Menanti Kedatangan BuahTangan-Nya

Apakah engkau dapat menjawab pertanyaan ini yang nampaknya basi. Namun tidak ada salahnya diajukan karena fenomena ini akan terus ada hingga akhir zaman. Mengapa sebagian besar pemuda-pemudi muslim merasa adem ayem saja ketika dirinya terjatuh dalam kubangan dosa pergaulan, terutama dengan lawan jenis ?
Fenomena ini mungkin tidak akan kami sampaikan pada kesempatan ini jika saja saudari-saudariku sepondokan, baik yang berstatus aktivis muslim maupun bukan, mampu menjaga kehormatan dirinya dan bersabar atas berbagai macam gelombang syahwat dan syubhat yang terus didengung-dengungkan oleh pihak yang tidak senang dengan kejayaan agama ini.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhawatirkan fitnah (ujian) ini terhadap umatnya. Sebagaimana yang telah disabdakan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti hawa nafsu pada perut kamu dan kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan.”
(HR. Ahmad).

Dengan penuh kesabaran, mereka akan senantiasa terus merusak generasi muda serta kaum wanitanya. Mengapa ? karena dari wanita-wanita yang rusak moralnya akan terlahir generasi penerus bangsa yang rusak pula ditambah lagi para pemudanya yang tidak tahu lagi menjaga adab-adab dalam bergaul yang telah ditentukan oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dan telah temaktub di dalam agama yang telah sempurna ini.

Memang betul diri ini bukanlah pribadi yang alim namun ijinkanlah kami mengisi catatan kehidupan kami dengan sesuatu yang bermanfaat bagi agama ini. Adanya tulisan ini juga bukan berarti kami ingin memposisikan sebagai pihak yang paling benar, sekali lagi tidak.
Mudahan-mudahan uraian ini mampu mewakili kebiasaan kaum kami ketika berinteraksi dengan kaum hawa.

Harapan kami melalui media ini ialah engkau bersama teman-teman kosmu proaktif dalam mencegah kemungkaran, terutama di lingkungan terkecilmu, yaitu di pondokan. Sekurang-kurangnya saling nasehat-menasehati dan saling mengingatkan saudaranya, yang masih belum memperoleh hidayah, agar terhindar dari bahaya tersebut.

Kami yakin di benak ukhti telah tersirat keinginan di atas namun terganjal sesuatu. Bisa saja berupa perasaan bahwa dirinya belumlah pantas menasehati saudaranya. Entah dikarenakan merasa lebih muda, kurang sholeh, masih kurang ilmu agamanya dibandingkan dia, tidak ingin membuka aib saudaranya, tidak ingin membuat saudaranya sedih kemudian akan membenci ukhti, atau tidak ingin mencampuri urusan orang lain.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk menyampaikan dan mengajarkan ilmu kepada manusia.

Beliau bersabda, “Sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat”.
(HR. Bukhari & Muslim).

Nah, bukankah ayat yang telah ukhti hafal tidak hanya satu... Mulai dari ayat pertama Surah An-Naas sampai…Kami yakin telah beratus-ratus ayat dalam memorimu. Apakah itu masih belum cukup ? Hmmm, menunggu hingga menjadi hafidzhoh, kah ?


“Jadilah kalian di tengah manusia laksana lebah di tengah bangsa burung, tiada seekor burung pun melainkan menganggap remeh terhadapnya, padahal seandainya bangsa burung itu mengetahui barokah yang terkandung di perut lebah, niscaya mereka tak akan meremehkannya. Maka bergaullah di tengah manusia dengan lisan dan jasad kalian dan berbaurlah bersama mereka dengan amal shalih dan hati kalian. Sesungguhnya manusia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia usahakan dan pada hari kiamat nanti akan dikumpulkan bersama siapa yang dicintainya”.
(Ali bin Abi Thalib radhiallahu'anhu).

Perlu diingat pula bahwa azab yang ditimpakan terhadap suatu kaum yang di dalamnya penuh dengan kemungkaran dan kemaksiatan tidak hanya menimpa kepada mereka yang bermaksiat tetapi juga akan menimpa selain mereka. Begitu banyak contoh musibah di negeri ini dimana korbannya tidak hanya dari kalangan ahli maksiat namun juga menimpa orang-orang sholeh di daerah tersebut. Apakah gempa di Bengkulu hanya menimpa ahli maksiat sajakah ? Atau apakah ukhti tega menimpakan azab Allah kepada seluruh penghuni pondokan walaupun secara tidak langsung ?

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu, dan ketauhilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (QS. Al-Anfal: 25).
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya manusia apabila melihat seorang yang zhalim lalu tidak mencegahnya, niscaya, hampir-hampir Allah Subhanahu wa Ta’ala menimpakan azab untuk mereka semuanya.”
(HR. Abu Dawud & Tirmidzi)

Ketika kita telah mengetahui pentingnya ilmu, maka sebagai buah dan konsekuensi dari ilmu tersebut adalah beramal. Bayangkan jika ada seorang kimiawan yang sudah menguasai teori reaksi kimia, menguasai teori bahan-bahan kimia, dan trik mencampur bahan tersebut agar menghasilkan reaksi kimia yang cepat dan aman namun dia tidak mau mengaplikasikan ilmunya tersebut. Apakah teori tersebut dapat dikatakan bermanfaat bagi dirinya ?

Begitupula ilmu agama yang telah kita pelajari tanpa kita amalkan maka tidak akan bermanfaat bagi kita karena Allah akan menghisab tentang apa yang kita amalkan disamping apa yang kita ketahui. Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu maka ia telah menyerupai kaum Nasrani dan barangsiapa yang berilmu tanpa mengamalkannya maka ia telah menyerupai kaum Yahudi. (Tafsir Ibnu Katsir).

Ibnu Mas’ud rahimahullah berkata, “Belajarlah ilmu. Apabila sudah tahu, maka amalkanlah”. Selain itu betapa indahnya perkataan Fudhail bin Iyadh rahimahullah, “Seseorang yang berilmu akan tetap menjadi orang bodoh sampai dia dapat mengamalkan ilmunya. Apabila dia mengamalkannya, barulah dia menjadi seorang alim”.

Perkataan ini mengandung makna yang dalam karena apabila seseorang memiliki ilmu akan tetapi tidak mau mengamalkannya, maka dia adalah orang yang bodoh. Hal ini karena tidak ada perbedaan antara dia dan orang yang bodoh. Maka seseorang yang berilmu tidaklah menjadi seorang alim yang sebenarnya sampai dia mengamalkan ilmunya.

Semua orang yang belajar ilmu dengan tujuan bukan untuk mengamalkannya akan diharamkan baginya keberkahan ilmu, kemuliaannya, dan pahalanya yang agung.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan kita dari tidak mengamalkan ilmu dengan sabdanya,

“Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar”. (HR. Thabrani. Muhaddits abad ini, Muhammad Nashiruddin Albani, berkata sanadnya jayyid (baik)).

Kiranya, dalil berikut ini cukup bagi saudariku yang di kampus aktif di organisasi keagamaan. Bahkan menjadi pemandu asistensi agama Islam di prodinya. Namun ketika berada di pondokan, malah hobi mendatangkan teman lelakinya. Maka dikhawatirkan ia termasuk golongan yang menyuruh orang lain berbuat kebajikan namun ia sendiri terjatuh dalam keburukan.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya, “Didatangkan seseorang pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke neraka sehingga terurai usunya dan dia berputar sebagaimana kedelai berputar pada penggilingan. Kemudian berkumpullah para penghuni neraka disekelilingnya dan berkata, “Wahai fulan, apa yang menimpamu ? Bukankah kamu dulu menyuruh kami untuk berbuat baik dan mencegah kami dari kemungkaran ?” Kemudian orang tersebut berkata, “Dahulu aku menyuruh berbuat kebaikan tapi aku tidak melakukannya dan aku mencegah perbuatan munkar namun aku melakukannya.”
(HR. Bukhari & Muslim dari Usamah bin Zaid).

Kami yakin saudariku tentu telah memperoleh proses tarbiyah di lingkungan kampus, organisasi, maupun liqo. Namun siapa yang mampu menjamin sepulangnya dari liqo atau kajian keilmuan mereka akan terbebas dari perilaku jahil. Bahkan orang sekelas murabbi pun tidak akan mampu menjaga kondisi keimanan para mutarabbi-nya akan tetap istiqomah sebagaimana yang ditampakkannya ketika liqo.

Mudah-mudahan kajian-kajian, entah itu liqo, TTS, dan lain sebagainya, yang sedang saudari-saudariku ikuti mampu membentengi dirinya dari terkaman kami, para serigala berbulu domba. Dan juga semoga beberapa penggal kalimat di bawah ini dapat menjadi bahan bagi ukhti untuk dapat menyelamatkan saudaramu, terutama yang berada satu pondokan, agar tidak semakin dalam tergelincir dalam jurang kemaksiatan.

Tentunya semua itu dilakukan dengan niat ikhlas berdakwah lillahi ta’ala serta penuh hikmah agar mereka segera sadar akan kekeliruannya selama ini. Kebenaran yang pada asalnya susah untuk diterima oleh jiwa, ketika disampaikan dengan cara yang buruk dan kasar, tentunya justru akan membuat orang semakin lari dari kebenaran. Oleh karena itulah, dakwah pada dasarnya harus disampaikan dengan cara lemah lembut.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan mauidzoh hasanah (pelajaran yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya. Dan tidaklah kelemah-lembutan itu tercabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya menjadi jelek.” (HR. Muslim).




