berkurang dan keimanan tidak tersisa sedikit pun.

Adakalanya pula disebabkan saudara kita beribadah kepada Allah namun merasa takjub dengan dirinya serta tertipu dengan amal sholehnya. Akibatnya, ia merasa PD ketika bermaksiat karena yakin amal ibadahnya selama ini akan meneggelamkan dosa-dosanya. Sehingga hilanglah rasa takutnya kepada Allah. Ia menyangka telah sedemikian dekat dan berada pada kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Saudariku yang tegar di jalan dakwah…
Terus menerus melakukan maksiat akan mengakibatkan kerasnya hati, jauh dari Allah, dan lemahnya iman. Sebab iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Terus menerus melakukan maksiat juga akan mengakibatkan maksiat tersebut menjadi suatu kebiasaan sekaligus tempat bergantung bagi pelakunya. Sungguh, jika jiwa itu terbiasa dengan suatu hal maka akan sulit untuk berpisah dengannya. Jika ini telah terjadi pelaku maksiat akan sulit melepaskan diri dari maksiatnya dan setan akan membukakan untuknya pintu-pintu kemaksiatan lainnya yang lebih besar dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Oleh sebab itu, ahli ilmu dan ahli akhlak berkata: “Sesungguhnya kemaksiatan adalah pengantar kekafiran, di mana seseorang akan berpindah-pindah dari satu maksiat kepada maksiat lainnya, setahap demi setahap sampai ia berpaling dari agamanya.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik dan keselamatan kepada kita semua. {Majaalis syahri Ramadhan, Pengajar Syari’ah dan Ushuluddin Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah dan anggota Majelis Kibarul Ulama (MUI-nya Kerajaan Saudi Arabia), Fadhilatu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Di samping itu jika kita tidak hati-hati, dalam kehidupan yang kini serba permisif, maka kita akan jatuh pada sikap meremehkan ajaran agama ini. Di mana beberapa sebab pembatal keislaman, sebagaimana rukun islam yang lain rukun syahadat juga memiliki pembatal, di antaranya adalah :
1. Berbuat syirik dalam beribadah kepada Allah.
2. Menjadikan wasa’ith (perantara) antara dia dan Allah.
3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu dengan kekufuran mereka, atau bahkan membenarkan madzhab mereka.
4. Meyakini bahwa selain ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam itu lebih sempurna daripada ajaran beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.
5. Membenci sedikit saja, dari syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
6. Melecehkan –sekalipun sedikit dari- dari agama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
7. Melakukan perbuatan sihir.
8. Membantu kaum musyrikin dan menolong mereka untuk menghancurkan kaum muslimin.
9. Meyakini bolehnya bagi seseorang keluar dari syari’at Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
10. Berpaling dari agama Allah.
(Risalah Mufti ‘Am Kerajaan Saudi Arabia dan Pimpinan Majelis Kibarul Ulama serta Ketua Dewan Divisi Penelitian Ilmiah dan Komisi Fatwa, Syaikh Abdul Aziz bin Baz).

Kriteria pembatal keislaman di atas bukanlah dimaksudkan untuk bermudah-mudahan dalam mengkafirkan saudara kita. Namun, semata-mata dilandasi rasa sayang dan kasihan. Jangan sampai mereka terus-menerus meremehkan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ini. Jika masalah ini tetap diremehkan maka dikhawatirkan mereka akan termasuk golongan pada point ke-4 atau ke-5.

Keberanian mereka melakukan perbuatan yang dilarang oleh syari’at ini tentunya dilandasi anggapan bahwasanya mereka lebih tahu daripada Rasululllah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tentang jalan hidup yang bagaimanakah yang harus ditempuh. Inilah akibat globalisasi dimana budaya negatif dari barat pun ikut masuk mencemari gaya hidup kaum muslimin. Mereka beranggapan bahwa gaya bergaul yang efektif dan efisien dalam bersosialisasi adalah dengan menyerupai gaya pergaulan bebasnya remaja bule ala dawnson creek. Kalau di Indonesia mengikuti gaya bergaul di sinetron-sinetron remaja yang pernah ngetop atau lagi digandrungi, seperti cinta fitri atau cahaya.

Saudariku yang dicintai Allah…
Dalam kehidupan ini kita akan senantiasa dikelilingi oleh orang yang menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, tak terkecuali saudara kita yang merasa butuh bergaul dengan lawan jenis. Namun sayangnya tanpa memperhatikan batasan syari’at. Entah apakah karena beranggapan bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak atau beranggapan bahwa amalan-amalan shalih mereka sudah begitu melimpah. Sehingga pahala yang mereka kumpulkan pun sudah begitu menggunung.

Apakah shalat-shalat sunnahnya, shalat malamnya, puasa sunnahnya, infaqnya, kegiatan dakwahnya selama ini dan seterusnya dari amalan-amalan shalih yang mereka kerjakan akan seperti lautan yang akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan ? Sehingga, tanpa risih, merindukan kedatangan teman lelakinya untuk menengoknya di pondokan. Kemudian asyik berlama-lama bercengkerama dengannya di bawah naungan sinar lampu beranda pondokan.