Wahai saudariku yang semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu...
Allah ta'ala memberikan permisalan tentang orang yang telah mengumpulkan banyak kebaikan akan tetapi nanti di akhirat, amalan kebaikan yang diandalkannya tidak dapat banyak bermanfaat,

Allah berfirman yang artinya,
”Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah, Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS. Al-Baqarah:266).

Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma ketika menjelaskan ayat di atas, beliau mengilustrasikan dengan orang kaya yang beramal karena taat kepada Allah, kemudian Allah mengutus setan padanya, lalu orang itu melakukan banyak kemaksiatan sehingga amal-amalnya terhapus (Tafsir Ibnu Katsir).

Oleh karenanya tidaklah pantas diri kita merasa sungkan menasehatinya hanya karena amal ibadahmu belumlah sebanyak dia. Ketauhilah, sebagaimana hadits di atas, amal ibadah sebanyak apapun tidak akan banyak bermanfaat baginya bilamana dirinya masih gemar bergelimang dalam kemaksiatan. Atau engkau merasa belum bisa menyaingi kekayaan mereka ? Atau menganggap dirimu bodoh hanya karena IP-mu di bawah saudaramu ?

Marilah kita merenungkan sejenak sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berikut,
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang ‘alim (pandai) dalam masalah duniawi namun jahil (bodoh) terhadap masalah akhirat”. (Shahihul Jami’: 1875).

Saudariku…sering kali kita melihat seseorang yang bergelimang dalam kemaksiatan namun Allah Ta’ala memberinya kenikmatan duniawi yang sangat besar dan kemudahan dalam melakukan segala urusannya. Ada yang diberi harta yang melimpah, rumah mewah, mobil bagus, dan lain-lainnya. Namun di sisi lain, kita melihat orang-orang yang dikenal dengan ketaatan pada Allah banyak mendapatkan cobaan duniawi baik berupa kemiskinan, kekurangan uang, penyakit dan lain sebagainya.

Ya… bisa juga dianalogikan dengan keadaan umat Islam kini dibandingkan umat lainnya. Dimana orang-orang yang maju dalam bidang ekonomi, teknologi, perindustrian, dll masih didominasi oleh umat non muslim sedangkan kaum muslimin hanya sebagai penonton dan masih berada dalam keterpurukannya hingga saat ini. Apakah Allah Ta’ala tidak adil dalam memberikan balasan pada hamba-Nya ?

Saudariku…itulah istidroj yang menipu
Kita melihat orang yang bergelimang dalam kemaksiatan kepada Allah malah dibukakan pintu rezeki seluas-luasnya serta dimudahkan segala urusan hidupnya. Maka demikianlah hakikat istidroj (dilulu). Allah akan memberi mereka kenikmatan duniawi sehingga mereka akan terus-menerus melakukan kemaksiatan dan mereka merasa aman dari makar Allah. Sampai suatu saat Allah akan membalasnya dengan azab yang sangat pedih setelah dosa-dosa kemaksiatannya bertumpuk. Na’udzu billahi min dzaalik.



Bagi saudara kita yang belum tersadar akan kekeliruannya selama ini, cukuplah dalil di bawah ini menjadi renungan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah ? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raaf: 99).

Allah juga mengancam orang yang merasa PD melanggar rambu-rambu syariat-Nya dan terus-menerus tenggelam dalam kemaksiatan. Allah berfirman yang artinya,
“Maka serahkanlah kepada-Ku orang-orang yang mendustakan perkataan ini. Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur dari arah yang tidak mereka ketahui, dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.”
(QS. Al-Qolam: 44-45).

Sebenarnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga telah mengingatkan kita namun banyak saudara kita yang enggan menghadiri majelis ilmu. Sehingga warisan beliau ini makin asing di telinga kita. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,
“Jika engkau melihat seorang hamba yang senantiasa diberi kenikmatan dunia yang diinginkannya sementara dia senantiasa berada dalam kemaksiatan, maka itulah istidroj.”(HR.Ahmad & Ibnu Jarir).

Lebih tragisnya lagi apabila kita masih saja merasa lalai akan makar Allah. Maka secara tidak sadar kita telah terjerembab ke dalam dosa besar. Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh Ibnu Abbas radhiallahu'anhuma tentang dosa besar, maka beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.”(HR. Al Bazar & Ibnu Abi Hatim).

Adakalanya sikap lalai ini disebabkan saudara kita berpaling dari agama Allah, lalai dari mengenal Tuhannya serta meremehkan hak-hak-Nya. Akibatnya ia meninggalkan kewajiban dan terus-menerus berbuat maksiat. Sehingga rasa takut, terhadap azab Allah baik di dunia maupun di akhirat, dari hatinya terus berkurang dan keimanan tidak tersisa sedikit pun.

Adakalanya pula disebabkan saudara kita beribadah kepada Allah namun merasa takjub dengan dirinya serta tertipu dengan amal sholehnya. Akibatnya, ia merasa PD ketika bermaksiat karena yakin amal ibadahnya selama ini akan meneggelamkan dosa-dosanya. Sehingga hilanglah rasa takutnya kepada Allah. Ia menyangka telah sedemikian dekat dan berada pada kedudukan yang tinggi di sisi Allah.

Saudariku yang tegar di jalan dakwah…
Terus menerus melakukan maksiat akan mengakibatkan kerasnya hati, jauh dari Allah, dan lemahnya iman. Sebab iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Terus menerus melakukan maksiat juga akan mengakibatkan maksiat tersebut menjadi suatu kebiasaan sekaligus tempat bergantung bagi pelakunya. Sungguh, jika jiwa itu terbiasa dengan suatu hal maka akan sulit untuk berpisah dengannya. Jika ini telah terjadi pelaku maksiat akan sulit melepaskan diri dari maksiatnya dan setan akan membukakan untuknya pintu-pintu kemaksiatan lainnya yang lebih besar dan lebih dahsyat dari sebelumnya. Oleh sebab itu, ahli ilmu dan ahli akhlak berkata: “Sesungguhnya kemaksiatan adalah pengantar kekafiran, di mana seseorang akan berpindah-pindah dari satu maksiat kepada maksiat lainnya, setahap demi setahap sampai ia berpaling dari agamanya.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan taufik dan keselamatan kepada kita semua. {Majaalis syahri Ramadhan, Pengajar Syari’ah dan Ushuluddin Universitas Al-Imam Muhammad bin Su’ud Al-Islamiyah dan anggota Majelis Kibarul Ulama (MUI-nya Kerajaan Saudi Arabia), Fadhilatu Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

Di samping itu jika kita tidak hati-hati, dalam kehidupan yang kini serba permisif, maka kita akan jatuh pada sikap meremehkan ajaran agama ini. Di mana beberapa sebab pembatal keislaman, sebagaimana rukun islam yang lain rukun syahadat juga memiliki pembatal, di antaranya adalah :
1. Berbuat syirik dalam beribadah kepada Allah.
2. Menjadikan wasa’ith (perantara) antara dia dan Allah.
3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau ragu dengan kekufuran mereka, atau bahkan membenarkan madzhab mereka.
4. Meyakini bahwa selain ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam itu lebih sempurna daripada ajaran beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam.
5. Membenci sedikit saja, dari syari’at yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
6. Melecehkan –sekalipun sedikit dari- dari agama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
7. Melakukan perbuatan sihir.
8. Membantu kaum musyrikin dan menolong mereka untuk menghancurkan kaum muslimin.
9. Meyakini bolehnya bagi seseorang keluar dari syari’at Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
10. Berpaling dari agama Allah.
(Risalah Mufti ‘Am Kerajaan Saudi Arabia dan Pimpinan Majelis Kibarul Ulama serta Ketua Dewan Divisi Penelitian Ilmiah dan Komisi Fatwa, Syaikh Abdul Aziz bin Baz).

Kriteria pembatal keislaman di atas bukanlah dimaksudkan untuk bermudah-mudahan dalam mengkafirkan saudara kita. Namun, semata-mata dilandasi rasa sayang dan kasihan. Jangan sampai mereka terus-menerus meremehkan ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ini. Jika masalah ini tetap diremehkan maka dikhawatirkan mereka akan termasuk golongan pada point ke-4 atau ke-5.

Keberanian mereka melakukan perbuatan yang dilarang oleh syari’at ini tentunya dilandasi anggapan bahwasanya mereka lebih tahu daripada Rasululllah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Tentang jalan hidup yang bagaimanakah yang harus ditempuh. Inilah akibat globalisasi dimana budaya negatif dari barat pun ikut masuk mencemari gaya hidup kaum muslimin. Mereka beranggapan bahwa gaya bergaul yang efektif dan efisien dalam bersosialisasi adalah dengan menyerupai gaya pergaulan bebasnya remaja bule ala dawnson creek. Kalau di Indonesia mengikuti gaya bergaul di sinetron-sinetron remaja yang pernah ngetop atau lagi digandrungi, seperti cinta fitri atau cahaya.

Saudariku yang dicintai Allah…
Dalam kehidupan ini kita akan senantiasa dikelilingi oleh orang yang menganggap remeh atas dosa-dosa mereka, tak terkecuali saudara kita yang merasa butuh bergaul dengan lawan jenis. Namun sayangnya tanpa memperhatikan batasan syari’at. Entah apakah karena beranggapan bahwa kebaikan-kebaikan mereka sudah terlalu banyak atau beranggapan bahwa amalan-amalan shalih mereka sudah begitu melimpah. Sehingga pahala yang mereka kumpulkan pun sudah begitu menggunung.

Apakah shalat-shalat sunnahnya, shalat malamnya, puasa sunnahnya, infaqnya, kegiatan dakwahnya selama ini dan seterusnya dari amalan-amalan shalih yang mereka kerjakan akan seperti lautan yang akan menenggelamkan dosa-dosa yang mereka lakukan ? Sehingga, tanpa risih, merindukan kedatangan teman lelakinya untuk menengoknya di pondokan. Kemudian asyik berlama-lama bercengkerama dengannya di bawah naungan sinar lampu beranda pondokan.

Padahal sudah jauh-jauh hari para ulama kita talah mengingatkan umatnya agar terhindar dari bahaya pergaulan bebas ini. Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘azza wa jalla, inilah yang kekal selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir).

Apakah dinamakan cinta karena Allah jika kita mengharuskan adanya perjumpaan, berboncengan, atau bercanda gurau dengan menerjang rambu-rambu syari’at. Tentunya tidak hanya satu dari saudara kita dalam satu pondokan, baik yang telah mengikuti proses tarbiyah maupun yang belum tersentuh hidayah, masih ada yang belum yakin bahwa perhatian kaum kami yang hakiki adalah setelah menikah? Memang nampaknya jalan menuju ke sana tidak jelas dan butuh kesabaran ekstra. Apalagi kita dikejar usia yang semakin uzur. Sehingga akan membuat kaum hawa khawatir akan penampilannya yang semakin pudar.

Ditambah lagi dengan kondisi keluarga yang memprihatinkan dimana ayahanda sakit-sakitan atau bahkan telah lama ditinggal oleh salah satu atau kedua ortu sekaligus. Sehingga iblis akan mendatangi lalu membisikkanmu untuk segera memperoleh tambatan hati walaupun harus menabrak rambu syari’at. Sebab dengannya masa depanmu akan nampak “jelas” dan “pasti”. Ditambah lagi kondisi kejiwaan kita, baik ikhwan atau akhwat, yang membutuhkan tempat berbagi/perhatian dari orang lain.

Apalagi bagi mereka yang berada jauh dari orang tua dimana hari-harinya diliputi kesedihan yang mendalam tatkala teringat ortunya di seberang laut/sungai. Ketika kami menampakkan diri di hadapanmu sebagai sosok pribadi yang peduli dan perhatian secara “tulus” akan segala masalah kehidupanmu maka engkau dengan serta-merta menganggap telah memperoleh tempat untuk berbagi segala beban kehidupanmu dalam perantauanmu ini.

Saudariku…seringkali kata sabar didengung-dengungkan setiap kali menghadapi segala ujian kehidupan tidak terkecuali ujian ini. Tetaplah bersabar dan ridho dengan keputusan Allah dan berserah diri kepada-Nya. Hindarilah mencari jalan pintas dengan menabrak rambu syari’at-Nya. Sebab salah satu tanda hilangnya iman dalam diri ini ialah ketidak sabaran dalam menjalani ketaatan kepada Rabbnya.
Imam Ahmad mengatakan, “Sabar disebutkan di dalam Al-Qur’an sebanyak lebih dari 70 ayat. Kaitan sabar dan iman seperti halnya kedudukan kepala dan jasad. Seseorang yang tidak sabar dalam melaksaknakan ketaatan, dalam menjauhi kemaksiatan serta ketika tertimpa musibah maka ia sudah kehilangan sebagian besar dari imannya.”
(Kitab At-Tamhid: 391).

Sejatinya kesusahan bagi seorang muslim merupakan kebaikan jika dia bersabar. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim).

Namun masih banyak yang tidak setuju dengan perjodohan atau ta'aruf yang hanya mengenal beberapa hari saja. Alasannya pernikahan itu sakral dan untuk selama-lamanya. Jadi mesti hati-hati memilih pasangan hidup.Sehingga akan bermunculan problematika seperti ini, bagaimana bisa memahami karakter masing-masing calon kalau hanya bertemu sesekali ?
Atau yang lainnya seperti,
Dalam pergaulan sehari-hari, tentunya kalian berkepentingan untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, berkomitmen untuk menikah nanti setelah semua cita-cita pribadi maupun harapan orang tua tercapai, tetap menjaga tanpa adanya kontak kulit, dan dalam pertemuan hanya sebatas cerita untuk mengenal satu sama lain, apakah hubungan kayak gini tetap nggak boleh?

Terbiasanya umat ini dengan gaya bergaul tanpa mengindahkan syari’at mengakibatkan semakin dilupakannya akhlak Islami yang mestinya ditegakkan. Bahkan mereka menganggap kebiasaan itu jauh lebih baik dan lebih tinggi nilainya daripada syari’at Allah yang mengharamkanya. Orang yang berpegang teguh pada agama ini malah dikatakan kuper, lugu, kolot, ketinggalan zaman, kaku, sulit beradaptasi, ekstrim, hendak memutuskan tali silaturrahim, dan sebagainya.

Saudariku…sekali lagi janganlah engkau tertipu dengan kata-kata manis dari kami karena sesungguhnya Allah Ta’ala belumlah menampakkan aib/topeng kami di hadapanmu.

Oleh karenanya perhatian kami terhadap kalian sebelum menikahlah yang haruslah diwaspadai karena dibangun di atas dusta dan kebohongan. Kami telah mengemasnya sedemikian rupa semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya.

Bukankah Islam tidak mengenal pacaran ? Bukankah Islam menganjurkan nikah dulu baru cinta, bukan cinta dulu baru nikah. Kemudian kalau mereka mengatakan bahwasanya pacaran itu supaya tahu pacarnya, maka perlu diketahui bahwa pacaran itu bukan ukuran. Kebanyakan diantara mereka setelah menikah baru masing-masing tahu aslinya sehingga tidak jarang diantara mereka setelah lama berpacaran, 4 tahun pacaran, baru menikah satu tahun sudah bubar gara-gara mereka telah bercinta dulu sebelum menikah sehingga ketika menikahpun cinta mereka telah habis.

Jadi solusi yang benar adalah menikah dulu, kemudian setelah menikah baru bercinta. Namun ketika sebelum menikah ada proses-prosenya dulu, yaitu saling tukar menukar
biodata, kemudian banyak tanya bagaimana akhlaknya, agamanya, setelah semuanya cocok, sholat istikharah terlebih dahulu, lalu bermusyawarah, kemudian juga nadhor
(melihat calon pasangannya), baru nikah. Jikalau engkau mau sedikit berfikir maka perhatian kami yang tulus terhadapmu hanyalah bisa dibuktikan dengan menikahimu. Kemudian pasti akan timbul sakinah, kedamaian ketentraman dan didalamnya ada mawadah warahmah (cinta dan kasih sayang) yang sejati.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Rum: 21).

Sekali lagi percayalah janji Allah yang akan mempertemukan kalian dengan pasangan yang sesuai dengan kapasitas kalian. Sengaja mempromosikan diri sebagai sosok wanita yang senang menyerempet syariat-nya. Maka secara tidak langsung kalian minta dijodohkan oleh-Nya dengan pasangan hidup yang seperti itu pula. Apakah yang itu yang diidam-idamkan oleh kalian selama ini ? Na‘udzubillahi min dzalik.

Allah telah mengingatkan hamba-Nya agar senantiasa memperbaiki diri masing-masing. Agar dijauhkan darinya pasangan hidup yang keji. Sebagaimana Allah telah berfirman yang artinya,
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laik-laki yan keji, dan laki-laki yan gkeji untuk perempuan-perempuan yang keji(pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga)”. (QS. An-Nur: 26).

Bukankah sudah banyak contoh keluarga selebritis yang hancur berantakan padahal mereka telah berpacaran sebelum akad pernikahan. Bahkan telah sampai tahapan hubungan layaknya suami istri (bersentuhan, berpelukan, pegang-pegangan, cubit-cubitan, senggol-senggolan hingga perzinaan) lalu berikrar akan setia satu sama lain sampai ajal menjemput.

Apakah itu semua belum cukup untuk dijadikan bahan pelajaran atau cukupkah hanya sebagai bahan renungan belaka?

Saudariku yang budiman…
Ketika seseorang beranjak dewasa, muncullah benih di dalam jiwa untuk mencintai lawan jenisnya. Ini merupakan fitrah (insting) yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan terhadap perkara yang diinginkannya berupa wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.” (Ali Imran : 14)

Tentunya ukhti dan saudara-saudaramu di pondokan telah meyakini bahwa agama ini adalah agama yang sempurna. Dimana di dalamnya telah diatur seluk beluk kehidupan manusia mulai dari adab buang air hingga hukum ketatanegaraan. Termasuk juga bagaimana pergaulan antara lawan jenis yang membawa keselamatan di dunia dan akhirat, di antaranya:

Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Apakah hal ini pernah kami, para lelaki, lakukan ketika berduaan denganmu ? Sebagian besar kita beralasan bahwa hijabnya di hati. Jadi kalau nggak ada perasaan apa-apa dengannya maka tidak perlu menundukkan pandangan. Kok dengan lancangnya diri ini berani men-tazkiyah/menganggap lebih suci dan sholeh dibandingkan para sahabat nabi atau istri-istri beliau.

Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 30).
“Dan katakanlah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (An-Nur: 31).

Kemudian apakah jika kami berduaan denganmu ditemani cahaya lampu beranda tidak melanggar syari’at. Lebih ngerinya lagi jika ini “terpaksa” dilakukan oleh seorang muslimah, ia akan mencari-cari orang/teman kosnya untuk dijadikan mahrom-mahroman. Bukankah ini termasuk berdusta atas nama agama dan ia sedang menyelisihi perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam demi mengikuti bisikan setan serta tercapainya tujuan pribadi.