Padahal sudah jauh-jauh hari para ulama kita talah mengingatkan umatnya agar terhindar dari bahaya pergaulan bebas ini. Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘azza wa jalla, inilah yang kekal selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Apakah dinamakan cinta karena Allah jika kita mengharuskan adanya perjumpaan, berboncengan, atau bercanda gurau dengan menerjang rambu-rambu syari’at. Tentunya tidak hanya satu dari saudara kita dalam satu pondokan, baik yang telah mengikuti proses tarbiyah maupun yang belum tersentuh hidayah, masih ada yang belum yakin bahwa perhatian kaum kami yang hakiki adalah setelah menikah? Memang nampaknya jalan menuju ke sana tidak jelas dan butuh kesabaran ekstra. Apalagi kita dikejar usia yang semakin uzur. Sehingga akan membuat kaum hawa khawatir akan penampilannya yang semakin pudar.

Ditambah lagi dengan kondisi keluarga yang memprihatinkan dimana ayahanda sakit-sakitan atau bahkan telah lama ditinggal oleh salah satu atau kedua ortu sekaligus. Sehingga iblis akan mendatangi lalu membisikkanmu untuk segera memperoleh tambatan hati walaupun harus menabrak rambu syari’at. Sebab dengannya masa depanmu akan nampak “jelas” dan “pasti”. Ditambah lagi kondisi kejiwaan kita, baik ikhwan atau akhwat, yang membutuhkan tempat berbagi/perhatian dari orang lain.

Apalagi bagi mereka yang berada jauh dari orang tua dimana hari-harinya diliputi kesedihan yang mendalam tatkala teringat ortunya di seberang laut/sungai. Ketika kami menampakkan diri di hadapanmu sebagai sosok pribadi yang peduli dan perhatian secara “tulus” akan segala masalah kehidupanmu maka engkau dengan serta-merta menganggap telah memperoleh tempat untuk berbagi segala beban kehidupanmu dalam perantauanmu ini.

Saudariku…seringkali kata sabar didengung-dengungkan setiap kali menghadapi segala ujian kehidupan tidak terkecuali ujian ini. Tetaplah bersabar dan ridho dengan keputusan Allah dan berserah diri kepada-Nya. Hindarilah mencari jalan pintas dengan menabrak rambu syari’at-Nya. Sebab salah satu tanda hilangnya iman dalam diri ini ialah ketidak sabaran dalam menjalani ketaatan kepada Rabbnya.
Imam Ahmad mengatakan, “Sabar disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak lebih dari 70 ayat. Kaitan sabar dan iman seperti halnya kedudukan kepala dan jasad. Seseorang yang tidak sabar dalam melaksaknakan ketaatan, dalam menjauhi kemaksiatan serta ketika tertimpa musibah maka ia sudah kehilangan sebagian besar dari imannya.”
(Kitab At-Tamhid: 391).

Sejatinya kesusahan bagi seorang muslim merupakan kebaikan jika dia bersabar. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim).

Namun masih banyak yang tidak setuju dengan perjodohan atau ta'aruf yang hanya mengenal beberapa hari saja. Alasannya pernikahan itu sakral dan untuk selama-lamanya. Jadi mesti hati-hati memilih pasangan hidup.Sehingga akan bermunculan problematika seperti ini, bagaimana bisa memahami karakter masing-masing calon kalau hanya bertemu sesekali ?
Atau yang lainnya seperti,
Dalam pergaulan sehari-hari, tentunya kalian berkepentingan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, berkomitmen untuk menikah nanti setelah semua cita-cita pribadi maupun harapan orang tua tercapai, tetap menjaga tanpa adanya kontak kulit, dan dalam pertemuan hanya sebatas cerita untuk mengenal satu sama lain, apakah hubungan kayak gini tetap nggak boleh?

Terbiasanya umat ini dengan gaya bergaul tanpa mengindahkan syari’at mengakibatkan semakin dilupakannya akhlak Islami yang mestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya daripada syari’at Allah yang mengharamkanya. Orang yang berpegang teguh pada agama ini malah dikatakan kuper, lugu, kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali silaturrahim, dan sebagainya.

Saudariku…sekali lagi janganlah engkau tertipu dengan kata-kata manis dari kami karena sesungguhnya Allah Ta’ala belumlah menampakkan aib/topeng kami di hadapanmu.

Oleh karenanya perhatian kami terhadap kalian sebelum menikahlah yang haruslah diwaspadai karena dibangun di atas dusta dan kebohongan. Kami telah mengemasnya sedemikian rupa semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya.

Bukankah Islam tidak mengenal pacaran ? Bukankah Islam menganjurkan nikah dulu baru cinta, bukan cinta dulu baru nikah. Kemudian kalau mereka mengatakan bahwasanya pacaran itu supaya tahu pacarnya, maka perlu diketahui bahwa pacaran itu bukan ukuran. Kebanyakan diantara mereka setelah menikah baru masing-masing tahu aslinya sehingga tidak jarang diantara mereka setelah lama berpacaran, 4 tahun pacaran, baru menikah satu tahun sudah bubar gara-gara mereka telah bercinta dulu sebelum menikah sehingga ketika menikahpun cinta mereka telah habis.

Jadi solusi yang benar adalah menikah dulu, kemudian setelah menikah baru bercinta. Namun ketika sebelum menikah ada proses-prosenya dulu, yaitu saling tukar menukar
biodata, kemudian banyak tanya bagaimana akhlaknya, agamanya, setelah semuanya cocok, sholat istikharah terlebih dahulu, lalu bermusyawarah, kemudian juga nadhor
(melihat calon pasangannya), baru nikah. Jikalau engkau mau sedikit berfikir maka perhatian kami yang tulus terhadapmu hanyalah bisa dibuktikan dengan menikahimu. Kemudian pasti akan timbul sakinah, kedamaian ketentraman dan didalamnya ada mawadah warahmah (cinta dan kasih sayang) yang sejati.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Rum: 21).