Padahal Allah telah berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya. Dan baginya siksa yang menghinakan”
(QS. An-Nisaa’: 14).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu
menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nur: 21).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (kholwat) dengan wanita kecuali bersama mahramnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah setan (HR. Tirmidzi, 3/474 misyakatul mashabih, 3188).
{Yusuf al-Qaradhawi, Fiqih Praktis bagi Kehidupan Modern}

Memangnya kalau sudah tumbuh benih-benih cinta diantara kita engkau dapat menjamin kami tetap akan menampakkan kesopanan, kesholehan, dan rasa malu yang tinggi, sebagaimana dulu kita pertama kali berjumpa. Dapatkah engkau menjamin bahwa kami, yang nampaknya bertanggung jawab ini, tidak akan minta “yang macam-macam”, sebagai pembuktian rasa cinta ?

Walaupun sebenarnya kami sadar hal itu dilarang oleh agama ini. Namun, yang namanya iblis, dengan pengalamannya yang berabad-abad, akan senantiasa berusaha membuat indah dan mulus jalan kemaksiatan. Ditambah lagi bertumpuknya kemaksiatan di dalam hati kami telah menyebabkan dominasi maksiat terpatri dalam hati dan membuat kami cenderung dan terikat pada maksiat tersebut.

Saudariku yang senantiasa menjaga malu…
Kemaksiatan akan memadamkan cahaya berupa ilmu yang telah dikaruniakan oleh Allah di dalam hati. Imam Syafi’i menceritakan pengalaman pribadinya kepada gurunya dalam bait syair berikut:

Aku mengadu kepada imam Waqi’ tentang jeleknya daya hafalku
Maka ia mengarahkanku agar meninggalkan maksiat.
Ia berkata, “Ketauhilah, sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya,
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat.

Oleh karenanya saudariku…seringnya mengulangi perbuatan maksiat sehabis bertobat akan semakin melemahkan cinta kepada Allah dan menguatkan cinta kepada selain-Nya dalam hati ini. Bahkan lemahnya iman dapat menguasai dan mendominasi diri ini sehingga tidak tersisa dalam hati ini tempat untuk cinta kepada Allah kecuali sedikit bisikan jiwa.

Pengaruh iman tidak akan terasakan dalam melawan dorongan jiwa, menahan maksiat serta menganjurkan berbuat baik. Akibatnya diri ini akan semakin terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan perbuatan maksiat. Sehingga noda hitam dosa menumpuk di dalam hati dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang lemah dalam hati.

Lalu dapatkah engkau menjamin keakaraban kita mampu menahan kami untuk tidak menyentuhmu. Tentu saja hal ini tidak termasuk dalam larangan tersebut, hal-hal yang bersifat darurat dibutuhkan atau yang terjadi pada tempat ibadah seperti di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ketika kedua tempat tersebut penuh sesak terutama ketika musim haji tiba.

Menyentuh saja dicegah apalagi sampai cubit-cubitan. Ini dikarenakan menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu perkara yang diharamkan di dalam Islam. Jika memandang saja terlarang, tentu bersentuhan lebih terlarang karena godaannya tentu jauh lebih besar.

Di dalam sebuah hadits, Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia kepada pemimpin).” (HR. Bukhari).

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani dengan sanad hasan).

Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga sampai bersabda, “Sungguh jika seorang pria disentuh oleh seekor babi yang berlumur tanah dan Lumpur, itu lebih baik baginya dari pada bila pundaknya disentuh oleh pundak wanita yang tidak halal baginya.”(HR. Ath-Thabarani).

Mengapa masih ada saudara sepondokan, baik yang paham syari’at Islam maupun jahil terhadap agama ini, dengan santainya nekat menyerempet rambu-rambu syari’at. Dengan beralasan bahwa kami masih mampu kok menjaga hati atau beranggapan amalan ibadahnya sudah menggunung dan Allah Maha Pengampun sehingga berkenan melebur dosa-dosanya ? Padahal Allah sudah mengingatkan hamba-Nya untuk tidak coba-coba mendekati jalan-jalan menuju zina. Serta bukankah Allah telah mengingatkan kalian akan ketidakhalalan gaya bergaul semacam ini.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al Isra’: 32).
”Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar mas kawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan pacar. Barang siapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia-sia amal mereka dan di Akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Maidah: 5).
Kalaulah kita ibaratkan zina adalah sebuah ruangan yang memiliki banyak pintu yang berlapis-lapis, maka usaha kami untuk menjadi “pelindungmu” dapat diibaratkan orang yang telah memiliki semua kuncinya. Kapan saja kami bisa masuk. Bukankah saat berpacaran kami tidak lepas dari zina mata dengan bebas memandang ? Bukankah denganmu kami sering melembut-lembutkan (ini kalo belum akrab) suara di hadapanmu ? bukankah kami akan senantiasa memikirkan dan membayangkan keadaanmu ? Maka farji pun akan segera mengikutinya.
Waktu tidaklah bisa dirayu untuk bisa kembali sehingga dirinya menjadi sosok yang masih suci dan belum ternodai. Setan pun bergembira atas keberhasilan usahanya.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Allah tidak menjadikan mata itu sebagai cermin hati. Apabila seorang hamba telah mampu meredam pandangan matanya, berarti hatinya telah mampu meredam gejolak syahwat dan ambisinya. Apabila matanya jelalatan, hatinya juga akan liar mengumbar syahwat…” Beliau juga menuturkan, “Dalam hadits shahih disebutkan bahwa :

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah menetapkan untuk anak Adam bagiannya dari zina, yang pasti akan mengenainya. Zina mata adalah dengan memandang, zina lisan adalah dengan berbicara, sedangkan jiwa berkeinginan dan berangan-angan, lalu farji (kemaluan) yang akan membenarkan atau mendustaknnya.” (HR. Bukhari & Muslim).

Tentunya akan sulit bagi iblis dan bala tentaranya untuk menggelincirkan sebagian saudara kita sampai terjatuh ke dalam jurang pacaran gaya cipika-cipiki atau yang semodel dengan itu. Akan tetapi yang perlu kita ingat, bahwasanya iblis telah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan semua manusia, baik aktivis muslim maupun orang awam, dengan segenap upayanya. Jangan lupa ia didukung bala tentara yang sudah professional karena ditunjang pengalaman yang berabad-abad dalam hal menggelincirkan umat ini ke dalam jurang kemaksiatan.
Iblis telah bersumpah yang artinya,“Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya.”(QS. Shaad: 82).

Kalaulah iblis tidak berhasil merusak agama seseorang dengan menjerumuskan mereka ke dalam gaya pacaran cipika-cipiki, mungkin cukuplah bagi iblis untuk bisa tertawa dengan membuat kita berpacaran lewat telepon, SMS atau yang lainnya.

Yang cukup menyedihkan, terkadang gaya pacaran seperti ini dibungkus dengan agama seperti dengan pura-pura bertanya tentang masalah agama kepada lawan jenisnya (Hal ini kami lakukan semata-mata untuk menunjukkan kepadamu bahwa kami adalah sosok pribadi yang peduli akan perbaikan agama dan akhlak), saling pinjam meminjamkan buku agama (kalau diserap ilmunya masih mendingan, lha kalau cuma jadi teman tidur kan lebih parah), peduli kondisi ruhiyah- mu misalnya dengan mengirim tausiyah lewat media SMS atau lainnya, miss called atau meng-SMS-mu untuk bangun shalat tahajjud dan lain-lain.

Oleh karenanya Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk memerintahkan orang-orang mukmin agar tetap menjaga dirinya agar tidak tergelincir dalam bahaya ini meskipun dirinya sudah merasa sholeh. Sebab Allah Ta’ala selalu menyaksikan amal perbuatan mereka,
“Dia mengetahui (pandangan)mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19).

Tatkala seseorang terbiasa melakukan dosa dan hatinya telah tertutupi oleh karat kemaksiatan. Maka ia pun tidak lagi merasa risih terhadap pandangan dan gunjingan orang atas kemaksiatannya. Dia bahkan merasa bangga atas perbuatan kemaksiatannya dan dengan PD nya ia akan berkata, “Wahai fulan, aku telah berbuat begini dan begini!.” Manusia macam inilah yang tidak diampuni dosanya dan menjadi sempitlah jalan taubat atas dirinya sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap umatku akan dimaafkan kecuali bagi orang yang terang-terangan melakukan dosa.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ada sebagian di antara kita beralasan ketika diingatkan akan bahaya pergaulan di atas, “Pergaulan semacam ini nggak masalah, yang penting kan hati tetap terjaga karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya Allah tidaklah melihat rupa maupun tubuh kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”

Walaupun hati ini adalah raja, terkadang tanpa disadari, hati dapat terbelenggu dengan berbagai macam keinginan dan tujuan hidup pemiliknya. Orang yang sangat cinta harta misalnya, akan menjadikan seluruh tujuan hidupnya demi mendapatkan harta.

Sehingga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah budak dinar, celakalah budak dirham, celakalah budak qothifah (sejenis kain beludru). Sungguh ia celaka dan sakit. Apabila dia tertusuk duri maka tidak akan tercabut. Jika dia diberi, merasa ridho, namun, jika tidak, dia marah.”(HR. Bukhari).

Setiap amal yang kita lakukan, baik buruknya merupakan cerminan dari hati kita. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…ketauhilah bahwa sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Namun, jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketauhilah, bahwa ia (segumpal daging tersebut) adalah hati.” (HR. Bukhari).

Ketauhilah wahai saudariku, Allah terkadang menghukum kita misalnya dengan penyakit, baik yang dirasakan langsung diri kita maupun yang menimpa keluarga kita. Ingatlah itu semua disebabkan atas dosa dan kesalahan kita!!!. Janganlah menyalahkan-Nya, salahkan saja diri yang hina ini.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”( Asy-Syuura: 30).