Sekali lagi percayalah janji Allah yang akan mempertemukan kalian dengan pasangan yang sesuai dengan kapasitas kalian. Sengaja mempromosikan diri sebagai sosok wanita yang senang menyerempet syariat-nya. Maka secara tidak langsung kalian minta dijodohkan oleh-Nya dengan pasangan hidup yang seperti itu pula. Apakah yang itu yang diidam-idamkan oleh kalian selama ini ? Na‘udzubillahi min dzalik.

Allah telah mengingatkan hamba-Nya agar senantiasa memperbaiki diri masing-masing. Agar dijauhkan darinya pasangan hidup yang keji. Sebagaimana Allah telah berfirman yang artinya,
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laik-laki yan keji, dan laki-laki yan gkeji untuk perempuan-perempuan yang keji(pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (QS. An-Nur: 26).

Bukankah sudah banyak contoh keluarga selebritis yang hancur berantakan padahal mereka telah berpacaran sebelum akad pernikahan. Bahkan telah sampai tahapan hubungan layaknya suami istri (bersentuhan, berpelukan, pegang-pegangan, cubit-cubitan, senggol-senggolan hingga perzinaan) lalu berikrar akan setia satu sama lain sampai ajal menjemput.

Apakah itu semua belum cukup untuk dijadikan bahan pelajaran atau cukupkah hanya sebagai bahan renungan belaka?

Saudariku yang budiman…
Ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini merupakan fitrah (insting) yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang diinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran : 14)

Tentunya ukhti dan saudara-saudaramu di pondokan telah meyakini bahwa agama ini adalah agama yang sempurna. Dimana di dalamnya telah diatur seluk beluk kehidupan manusia mulai dari adab buang air hingga hukum ketatanegaraan. Termasuk juga bagaimana pergaulan antara lawan jenis yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat, di antaranya:

Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Apakah hal ini pernah kami, para lelaki, lakukan ketika berduaan denganmu ? Sebagian besar kita beralasan bahwa hijabnya di hati. Jadi kalau nggak ada perasaan apa-apa dengannya maka tidak perlu menundukkan pandangan. Kok dengan lancangnya diri ini berani men-tazkiyah/menganggap lebih suci dan sholeh dibandingkan para sahabat nabi atau istri-istri beliau.

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 30).
“Dan katakanlah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 31).

Kemudian apakah jika kami berduaan denganmu ditemani cahaya lampu beranda tidak melanggar syari’at. Lebih ngerinya lagi jika ini “terpaksa” dilakukan oleh seorang muslimah, ia akan mencari-cari orang/teman kosnya untuk dijadikan mahrom-mahroman. Bukankah ini termasuk berdusta atas nama agama dan ia sedang menyelisihi perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam demi mengikuti bisikan setan serta tercapainya tujuan pribadi.



Padahal Allah telah berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. Dan baginya siksa yang menghinakan”
(QS. An-Nisaa’: 14).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 21).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah setan (HR. Tirmidzi, 3/474 misyakatul mashabih, 3188).
{Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Praktis bagi Kehidupan Modern}

Memangnya kalau sudah tumbuh benih-benih cinta diantara kita engkau dapat menjamin kami tetap akan menampakkan kesopanan, kesholehan, dan rasa malu yang tinggi, sebagaimana dulu kita pertama kali berjumpa. Dapatkah engkau menjamin bahwa kami, yang nampaknya bertanggung jawab ini, tidak akan minta “yang macam-macam”, sebagai pembuktian rasa cinta ?

Walaupun sebenarnya kami sadar hal itu dilarang oleh agama ini. Namun, yang namanya iblis, dengan pengalamannya yang berabad-abad, akan senantiasa berusaha membuat indah dan mulus jalan kemaksiatan. Ditambah lagi bertumpuknya kemaksiatan di dalam hati kami telah menyebabkan dominasi maksiat terpatri dalam hati dan membuat kami cenderung dan terikat pada maksiat tersebut.

Saudariku yang senantiasa menjaga malu…
Kemaksiatan akan memadamkan cahaya berupa ilmu yang telah dikaruniakan oleh Allah di dalam hati. Imam Syafi’i menceritakan pengalaman pribadinya kepada gurunya dalam bait syair berikut:

Aku mengadu kepada imam Waqi’ tentang jeleknya daya hafalku
Maka ia mengarahkanku agar meninggalkan maksiat.
Ia berkata, “Ketauhilah, sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya,
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat.

Oleh karenanya saudariku…seringnya mengulangi perbuatan maksiat sehabis bertobat akan semakin melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta kepada selain-Nya dalam hati ini. Bahkan lemahnya iman dapat menguasai dan mendominasi diri ini sehingga tidak tersisa dalam hati ini tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa.

Pengaruh iman tidak akan terasakan dalam melawan dorongan jiwa, menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya diri ini akan semakin terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat. Sehingga noda hitam dosa menumpuk di dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati.

Lalu dapatkah engkau menjamin keakaraban kita mampu menahan kami untuk tidak menyentuhmu. Tentu saja hal ini tidak termasuk dalam larangan tersebut, hal-hal yang bersifat darurat dibutuhkan atau yang terjadi pada tempat ibadah seperti di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ketika kedua tempat tersebut penuh sesak terutama ketika musim haji tiba.