“Dan Kami tidaklah menganiaya diri mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Hud: 11).

Allah akan terus-menerus memberi teguran atas banyaknya dosa dan maksiat yang kita lakukan. Sebagaimana Allah telah berfirman yang artinya,

“Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (QS. Al Ahqof: 27).

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya -:
Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina.



Maka masihkah engkau ingin saudara serumahmu menjadi bagian dari mereka wahai saudariku ?
Tentunya engkau menginginkan turunnya kecintaan dan pertolongan Allah kepada seluruh penghuni rumah, bukan ? Oleh karenanya dalam hal ini Allah mensyaratkan melalui lisan
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam

“Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah, membenci seseorang karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya kecintaan dan pertolongan Allah hanya dapat diperoleh dengan hal tersebut. Seorang hamba tidak akan merasakan nikmat iman, sekalipun banyak shalat dan puasa, sehingga bersikap demikian.”
(HR. Ibnu Jarir).

Namun, sangat disayangkan sekali keadaan di pondokan. Dimanakah rasa wala & bara’ (cinta dan benci) kita tempatkan ? Apakah kita tetap merasa sama saja. Baik itu bergaul dengan pelaku kemaksiatan maupun dengan teman liqo. Sehingga tidak ada usaha sedikitpun dari kita untuk mengingatkannya. Akibatnya dapat ditebak, mereka seakan-akan tidak merasa bersalah. Karena tidak ada saudara sepondokannya yang menegur perilakunya selama ini

Memang mencintai lawan jenis merupakan sebuah kewajaran, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga demikian. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Kesenanganku dijadikan di dalam shalat. Dan aku dijadikan menyenangi wanita serta wewangian.” (HR. Muslim).

Namun, manusia diciptakan dalam keadaan lemah ketika menghadapi fitnah syahwat. Oleh karenanya janganlah engkau tertipu oleh penampilan kami, para lelaki, layaknya orang yang sholeh terlebih-lebih terhadap orang awam(jahil akan agama ini). Walaupun dhohir- nya kami kelihatan sopan dan bertanggung jawab namun itu semua akan segera pupus dan tampaklah wajah asli kami tatkala engkau telah berada dalam gengaman kami.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisaa’ : 28). Sufyan Ats-Tsaury rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah tidak sabar dalam menghadapi wanita.” (Roudhotul Muhibbin).

Maka wajib bagi kita untuk senantiasa bersabar, bersabar dan bersabar. Sabar dalam melaksanakan ketaatan dan sabar dalam menjauhi dosa-dosa. Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang mengatakan bahwa sabar adalah terus menerus sampai seseorang menapakkan kakinya di Surga kelak.

Ketika seseorang bertanya kepada Abu Hurairah radhiallahu'anhu tentang makna takwa, Abu Hurairah radhiallahu'anhu kemudian bertanya kepada orang tersebut, Apakah engkau pernah melewati jalan yang berduri? Ia menjawab, Ya pernah. Abu Hurairah radhiallahu'anhu bertanya lagi, Apa yang engkau lakukan, Ia menjawab, Jika aku melihat duri maka aku menghindar darinya, atau melangkahinya, atau mundur darinya, Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, seperti itulah takwa.

Akan lebih bijak apabila kemaksiatan di pondokan tersebut diselesaikan oleh kaummu sendiri( ibu kos atau teman-teman satu kos). Sebab akan lebih mengena dan tidak menimbulkan prasangka negatif terhadap kami dari si pelaku kemaksiatan tersebut, baik dari kaum kami maupun dari kaum hawa.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya dari manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim: 6).

Sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata tentang ayat ini “Ajarilah mereka (keluarga kalian) tentang adab dan ilmu”. Sedangkan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengatakan “Lakukan ketaatan kepada Allah dan tinggalkanlah maksiat kepada Allah! Dan perintahkan keluarga kalian untuk zikir, supaya Allah menyelamatkan kalian dari siksa neraka”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Saudariku yang sedang menghadapi ujian kehidupan…
Munculnya fenomena di atas di kalangan kaum terpelajar, baik berstatus aktivis maupun bukan, tentunya bukan saja tanggung jawab pemilik pondokan untuk mengingatkan penghuninya untuk tidak melakukan kemaksiatan terselubung tersebut. Namun amar ma’ruf nahi mungkar ini sudah menjadi tanggung jawab segenap penghuni, baik pemilik maupun anak kos. Apabila seseorang telah menganggap remeh suatu dosa, ketahuilah saudariku bahwa, sesungguhnya dia telah terpedaya oleh iblis, walaupun mereka telah banyak beramal dengan amalan-amalan ketaatan.

Maka bukanlah dikatakan takwa jika seseorang sengaja menerjang rambu-rambu syariat, mengerjakan apa-apa yang diharamkan oleh Allah atau meninggalkan apa-apa yang diperintahkan-Nya.

Saudariku yang senantiasa menjaga kesholehan sosial…renungkanlah hadits ini…
Tsauban radhiaallahu'anhu meriwayatkan sebuah hadits yang dapat membuat orang-orang shalih susah tidur dan selalu mengkhawatirkan amal-amal mereka. Tsauban radhiaallahu'anhu berkata, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Aku benar-benar melihat diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah menjadikannya seperti kapas berterbangan, Tsauban bertanya, Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!, Beliau bersabda, Mereka adalah saudara-saudara kalian dan sebangsa dengan kalian, mereka juga bangun malam seperti kalian, akan tetapi apabila mendapat kesempatan untuk berbuat dosa, mereka melakukannya.
(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh AlBani dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No,505)

Saudariku, masihkah kita merasa bangga dengan status kita sebagai aktivis muslim namun kita tidak pernah merasa miris ketika mengetahui ada saudara seiman, sepondokan,atau seangkatan maupun yang tidak seangkatan yang sengaja menjatuhkan dirinya dalam pergaulan tanpa batasan syar’i ?

Apakah ilmu teman-teman sepondokan selama ini hanya berguna bagi organisasinya saja dan mengacuhkan kondisi pergaulan di pondokannya. Kami menyadari kesibukan ukhti baik sebagai mahasiswi maupun sebagai aktivis dakwah. Namun bukankah tidak ada salahnya kami meminta secuil pengalamanmu dalam berdakwah di kampus/masyarakat. Demi kondisi pondokan yang lebih baik di masa depan. Amiin.

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,
“Dan haruslah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron: 104).

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tiap-tiap amal (pekerjaan) ada masa-masa semangat, dan tiap-tiap masa semangat ada masa lelahnya maka barangsiapa lelah letihnya karena melaksanakan ajaranku, maka ia telah mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa lelah letihnya bukan karena melaksanakan ajaranku, maka dia termasuk orang yang binasa.” (HR. Hakim dan Al Baihaqi).

Kami yakin ukhti telah mengingkarinya dengan hati. Kini saatnya kalian bersama pemilik pondokan berusaha mencegah kemaksiatan yang dilakukan oleh sesama penghuni kos melalui lisan. Kemudian tanggung jawab pemilik pondokanlah untuk menindak lanjuti penghuni yang nakal tersebut dengan kekuasaannya.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam juga telah bersabda,
“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika ia tidak sanggup maka hendaklah ia mengubah dengan lisan, serta kalau ia tidak sanggup maka hendaklah ia mengubahnya dengan hati, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Saudariku…kuingin berbagi kebiasaan kaum kami dalam berhubungan dengan kalian. Beberapa contoh riil di bawah ini kami sampaikan semata-mata bertujuan agar saudari kita dalam pondokan mampu melepaskan diri dari jeratan teman-teman kami, para serigala berbulu domba. Apakah beberapa manuver ini pernah ukhti alami ?

Kami senang sekali bercakap-cakap dengan kalian, entah itu dalam urusan tugas kuliah maupun untuk sesuatu yang nampaknya dipaksakan baik itu secara langsung maupun via telepon. Bila tidak ada urusan pun kami akan berusaha mencari-cari celah agar dapat berjumpa denganmu atau sekedar mengobrol satu atau dua menit. Sebenarnya kami sadar Allah merekamnya demikian juga setan dari jenis jin maupun manusia pun ikut membuat suasana pertemuan itu semakin nyaman dan akrab.

Sebagaimana salah satu firman-Nya,
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12).

Kami, para petualang cinta, akan terus menggunakan sarana ini sebagai alat untuk semakin mengenalkan diri kami kepada kalian. Agar kalian semakin akrab, rindu, dan betah bergaul dengan kami. Kondisi semacam ini dapat diqiyaskan juga ke dalamnya chating. Tentunya chating yang tiada ujung pangkalnya dan hanya membuang waktu semata. Apalagi sekarang telah ada teknologi messenger yang didukung oleh perangkat webcam. Pastinya semua itu akan semakin menambah nyaman bagi kami.

Memang di kajian-kajian kami sering diingatkan akan bahaya ini.
Sebagaimana yang disabdakan Beliau shalallaahu ‘alaihi wa sallam,
”Hati-hatilah pada dunia dan hati-hatilah pada wanita karena fitnah pertama bagi Bani Isroil adalah karena wanita.” (HR. Muslim).

Namun, itu semua sepertinya menguap begitu saja tatkala wanita yang menjadi incaran kami ada di hadapan mata. Apalagi di era globalisasi sekarang ini ketika arus informasi dengan mudahnya diakses. Cukup dengan mengklik tombol, si dia pun hadir di hadapan kami. Terpaan syubhat teknologi inilah yang tidak dapat kita bendung sehingga menggiring kita semakin terlena akan godaan ini.
Jika kita acuhkan maka pastilah kita akan dikucilkan oleh teman sepermainan dan dianggap nggak gaul, kuper atau gaptek (gagap teknologi).

Langkah selanjutnya, seiring dengan kemajuan teknologi. Dimana bertebaran tempat-tempat foto kilat di pusat perbelanjaan yang biasa digunakan kaum muda-mudi untuk mengekspresikan persahabatannya. Demikian pula munculnya software pengolah gambar serta hp dengan fasilitas foto mutakhir akan semakin memudahkan kami untuk menyalahgunakannya.

Oleh karenanya Saudariku …janganlah engkau bermudah-mudahan mau difoto oleh kami atau memfoto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan celah bagi kami, para serigala manusia, untuk berusaha menerkammu.

Selain itu kami sangat senang apabila engkau membalas “sinyal” dari kami. Entah itu berwujud sms,telpon,email atau respon apapun tergantung kecanggihan teknologi saat itu. Terutama yang bersifat tidak penting atau sekedar iseng. Kami anggap itu adalah salah satu bentuk perhatian darimu. Oleh karenanya berhati-hatilah dalam memberi respon balik karena hal itu akan membuat kami semakin “terbang jauh di awan”. Dan merupakan sarana efektif yang akan kami gunakan untuk semakin mengakrabkan “ukhuwah” kita ini.

Saudariku…kami juga sangat berharap engkau merasa diperhatikan oleh kami. Terutama sekali di saat-saat momen spesial dalam hidupmu. Entah itu dengan kunjungan ke kosmu, mentraktirmu (kalau mangsa udah kecantol biasanya gantian yang ntraktir tergantung momennya), menemanimu shopping, menghadiahkanmu sesuatu yang tidak engkau duga-duga atau sekedar mengirimkan ucapan bernada “kepedulian sosial” via telepon. Namun…kalaulah isi dompet atau jarak membatasi kita cukuplah kukirim salam hangat via SMS atau e-mail.

Saudariku yang tegar menghadapi godaan…
Dalam bergaul dengan lawan jenis tentunya kami akan menyerumu dengan kata-kata puitis yang bernada menghalalkan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan, menampakkan keramahan, kesholehan, kejujuran dan keikhlasan, menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu serta berlemah lembut dalam pembicaraan.

Kami juga memahami engkau lebih suka bergaul dengan teman sharing yang humoris dan open minded. Sehingga kami pun akan berusaha semaksimal mungkin membahagiakanmu dengan gurauan yang kami miliki. Semata-mata ingin membuatmu betah & nyaman berteman bersama kami. Biasanya dalam bergaul denganmu kugunakan perkataan yang nampaknya menyakitkanmu namun sejatinya untuk menggodamu. Tentunya jikalau engkau bijak akan engkau dapati kata-kata aneh namun lucu dariku, seperti si jelex, cerewet, atau mengubah-ubah namamu menjadi bahan candaan. Inti dari semua itu ialah menjadikan suasana pertemuan kita tidak garing dan terus mengalir. Hingga waktu memisahkan kita.

Yang terpenting bagi kami di hadapanmu ialah kami akan senantiasa berusaha tampil perfect dan bersikap sebagai pelindungmu, dalam segala hal. Namun sejatinya kami mengkhianati keluargamu dengan semua topeng kemunafikan di atas,baik itu dengan jalan meneleponmu, mengirimkan sms tausiyah, me-missed call-mu agar bangun untuk shalat malam, mengajakmu jalan bersama atau mengantarkanmu ke manapun tujuanmu dengan motor (berboncengan) atau mobil dan segala kebusukan lainnya.

Sungguh kami melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuk yang pasti akan tampak jelas hanya bagi orang yang memikirkannya. Akankah kami benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara kami mengajakmu bercengkerama, berjumpa dan jalan/berboncengan bersama, tanpa ada batasan syari’at di dalamnya, padahal engkau belum halal bagi kami ? Percayalah bahwasanya hawa nafsu telah merasuki pikiran kami untuk meminta waktumu agar dapat berjumpa/ bercengkerama/ ber –kholwat denganmu. Berhati-hatilah karena saat itu kami bukanlah sosok pribadi yang engkau kenal. Namun telah beralih menjadi lebih sesat daripada hewan ternak.

Sebenarnya Allah telah mengingatkan umatnya akan bahaya bermain-main dengan hawa nafsu.
“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya ? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)”. (QS. Al Furqan: 43-44).

Saudariku… teguhkanlah hatimu untuk tetap tidak tergoda bujuk rayu kami.
Ibunda kaum muslimin ‘Aisyah radhiyallahu‘anha menceritakan, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam sering kali memanjatkan doa, “Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa tha’aatik” (Wahai Dzat Yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hati hamba untuk senantiasa taat kepada-Mu).
Melihat sikapnya itu maka ‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Anda sering sekali memanjatkan doa ini. Apakah Anda juga merasa khawatir ?” Lalu beliau pun bersabda,

“Apakah yang dapat membuatku merasa tenang wahai ‘Aisyah, sementara hati-hati manusia itu berada di antara dua jari-jemari Ar-Rahman. Dia membolak-balikkan hati menurut kehendak-Nya. Apabila Dia ingin membalikkan hati seorang hamba maka Dia pun membalikkannya.”
(HR.Ahmad, Ibnu Abi’Ashim, Abu Ya’la, dan Al Ajurri. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Zhilalul Jannah).

Kalau Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam saja seperti ini maka bagaimanakah lagi dengan kita ? Oleh karenanya mohonlah kepada Allah untuk tetap teguh di atas jalur ketaatan. Agar engkau terhindar dari manuver dan kata-kata manis dari kaum kami. Yang tidak ada obat manapun yang mampu menyadarkanmu bila telah terbius olehnya. Terkecuali berobat dengan apa-apa yang telah diajarkan Nabi shalallaahu ‘alaihi wa sallam dan wasiat para ulama.

Munculnya kerinduan akan kasih sayang dari lawan jenis tentunya tidak akan muncul begitu saja. Semuanya butuh proses tidak terkecuali masalah yang satu ini. Bacaan, tontonan televisi, serta dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela (harus difilter dg sudut pandang ilmu syar’i, ada nggak sih manfaatnya), merupakan akar dari tumbuhnya pohon cinta. Engkau akan dapati di dalamnya zat, yang lebih hebat daya pengaruhnya dibandingkan racikan kimia terbaik buatan manusia manapun, yang akan membiusmu perlahan-lahan tanpa engkau sadari. Racun itu menyelinap di antara indahnya halaman tabloid yang warna-warni, suguhan tayangan yang memanjakan mata untuk tetap menontonnya, serta kertas majalah yang halus mengkilap dan wangi.




Murid Ibnu Taimiyah yaitu Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengemukakan enam tahapan yang dilalui setan dalam menyesatkan dan memperdaya manusia.
Tahap pertama ialah pengkafiran atau pemusyrikan manusia. Kalau yang diajaknya itu muslim, yang beriman teguh, tidak dapat dikafirkan, dan tidak dapat dimusyrikkan, setan melangkah ke tahap kedua.
Tahap kedua ialah pembid’ahan.
Kalau yang didakwahi setan ini orang yang kokoh dan istiqomah pada ajaran Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam, setan akan melangkah pada tahap ketiga.
Tahap ketiga yaitu menjebak orang Islam kepada kaba’ir (dosa-dosa besar).
Kalau yang bersangkutan beriman teguh. Setan tidak pernah berputus asa. Ia segera beralih ke tahap keempat.
Tahap keempat yaitu menjebak manusia dengan dosa-dosa kecil.
Kalau masih gagal, setan segera melangkah ke tahap kelima.
Tahap kelima yaitu menyibukkan manusia kepada masalah-masalah yang mubah (boleh). Sehingga yang bersangkutan menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang mubah, yang dampaknya, lupa menunaikan perbuatan-perbuatan yang dicintai Allah Ta’ala. Misalnya: Frekuensi membaca/mendengarkan Al Quran lebih sedikit daripada aktivitas menonton film/membaca novel. Kalau tahap kelima ini tetap gagal juga, setan akan melanjutkannya ke tahap keenam.
Tahap keenam yaitu menyibukkan manusia dalam urusan-urusan kurang bermanfaat atau yang manfaatnya lebih kecil sehingga dampak persoalan yang lebih penting dan yang lebih baik jadi tertinggalkan dan terabaikan. Misalnya, sibuk dengan amalan sunnah sehingga amalan wajib tertinggalkan.

Saudariku yang senantiasa menjaga kehormatan dan martabat wanita…
Apakah pemilik pondokan atau ukhti bersalah, jika di pondokannya, menginginkan penghuninya memilih tayangan yang bermutu serta menjauhi infotainment, program acara, sinetron-sinetron,dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita.Dimana tinggi rendahnya nilai seseorang harus ditunjukkan dengan besar kecilnya rasa sayangnya kepada kekasihnya. Atau apakah berdosa mematikan akses ke televisi agar penghuni atau saudaranya menjauhi semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malunya.

Tentunya semua itu harus dilakukan dengan niat ikhlas berdakwah lillahi ta’ala serta penuh hikmah agar mereka segera sadar akan kekeliruannya selama ini.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim).

Pada tafsir surat Al ‘Ashr, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, “Maka dengan dua hal yang pertama (ilmu dan amal), manusia dapat menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua hal yang terakhir (dakwah dan sabar), manusia dapat menyempurnakan orang lain. Dan dengan menyempurnakan keempat-empatnya, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar”.
(Taisiir Karimir Rohman).