Menyentuh saja dicegah apalagi sampai cubit-cubitan. Ini dikarenakan menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan).

Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga sampai bersabda, “Sungguh jika seorang pria disentuh oleh seekor babi yang berlumur tanah dan Lumpur, itu lebih baik baginya dari pada bila pundaknya disentuh oleh pundak wanita yang tidak halal baginya.”(HR. Ath-Thabarani).

Mengapa masih ada saudara sepondokan, baik yang paham syari’at Islam maupun jahil terhadap agama ini, dengan santainya nekat menyerempet rambu-rambu syari’at. Dengan beralasan bahwa kami masih mampu kok menjaga hati atau beranggapan amalan ibadahnya sudah menggunung dan Allah Maha Pengampun sehingga berkenan melebur dosa-dosanya ? Padahal Allah sudah mengingatkan hamba-Nya untuk tidak coba-coba mendekati jalan-jalan menuju zina. Serta bukankah Allah telah mengingatkan kalian akan ketidakhalalan gaya bergaul semacam ini.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra’: 32).
”Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar mas kawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan pacar. Barang siapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia-sia amal mereka dan di Akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 5).
Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka usaha kami untuk menjadi “pelindungmu” dapat diibaratkan orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja kami bisa masuk. Bukankah saat berpacaran kami tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang ? Bukankah denganmu kami sering melembut-lembutkan (ini kalo belum akrab) suara di hadapanmu ? bukankah kami akan senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaanmu ? Maka farji pun akan segera mengikutinya.
Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Allah tidak menjadikan mata itu sebagai cermin hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat…” Beliau juga menuturkan, “Dalam hadits shahih disebutkan bahwa :

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak Adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustaknnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Tentunya akan sulit bagi iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian saudara kita sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia, baik aktivis muslim maupun orang awam, dengan segenap upayanya. Jangan lupa ia didukung bala tentara yang sudah professional karena ditunjang pengalaman yang berabad-abad dalam hal menggelincirkan umat ini ke dalam jurang kemaksiatan.
Iblis telah bersumpah yang artinya,“Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya.”(QS. Shaad: 82).

Kalaulah iblis tidak berhasil merusak agama seseorang dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran cipika-cipiki, mungkin cukuplah bagi iblis untuk bisa tertawa dengan membuat kita berpacaran lewat telepon, SMS atau yang lainnya.

Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang masalah agama kepada lawan jenisnya (Hal ini kami lakukan semata-mata untuk menunjukkan kepadamu bahwa kami adalah sosok pribadi yang peduli akan perbaikan agama dan akhlak), saling pinjam meminjamkan buku agama (kalau diserap ilmunya masih mendingan, lha kalau cuma jadi teman tidur kan lebih parah), peduli kondisi ruhiyah- mu misalnya dengan mengirim tausiyah lewat media SMS atau lainnya, miss called atau meng-SMS-mu untuk bangun shalat tahajjud dan lain-lain.

Oleh karenanya Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memerintahkan orang-orang mukmin agar tetap menjaga dirinya agar tidak tergelincir dalam bahaya ini meskipun dirinya sudah merasa sholeh. Sebab Allah Ta’ala selalu menyaksikan amal perbuatan mereka,
“Dia mengetahui (pandangan)mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19).

Tatkala seseorang terbiasa melakukan dosa dan hatinya telah tertutupi oleh karat kemaksiatan. Maka ia pun tidak lagi merasa risih terhadap pandangan dan gunjingan orang atas kemaksiatannya. Dia bahkan merasa bangga atas perbuatan kemaksiatannya dan dengan PD nya ia akan berkata, “Wahai fulan, aku telah berbuat begini dan begini!.” Manusia macam inilah yang tidak diampuni dosanya dan menjadi sempitlah jalan taubat atas dirinya sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap umatku akan dimaafkan kecuali bagi orang yang terang-terangan melakukan dosa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ada sebagian di antara kita beralasan ketika diingatkan akan bahaya pergaulan di atas, “Pergaulan semacam ini nggak masalah, yang penting kan hati tetap terjaga karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa maupun tubuh kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

Walaupun hati ini adalah raja, terkadang tanpa disadari, hati dapat terbelenggu dengan berbagai macam keinginan dan tujuan hidup pemiliknya. Orang yang sangat cinta harta misalnya, akan menjadikan seluruh tujuan hidupnya demi mendapatkan harta.

Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak qothifah (sejenis kain beludru). Sungguh ia celaka dan sakit. Apabila dia tertusuk duri maka tidak akan tercabut. Jika dia diberi, merasa ridho, namun, jika tidak, dia marah.”(HR. Bukhari).

Setiap amal yang kita lakukan, baik buruknya merupakan cerminan dari hati kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…ketauhilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Namun, jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketauhilah, bahwa ia (segumpal daging tersebut) adalah hati.” (HR. Bukhari).

Ketauhilah wahai saudariku, Allah terkadang menghukum kita misalnya dengan penyakit, baik yang dirasakan langsung diri kita maupun yang menimpa keluarga kita. Ingatlah itu semua disebabkan atas dosa dan kesalahan kita!!!. Janganlah menyalahkan-Nya, salahkan saja diri yang hina ini.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”( Asy-Syuura: 30).

“Dan Kami tidaklah menganiaya diri mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Hud: 11).

Allah akan terus-menerus memberi teguran atas banyaknya dosa dan maksiat yang kita lakukan. Sebagaimana Allah telah berfirman yang artinya,

“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (QS. Al Ahqof: 27).

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya -:
Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina.



Maka masihkah engkau ingin saudara serumahmu menjadi bagian dari mereka wahai saudariku ?
Tentunya engkau menginginkan turunnya kecintaan dan pertolongan Allah kepada seluruh penghuni rumah, bukan ? Oleh karenanya dalam hal ini Allah mensyaratkan melalui lisan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah hanya dapat diperoleh dengan hal tersebut. Seorang hamba tidak akan merasakan nikmat iman, sekalipun banyak shalat dan puasa, sehingga bersikap demikian.”
(HR. Ibnu Jarir).

Namun, sangat disayangkan sekali keadaan di pondokan. Dimanakah rasa wala & bara’ (cinta dan benci) kita tempatkan ? Apakah kita tetap merasa sama saja. Baik itu bergaul dengan pelaku kemaksiatan maupun dengan teman liqo. Sehingga tidak ada usaha sedikitpun dari kita untuk mengingatkannya. Akibatnya dapat ditebak, mereka seakan-akan tidak merasa bersalah. Karena tidak ada saudara sepondokannya yang menegur perilakunya selama ini

Memang mencintai lawan jenis merupakan sebuah kewajaran, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga demikian. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Kesenanganku dijadikan di dalam shalat. Dan aku dijadikan menyenangi wanita serta wewangian.” (HR. Muslim).

Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah ketika menghadapi fitnah syahwat. Oleh karenanya janganlah engkau tertipu oleh penampilan kami, para lelaki, layaknya orang yang sholeh terlebih-lebih terhadap orang awam(jahil akan agama ini). Walaupun dhohir- nya kami kelihatan sopan dan bertanggung jawab namun itu semua akan segera pupus dan tampaklah wajah asli kami tatkala engkau telah berada dalam gengaman kami.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisaa’ : 28). Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah tidak sabar dalam menghadapi wanita.” (Roudhotul Muhibbin).

Maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersabar, bersabar dan bersabar. Sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhi dosa-dosa. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang mengatakan bahwa sabar adalah terus menerus sampai seseorang menapakkan kakinya di Surga kelak.

Ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu tentang makna takwa, Abu Hurairah radhiallahu'anhu kemudian bertanya kepada orang tersebut, Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri? Ia menjawab, Ya pernah. Abu Hurairah radhiallahu'anhu bertanya lagi, Apa yang engkau lakukan, Ia menjawab, Jika aku melihat duri maka aku menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya, Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, seperti itulah takwa.

Akan lebih bijak apabila kemaksiatan di pondokan tersebut diselesaikan oleh kaummu sendiri( ibu kos atau teman-teman satu kos). Sebab akan lebih mengena dan tidak menimbulkan prasangka negatif terhadap kami dari si pelaku kemaksiatan tersebut, baik dari kaum kami maupun dari kaum hawa.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim: 6).

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata tentang ayat ini “Ajarilah mereka (keluarga kalian) tentang adab dan ilmu”. Sedangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan “Lakukan ketaatan kepada Allah dan tinggalkanlah maksiat kepada Allah! Dan perintahkan keluarga kalian untuk zikir, supaya Allah menyelamatkan kalian dari siksa neraka”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Saudariku yang sedang menghadapi ujian kehidupan…
Munculnya fenomena di atas di kalangan kaum terpelajar, baik berstatus aktivis maupun bukan, tentunya bukan saja tanggung jawab pemilik pondokan untuk mengingatkan penghuninya untuk tidak melakukan kemaksiatan terselubung tersebut. Namun amar ma’ruf nahi mungkar ini sudah menjadi tanggung jawab segenap penghuni, baik pemilik maupun anak kos. Apabila seseorang telah menganggap remeh suatu dosa, ketahuilah saudariku bahwa, sesungguhnya dia telah terpedaya oleh iblis, walaupun mereka telah banyak beramal dengan amalan-amalan ketaatan.

Maka bukanlah dikatakan takwa jika seseorang sengaja menerjang rambu-rambu syariat, mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atau meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya.

Saudariku yang senantiasa menjaga kesholehan sosial…renungkanlah hadits ini…
Tsauban radhiaallahu'anhu meriwayatkan sebuah hadits yang dapat membuat orang-orang shalih susah tidur dan selalu mengkhawatirkan amal-amal mereka. Tsauban radhiaallahu'anhu berkata, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan, Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!, Beliau bersabda, Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya.
(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh AlBani dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)

Saudariku, masihkah kita merasa bangga dengan status kita sebagai aktivis muslim namun kita tidak pernah merasa miris ketika mengetahui ada saudara seiman, sepondokan,atau seangkatan maupun yang tidak seangkatan yang sengaja menjatuhkan dirinya dalam pergaulan tanpa batasan syar’i ?

Apakah ilmu teman-teman sepondokan selama ini hanya berguna bagi organisasinya saja dan mengacuhkan kondisi pergaulan di pondokannya. Kami menyadari kesibukan ukhti baik sebagai mahasiswi maupun sebagai aktivis dakwah. Namun bukankah tidak ada salahnya kami meminta secuil pengalamanmu dalam berdakwah di kampus/masyarakat. Demi kondisi pondokan yang lebih baik di masa depan. Amiin.