Yakinlah selama jalan yang kita tempuh berada di koridor-Nya, Insya Allah, Allah akan senantiasa memudahkan segala urusan orang yang menolong agama-Nya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.
(QS. Muhammad: 7).

Menolong agama Allah Ta’ala tentunya bukanlah dengan jalan menjadi aktivis di lembaga dakwah kampus atau istiqomah beramal tetapi masih hobi melanggar ketentuan-Nya. Tolonglah agama ini dengan melakukan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembayang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar.” (QS. Al-Hajj: 40-41).

Dari ayat di atas terlihat jelas bahwa sebab terbesar datangnya pertolongan Allah adalah dengan mentaati Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara bentuk mentaati Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mempelajari dan memahami agama ini. Paham akan segala konsekuensi yang kelak kita terima apabila berani melanggar larangan-Nya. Serta bertekad meninggalkan kemaksiatan yang biasa dahulu dilakukan semasa masih jahil terhadap agama ini.

Sekali lagi kami memohon pertolongan saudariku, yang telah lebih dahulu memperoleh hidayah, untuk segera menjauhkan pondokan ini dari azab Allah. Tentunya dengan jalan tidak membiarkan saudari kita semakin terlena atas perbuatannya.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’rof: 96).

Allah Ta’ala juga berfirman, “Jika kamu (wahai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. AL-Anfal: 73).

Saudariku…ingatlah kita adalah perantau…
Kenikmatan hidup seringkali membuat kita lupa diri dan tidak tahu diri. Sehingga kita lupa dimanakah tujuan akhir hidup ini dan akan kemanakah kita !!!
Dan untuk apa kita dihidupkan oleh-Nya di muka bumi ini.
Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Surga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim)




Bagaimana saudariku? Apakah hatimu tergetar mendengar hadits ini? Kalau seandainya tidak, maka engkau adalah manusia yang sangat perlu untuk dikasihani, bagaimana tidak? Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka.

Sementara kita….? Apa yang telah kita persiapkan? Apa yang telah kita berikan untuk Islam dan kaum muslimin ? Mereka dihina, dimusuhi, dilempari, diusir dari kampung halaman, disiksa seperti Bilal, lantas…pernahkah kita mengalami hal seperti itu?

Dalam riwayat lain disebutkan:
“Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit bersenang-senang dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus di atas ranjang dengan istri kalian, lalu kalian akan keluar menuju ke pegunungan (tempat menyepi) untuk beribadah kepada Allah” Abu Dzar berkata, “Sampai-sampai aku menginginkan kalau diriku hanyalah pohon yang tumbang” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad yang hasan).

Begitulah, begitu mengerikannya ketika kita dihisab di akhirat, hanya ada 2 pilihan, surga atau neraka, sampai-sampai Abu Dzar, seorang sahabat Nabi yang keimanan dan amalnya tidak kita ragukan, membela Nabi, membela Islam…, beliau kalau diminta memilih daripada dihisab, beliau memilih menjadi sebatang pohon karena pohon tidak ada beban yang harus dipertanggungjawabkan. Bagaimana dengan kita? Apa yang sudah kita siapkan untuk hari perhitungan nanti? Apakah kita sudah menyiapkan amalan-amalan kebaikan? Apakah kita sudah berprinsip bahwa “waktu adalah ibadah”, atau malah selama ini kita hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang kuran

KEUTAMAAN ZIKIR

Perbanyak Amalan Zikir, karena itu akan mempertebal iman dan islam mu. Untuk itu, beberapa keutamaan zikir adalah :
1. Apabila kamu melewati taman-taman surga makan dan minumlah sampai kenyang. Para sahabat lalu bertanya, Apa yang dimaksud taman-taman surga itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, Kelompok zikir (Kelompok orang yang berzikir atau majelis taklim). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

2. Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut tentang manusia adalah penyakit (artinya penyakit akhlak). (HR. Al-Baihaqi)

3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, kalau kamu selamanya bersikap seperti saat kamu ada bersamaku dan mendengarkan zikir, pasti para malaikat akan bersalaman dengan kamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalan yang kamu lalui. Tetapi, wahai Handhalah (nama seorang sahabat) kadangkala begini dan kadangkala begitu. (Beliau mengucapkan perkataan itu kepada Handhalah hingga diulang-ulang tiga kali). (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

4. Rasulullah Saw menyebut-nyebut Allah setiap waktu (saat). (HR. Muslim)

5. Perumpamaan orang yang berzikir kepada Robbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati. (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rerumputan. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya, sesungguhnya Al Qur'an dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rerumputan. (HR. Ad-Dailami)

7. Dua kalimat ringan diucapkan lidah, berat dalam timbangan dan disukai oleh (Allah) Arrohman, yaitu kalimat: Subhanallah wabihamdihi, subhanallahil 'Adzhim (Maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha suci Allah yang Maha Agung). (HR. Bukhari)


8. Ada empat perkara, barangsiapa memilikinya Allah akan membangun untuknya rumah di surga, dan dia dalam naungan cahaya Allah yang Maha Agung. Apabila pegangan teguhnya Laailaha illallah. Jika memperoleh kebaikan dia mengucapkan Alhamdulillah, jika berbuat salah (dosa) dia mengucapkan Astaghfirullah dan jika ditimpa musibah dia berkata Inna lillahi wainna ilaihi roji'uun. (HR. Ad-Dailami)

9. Maukah aku beritahu amalanmu yang terbaik, yang paling tinggi dalam derajatmu, paling bersih di sisi Robbmu serta lebih baik dari menerima emas dan perak dan lebih baik bagimu daripada berperang dengan musuhmu yang kamu potong lehernya atau mereka memotong lehermu? Para sahabat lalu menjawab, Ya. Nabi Saw berkata,Zikrullah. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


10. Menang pacuan Almufarridun. Para sahabat bertanya, Apa Almufarridun itu? Nabi Saw menjawab, Laki-laki dan wanita-wanita yang banyak berzikir kepada Allah. (HR. Muslim)


Penjelasan:
Almufarid ialah orang yang gemar zikrullah dan selalu mengamalkannya dan tidak peduli apa yang dikatakan atau diperbuat orang terhadapnya.

11. Seorang sahabat berkata, Ya Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam sudah banyak bagiku. Beritahu aku sesuatu yang dapat aku menjadikannya pegangan. Nabi Saw berkata, Biasakanlah lidahmu selalu bergerak menyebut-nyebut Allah (zikrullah). (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

12. Sebaik-baik zikir dengan suara rendah dan sebaik-baik rezeki yang secukupnya. (HR. Abu Ya'la)

Penjelasan:
Rezeki yang secukupnya artinya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan dan tidak berlebih-lebihan.

13. Di antara ucapan tasbih Rasulullah Saw ialah :

Maha suci yang memiliki kerajaan dan kekuasaan seluruh alam semesta, Maha suci yang memiliki kemuliaan dan kemahakuasaan, Maha suci yang hidup kekal dan tidak mati. (HR. Ad-Dailami)

14. Aku bertanya, Ya Rasulullah, apa keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim)? Nabi Saw menjawab, Keuntungan dan keberuntungan yang diperoleh dari majelis zikir (majelis taklim) ialah surga. (HR. Ahmad)

15. Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikrullah. (HR. Ahmad)

16. Wahai Aba Musa, maukah aku tunjukkan ucapan dari perbendaharaan surga? Aku menjawab, Ya. Nabi berkata, La haula wala Quwwata illa billah. (Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). (HR. Ibnu Hibban dan Ahmad)

pluto

Pluto (pronounced en-us-Pluto.ogg /ˈpluːtoʊ/ (help·info), from Latin: Plūto), formal designation (134340) Pluto, is the second-largest known dwarf planet in the Solar System (after Eris) and the tenth-largest body observed directly orbiting the Sun. Originally classified as a planet, Pluto is now considered the largest member of a distinct population called the Kuiper belt.[7]

Like other members of the Kuiper belt, Pluto is composed primarily of rock and ice and is relatively small: approximately a fifth the mass of the Earth's Moon and a third its volume. It has a highly eccentric and highly inclined orbit.

Pluto's eccentricity takes it from 30 to 49 AU (4.4–7.4 billion km) from the Sun, causing Pluto to occasionally come closer to the Sun than Neptune. Pluto and its largest moon, Charon, are often treated together as a binary system because the barycentre of their orbits does not lie within either body.[8] The International Astronomical Union (IAU) has yet to formalise a definition for binary dwarf planets, and until it passes such a ruling, Charon is classified as a moon of Pluto.[9] Pluto has two known smaller moons, Nix and Hydra, discovered in 2005.[10]

From its discovery in 1930 until 2006, Pluto was considered the Solar System's ninth planet. In the late 20th and early 21st centuries, however, many objects similar to Pluto were discovered in the outer solar system, notably the scattered disc object Eris, which is 27% more massive than Pluto.[11] On August 24, 2006, the IAU defined the term "planet" for the first time. This definition excluded Pluto, which the IAU reclassified as a member of the new category of dwarf planets along with Eris and Ceres: Just as Ceres is part of the asteroid belt without being dominant within it, so Pluto is part of the Kupier belt without being dominant within it.[12] After the reclassification, Pluto was added to the list of minor planets and given the number 134340.[13][14] A number of scientists continue to hold that Pluto should be classified as a planet

mars

Mars (pronounced /ˈmɑrz/) is the fourth planet from the Sun in the Solar System. The planet is named after Mars, the Roman god of war. It is also referred to as the "Red Planet" because of its reddish appearance, due to iron oxide prevalent on its surface.