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,
“Dan haruslah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104).

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat, dan tiap-tiap masa semangat ada masa lelahnya maka barangsiapa lelah letihnya karena melaksanakan ajaranku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa lelah letihnya bukan karena melaksanakan ajaranku, maka dia termasuk orang yang binasa.” (HR. Hakim dan Al Baihaqi).

Kami yakin ukhti telah mengingkarinya dengan hati. Kini saatnya kalian bersama pemilik pondokan berusaha mencegah kemaksiatan yang dilakukan oleh sesama penghuni kos melalui lisan. Kemudian tanggung jawab pemilik pondokanlah untuk menindak lanjuti penghuni yang nakal tersebut dengan kekuasaannya.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka hendaklah ia mengubah dengan lisan, serta kalau ia tidak sanggup maka hendaklah ia mengubahnya dengan hati, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Saudariku…kuingin berbagi kebiasaan kaum kami dalam berhubungan dengan kalian. Beberapa contoh riil di bawah ini kami sampaikan semata-mata bertujuan agar saudari kita dalam pondokan mampu melepaskan diri dari jeratan teman-teman kami, para serigala berbulu domba. Apakah beberapa manuver ini pernah ukhti alami ?

Kami senang sekali bercakap-cakap dengan kalian, entah itu dalam urusan tugas kuliah maupun untuk sesuatu yang nampaknya dipaksakan baik itu secara langsung maupun via telepon. Bila tidak ada urusan pun kami akan berusaha mencari-cari celah agar dapat berjumpa denganmu atau sekedar mengobrol satu atau dua menit. Sebenarnya kami sadar Allah merekamnya demikian juga setan dari jenis jin maupun manusia pun ikut membuat suasana pertemuan itu semakin nyaman dan akrab.

Sebagaimana salah satu firman-Nya,
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12).

Kami, para petualang cinta, akan terus menggunakan sarana ini sebagai alat untuk semakin mengenalkan diri kami kepada kalian. Agar kalian semakin akrab, rindu, dan betah bergaul dengan kami. Kondisi semacam ini dapat diqiyaskan juga ke dalamnya chating. Tentunya chating yang tiada ujung pangkalnya dan hanya membuang waktu semata. Apalagi sekarang telah ada teknologi messenger yang didukung oleh perangkat webcam. Pastinya semua itu akan semakin menambah nyaman bagi kami.

Memang di kajian-kajian kami sering diingatkan akan bahaya ini.
Sebagaimana yang disabdakan Beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam,
”Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim).

Namun, itu semua sepertinya menguap begitu saja tatkala wanita yang menjadi incaran kami ada di hadapan mata. Apalagi di era globalisasi sekarang ini ketika arus informasi dengan mudahnya diakses. Cukup dengan mengklik tombol, si dia pun hadir di hadapan kami. Terpaan syubhat teknologi inilah yang tidak dapat kita bendung sehingga menggiring kita semakin terlena akan godaan ini.
Jika kita acuhkan maka pastilah kita akan dikucilkan oleh teman sepermainan dan dianggap nggak gaul, kuper atau gaptek (gagap teknologi).

Langkah selanjutnya, seiring dengan kemajuan teknologi. Dimana bertebaran tempat-tempat foto kilat di pusat perbelanjaan yang biasa digunakan kaum muda-mudi untuk mengekspresikan persahabatannya. Demikian pula munculnya software pengolah gambar serta hp dengan fasilitas foto mutakhir akan semakin memudahkan kami untuk menyalahgunakannya.

Oleh karenanya Saudariku …janganlah engkau bermudah-mudahan mau difoto oleh kami atau memfoto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan celah bagi kami, para serigala manusia, untuk berusaha menerkammu.

Selain itu kami sangat senang apabila engkau membalas “sinyal” dari kami. Entah itu berwujud sms,telpon,email atau respon apapun tergantung kecanggihan teknologi saat itu. Terutama yang bersifat tidak penting atau sekedar iseng. Kami anggap itu adalah salah satu bentuk perhatian darimu. Oleh karenanya berhati-hatilah dalam memberi respon balik karena hal itu akan membuat kami semakin “terbang jauh di awan”. Dan merupakan sarana efektif yang akan kami gunakan untuk semakin mengakrabkan “ukhuwah” kita ini.

Saudariku…kami juga sangat berharap engkau merasa diperhatikan oleh kami. Terutama sekali di saat-saat momen spesial dalam hidupmu. Entah itu dengan kunjungan ke kosmu, mentraktirmu (kalau mangsa udah kecantol biasanya gantian yang ntraktir tergantung momennya), menemanimu shopping, menghadiahkanmu sesuatu yang tidak engkau duga-duga atau sekedar mengirimkan ucapan bernada “kepedulian sosial” via telepon. Namun…kalaulah isi dompet atau jarak membatasi kita cukuplah kukirim salam hangat via SMS atau e-mail.

Saudariku yang tegar menghadapi godaan…
Dalam bergaul dengan lawan jenis tentunya kami akan menyerumu dengan kata-kata puitis yang bernada menghalalkan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan, menampakkan keramahan, kesholehan, kejujuran dan keikhlasan, menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu serta berlemah lembut dalam pembicaraan.

Kami juga memahami engkau lebih suka bergaul dengan teman sharing yang humoris dan open minded. Sehingga kami pun akan berusaha semaksimal mungkin membahagiakanmu dengan gurauan yang kami miliki. Semata-mata ingin membuatmu betah & nyaman berteman bersama kami. Biasanya dalam bergaul denganmu kugunakan perkataan yang nampaknya menyakitkanmu namun sejatinya untuk menggodamu. Tentunya jikalau engkau bijak akan engkau dapati kata-kata aneh namun lucu dariku, seperti si jelex, cerewet, atau mengubah-ubah namamu menjadi bahan candaan. Inti dari semua itu ialah menjadikan suasana pertemuan kita tidak garing dan terus mengalir. Hingga waktu memisahkan kita.

Yang terpenting bagi kami di hadapanmu ialah kami akan senantiasa berusaha tampil perfect dan bersikap sebagai pelindungmu, dalam segala hal. Namun sejatinya kami mengkhianati keluargamu dengan semua topeng kemunafikan di atas,baik itu dengan jalan meneleponmu, mengirimkan sms tausiyah, me-missed call-mu agar bangun untuk shalat malam, mengajakmu jalan bersama atau mengantarkanmu ke manapun tujuanmu dengan motor (berboncengan) atau mobil dan segala kebusukan lainnya.

Sungguh kami melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuk yang pasti akan tampak jelas hanya bagi orang yang memikirkannya. Akankah kami benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara kami mengajakmu bercengkerama, berjumpa dan jalan/berboncengan bersama, tanpa ada batasan syari’at di dalamnya, padahal engkau belum halal bagi kami ? Percayalah bahwasanya hawa nafsu telah merasuki pikiran kami untuk meminta waktumu agar dapat berjumpa/ bercengkerama/ ber –kholwat denganmu. Berhati-hatilah karena saat itu kami bukanlah sosok pribadi yang engkau kenal. Namun telah beralih menjadi lebih sesat daripada hewan ternak.

Sebenarnya Allah telah mengingatkan umatnya akan bahaya bermain-main dengan hawa nafsu.
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS. Al Furqan: 43-44).

Saudariku… teguhkanlah hatimu untuk tetap tidak tergoda bujuk rayu kami.
Ibunda kaum muslimin ‘Aisyah radhiyallahu‘anha menceritakan, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam sering kali memanjatkan doa, “Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa tha’aatik” (Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hati hamba untuk senantiasa taat kepada-Mu).
Melihat sikapnya itu maka ‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Anda sering sekali memanjatkan doa ini. Apakah Anda juga merasa khawatir ?” Lalu beliau pun bersabda,

“Apakah yang dapat membuatku merasa tenang wahai ‘Aisyah, sementara hati-hati manusia itu berada di antara dua jari-jemari Ar-Rahman. Dia membolak-balikkan hati menurut kehendak-Nya. Apabila Dia ingin membalikkan hati seorang hamba maka Dia pun membalikkannya.”
(HR.Ahmad, Ibnu Abi’Ashim, Abu Ya’la, dan Al Ajurri. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Zhilalul Jannah).

Kalau Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam saja seperti ini maka bagaimanakah lagi dengan kita ? Oleh karenanya mohonlah kepada Allah untuk tetap teguh di atas jalur ketaatan. Agar engkau terhindar dari manuver dan kata-kata manis dari kaum kami. Yang tidak ada obat manapun yang mampu menyadarkanmu bila telah terbius olehnya. Terkecuali berobat dengan apa-apa yang telah diajarkan Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan wasiat para ulama.

Munculnya kerinduan akan kasih sayang dari lawan jenis tentunya tidak akan muncul begitu saja. Semuanya butuh proses tidak terkecuali masalah yang satu ini. Bacaan, tontonan televisi, serta dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela (harus difilter dg sudut pandang ilmu syar’i, ada nggak sih manfaatnya), merupakan akar dari tumbuhnya pohon cinta. Engkau akan dapati di dalamnya zat, yang lebih hebat daya pengaruhnya dibandingkan racikan kimia terbaik buatan manusia manapun, yang akan membiusmu perlahan-lahan tanpa engkau sadari. Racun itu menyelinap di antara indahnya halaman tabloid yang warna-warni, suguhan tayangan yang memanjakan mata untuk tetap menontonnya, serta kertas majalah yang halus mengkilap dan wangi.




Murid Ibnu Taimiyah yaitu Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengemukakan enam tahapan yang dilalui setan dalam menyesatkan dan memperdaya manusia.
Tahap pertama ialah pengkafiran atau pemusyrikan manusia. Kalau yang diajaknya itu muslim, yang beriman teguh, tidak dapat dikafirkan, dan tidak dapat dimusyrikkan, setan melangkah ke tahap kedua.
Tahap kedua ialah pembid’ahan.
Kalau yang didakwahi setan ini orang yang kokoh dan istiqomah pada ajaran Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam, setan akan melangkah pada tahap ketiga.
Tahap ketiga yaitu menjebak orang Islam kepada kaba’ir (dosa-dosa besar).
Kalau yang bersangkutan beriman teguh. Setan tidak pernah berputus asa. Ia segera beralih ke tahap keempat.
Tahap keempat yaitu menjebak manusia dengan dosa-dosa kecil.
Kalau masih gagal, setan segera melangkah ke tahap kelima.
Tahap kelima yaitu menyibukkan manusia kepada masalah-masalah yang mubah (boleh). Sehingga yang bersangkutan menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang mubah, yang dampaknya, lupa menunaikan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah Ta’ala. Misalnya: Frekuensi membaca/mendengarkan Al Quran lebih sedikit daripada aktivitas menonton film/membaca novel. Kalau tahap kelima ini tetap gagal juga, setan akan melanjutkannya ke tahap keenam.
Tahap keenam yaitu menyibukkan manusia dalam urusan-urusan kurang bermanfaat atau yang manfaatnya lebih kecil sehingga dampak persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik jadi tertinggalkan dan terabaikan. Misalnya, sibuk dengan amalan sunnah sehingga amalan wajib tertinggalkan.

Saudariku yang senantiasa menjaga kehormatan dan martabat wanita…
Apakah pemilik pondokan atau ukhti bersalah, jika di pondokannya, menginginkan penghuninya memilih tayangan yang bermutu serta menjauhi infotainment, program acara, sinetron-sinetron,dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita.Dimana tinggi rendahnya nilai seseorang harus ditunjukkan dengan besar kecilnya rasa sayangnya kepada kekasihnya. Atau apakah berdosa mematikan akses ke televisi agar penghuni atau saudaranya menjauhi semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malunya.

Tentunya semua itu harus dilakukan dengan niat ikhlas berdakwah lillahi ta’ala serta penuh hikmah agar mereka segera sadar akan kekeliruannya selama ini.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

Pada tafsir surat Al ‘Ashr, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (dakwah dan sabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat-empatnya, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar”.
(Taisiir Karimir Rohman).





Yakinlah selama jalan yang kita tempuh berada di koridor-Nya, Insya Allah, Allah akan senantiasa memudahkan segala urusan orang yang menolong agama-Nya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(QS. Muhammad: 7).

Menolong agama Allah Ta’ala tentunya bukanlah dengan jalan menjadi aktivis di lembaga dakwah kampus atau istiqomah beramal tetapi masih hobi melanggar ketentuan-Nya. Tolonglah agama ini dengan melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembayang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar.” (QS. Al-Hajj: 40-41).

Dari ayat di atas terlihat jelas bahwa sebab terbesar datangnya pertolongan Allah adalah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara bentuk mentaati Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mempelajari dan memahami agama ini. Paham akan segala konsekuensi yang kelak kita terima apabila berani melanggar larangan-Nya. Serta bertekad meninggalkan kemaksiatan yang biasa dahulu dilakukan semasa masih jahil terhadap agama ini.

Sekali lagi kami memohon pertolongan saudariku, yang telah lebih dahulu memperoleh hidayah, untuk segera menjauhkan pondokan ini dari azab Allah. Tentunya dengan jalan tidak membiarkan saudari kita semakin terlena atas perbuatannya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’rof: 96).

Allah Ta’ala juga berfirman, “Jika kamu (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. AL-Anfal: 73).

Saudariku…ingatlah kita adalah perantau…
Kenikmatan hidup seringkali membuat kita lupa diri dan tidak tahu diri. Sehingga kita lupa dimanakah tujuan akhir hidup ini dan akan kemanakah kita !!!
Dan untuk apa kita dihidupkan oleh-Nya di muka bumi ini.
Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim)




Bagaimana saudariku? Apakah hatimu tergetar mendengar hadits ini? Kalau seandainya tidak, maka engkau adalah manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka.

Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah kita berikan untuk Islam dan kaum muslimin ? Mereka dihina, dimusuhi, dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal, lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada Allah” Abu Dzar berkata, “Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan).

Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita dihisab di akhirat, hanya ada 2 pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…, beliau kalau diminta memilih daripada dihisab, beliau memilih menjadi sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan untuk hari perhitungan nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa “waktu adalah ibadah”, atau malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kuran

KEUTAMAAN ZIKIR

Perbanyak Amalan Zikir, karena itu akan mempertebal iman dan islam mu. Untuk itu, beberapa keutamaan zikir adalah :
1. Apabila kamu melewati taman-taman surga makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak). (HR. Al-Baihaqi)

3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Handhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Handhalah hingga diulang-ulang tiga kali). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

4. Rasulullah Saw menyebut-nyebut Allah setiap waktu (saat). (HR. Muslim)

5. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur'an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. (HR. Ad-Dailami)

7. Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh (Allah) Arrohman, yaitu kalimat: Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil 'Adzhim (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)


8. Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya Laailaha illallah. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan Alhamdulillah, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan Astaghfirullah dan jika ditimpa musibah dia berkata Inna lillahi wainna ilaihi roji'uun. (HR. Ad-Dailami)

9. Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, Ya. Nabi Saw berkata,Zikrullah. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


10. Menang pacuan Almufarridun. Para sahabat bertanya, Apa Almufarridun itu? Nabi Saw menjawab, Laki-laki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah. (HR. Muslim)


Penjelasan:
Almufarid ialah orang yang gemar zikrullah dan selalu mengamalkannya dan tidak peduli apa yang dikatakan atau diperbuat orang terhadapnya.

11. Seorang sahabat berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan. Nabi Saw berkata, Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah). (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

12. Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya'la)

Penjelasan:
Rezeki yang secukupnya artinya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan dan tidak berlebih-lebihan.

13. Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah :

Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati. (HR. Ad-Dailami)

14. Aku bertanya, Ya Rasulullah, apa keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim)? Nabi Saw menjawab, Keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim) ialah surga. (HR. Ahmad)

15. Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

16. Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, Ya. Nabi berkata, La haula wala Quwwata illa billah. (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)