Mars is a terrestrial planet with a thin atmosphere, having surface features reminiscent both of the impact craters of the Moon and the volcanoes, valleys, deserts and polar ice caps of Earth. It is the site of Olympus Mons, the highest known mountain in the Solar System, and of Valles Marineris, the largest canyon. Furthermore, in June 2008 three articles published in Nature presented evidence of an enormous impact crater in Mars' northern hemisphere, 10,600 km long by 8,500 km wide, or roughly four times larger than the largest impact crater yet discovered, the South Pole-Aitken basin.[5][6] In addition to its geographical features, Mars’ rotational period and seasonal cycles are likewise similar to those of Earth.

Until the first flyby of Mars by Mariner 4 in 1965, many speculated that there might be liquid water on the planet's surface. This was based on observations of periodic variations in light and dark patches, particularly in the polar latitudes, which looked like seas and continents, while long, dark striations were interpreted by some observers as irrigation channels for liquid water. These straight line features were later proven not to exist and were instead explained as optical illusions. Still, of all the planets in the Solar System other than Earth, Mars is the most likely to harbor liquid water, and perhaps life.[7] Radar data from Mars Express and the Mars Reconnaissance Orbiter have revealed the presence of large quantities of water ice both at the poles (July 2005)[8] and at mid-latitudes (November 2008).[9] The Phoenix Mars Lander directly sampled water ice in shallow martian soil on July 31, 2008.[10]

Mars is currently host to three functional orbiting spacecraft: Mars Odyssey, Mars Express, and the Mars Reconnaissance Orbiter. With the exception of Earth, this is more than any planet in the Solar System. The surface is also home to the two Mars Exploration Rovers (Spirit and Opportunity) and several inert landers and rovers, both successful and unsuccessful. The Phoenix lander recently completed its mission on the surface. Geological evidence gathered by these and preceding missions suggests that Mars previously had large-scale water coverage, while observations also indicate that small geyser-like water flows have occurred during the past decade.[11] Observations by NASA's Mars Global Surveyor show evidence that parts of the southern polar ice cap have been receding.[12]

Mars has two moons, Phobos and Deimos, which are small and irregularly shaped. These may be captured asteroids, similar to 5261 Eureka, a Martian Trojan asteroid. Mars can be seen from Earth with the naked eye. Its apparent magnitude reaches −2.9,[4] a brightness surpassed only by Venus, the Moon, and the Sun, though most of the time Jupiter will appear brighter to the naked eye than Mars.

Earth

Earth (pronounced en-us-earth.ogg /ɝːθ/ (help·info))[10] is the third planet from the Sun. Earth is the largest of the terrestrial planets in the Solar System in diameter, mass and density. It is also referred to as the World and Terra.[note 1]

Home to millions of species,[11] including humans, Earth is the only place in the universe where life is known to exist. The planet formed 4.54 billion years ago,[12][13][14][15] and life appeared on its surface within a billion years. Since then, Earth's biosphere has significantly altered the atmosphere and other abiotic conditions on the planet, enabling the proliferation of aerobic organisms as well as the formation of the ozone layer which, together with Earth's magnetic field, blocks harmful radiation, permitting life on land.[16] The physical properties of the Earth, as well as its geological history and orbit, allowed life to persist during this period. The world is expected to continue supporting life for another 1.5 billion years, after which the rising luminosity of the Sun will eliminate the biosphere.[17]

Earth's outer surface is divided into several rigid segments, or tectonic plates, that gradually migrate across the surface over periods of many millions of years. About 71% of the surface is covered with salt-water oceans, the remainder consisting of continents and islands; liquid water, necessary for all known life, is not known to exist on any other planet's surface.[note 2][note 3] Earth's interior remains active, with a thick layer of relatively solid mantle, a liquid outer core that generates a magnetic field, and a solid iron inner core.

Earth interacts with other objects in outer space, including the Sun and the Moon. At present, Earth orbits the Sun once for every roughly 366.26 times it rotates about its axis. This length of time is a sidereal year, which is equal to 365.26 solar days.[note 4] The Earth's axis of rotation is tilted 23.4° away from the perpendicular to its orbital plane,[18] producing seasonal variations on the planet's surface with a period of one tropical year (365.24 solar days). Earth's only known natural satellite, the Moon, which began orbiting it about 4.53 billion years ago, provides ocean tides, stabilizes the axial tilt and gradually slows the planet's rotation. A cometary bombardment during the early history of the planet played a role in the formation of the oceans.[19] Later, asteroid impacts caused significant changes to the surface environment.

Both the mineral resources of the planet, as well as the products of the biosphere, contribute resources that are used to support a global human population. The inhabitants are grouped into about 200 independent sovereign states, which interact through diplomacy, travel, trade and military action. Human cultures have developed many views of the planet, including personification as a deity, a belief in a flat Earth, and a modern perspective of the world as an integrated environment that requires stewardship. Humans first left the planet in 1961, when Yuri Gagarin reached outer space.

Atlantis


Jump to: navigation, search
For other uses, see Atlantis (disambiguation).
Athanasius Kircher's map of Atlantis, in the middle of the Atlantic Ocean. From Mundus Subterraneus 1669, published in Amsterdam. The map is oriented with south at the top.

Atlantis (in Greek, Ἀτλαντὶς, "daughter of Atlas") is a legendary island first mentioned in Plato's dialogues Timaeus and Critias.[1]

In Plato's account, Atlantis was a naval power lying "in front of the Pillars of Hercules" that conquered many parts of Western Europe and Africa 9,000 years before the time of Solon, or approximately 9600 BC. After a failed attempt to invade Athens, Atlantis sank into the ocean "in a single day and night of misfortune".

As a story embedded in Plato's dialogues, Atlantis is generally seen as a myth created by Plato to illustrate his political theories.[citation needed] Although the function of the story of Atlantis seems clear to most scholars, they dispute whether and how much Plato's account was inspired by older traditions. Some scholars argue Plato drew upon memories of past events such as the Thera eruption or the Trojan War, while others insist that he took inspiration from contemporary events like the destruction of Helike in 373 BC[2] or the failed Athenian invasion of Sicily in 415–413 BC.

The possible existence of a genuine Atlantis was actively discussed throughout classical antiquity, but it was usually rejected and occasionally parodied by later authors. While little known during the Middle Ages, the story of Atlantis was rediscovered by Humanists in the Early Modern period. Plato's description inspired the utopian works of several Renaissance writers, like Francis Bacon's "New Atlantis". Atlantis inspires today's literature, from science fiction to comic books to films, its name having become a byword for any and all supposed advanced prehistoric lost civilizations.

Collapse of dynastic power




Main articles: History of the Han Dynasty and End of the Han Dynasty

The Three Kingdoms in 262, on the eve of the conquest of Shu.

What is traditionally thought of as the beginning of the "unofficial" Three Kingdoms Period is the Yellow Turban Rebellion led by Zhang Jiao in 184. The year long revolt devastated northern China, as Zhang's religious sect, the Way of Peace, battled the weakened Han Empire, whose army was led by He Jin. The Way of Peace was primarily composed of farmers who had suffered greatly under the corrupt government system and thus easily converted by Zhang Jiao to create a "new and peaceful world." The rebellion ended when Zhang Jiao died of illness, but the chaos the rebellion wrought, when combined with the natural disasters that had overrun China in the same period, destabilized the Han Dynasty and doomed it to fall. The rebellion also caused the central government to increase the allowance of military power of the local governments, which is one of the causes of the warring period that followed.

The series of events leading to the collapse of dynastic power and the rise of Cáo Cāo are extremely complex. The death of Emperor Ling in May 189 led to an unstable regency under General-in-chief He Jin and renewed rivalry between the factions of the eunuchs and regular civil bureaucracy. Following the assassination of He Jin, his chief ally the Colonel-Lieutenant of Retainers Yuan Shao led a massacre of the eunuchs in the imperial palaces in Luoyang. This event prompted the invitation of frontier general Dong Zhuo to enter Luoyang from the northwest boundary of China. At the time China faced the powerful barbarians of Qiang tribe to the northwest, and thus Dong Zhuo controlled a large army with elite training. When he brought the army to Luoyang, he was able to easily overpower the existing armies of both sides and took control of the imperial court, ushering in a period of civil war across China.

Dong Zhuo then manipulated the succession so that the future Emperor Xian could take the throne in lieu of his elder half-brother. Dong Zhuo, while ambitious, genuinely wished for a more capable emperor. On his way to Luoyang, he encountered a small team of soldiers protecting the two sons of Emperor Ling fleeing the war zone. In the encounter, Dong Zhuo acted arrogantly and threatening, causing the elder half-brother to be paralyzed with fear; the younger brother, future Emperor Xian, responded calmly with authority and commanded Dong Zhuo to protect the royal family with his army to return to the Imperial Court.

While Dong Zhuo originally wanted to re-establish the authority of Han Empire and manage all the political conflict properly, his political capability proved to be much worse than his military leadership. His behaviour grew more and more violent and authoritarian, executing or sending into exile all that opposed him, and showed less and less respect to the Emperor. He ignored all royal etiquette and frequently carried open weapons into the imperial court. In 190 a coalition led by Yuan Shao was formed between nearly all the provincial authorities in the eastern provinces of the empire against Dong Zhuo. The mounting pressure from repeated defeat on the southern frontline against the Sun Jian forces drove the Han Emperor and later Dong Zhuo himself west to Chang'an in May 191.

Dong Zhuo once again demonstrated his political shortcomings by forcing millions of residents of Luoyang to migrate to Chang'an. He then set fire to Luoyang, preventing occupation by his enemies and destroying the biggest city in China at that time. In addition, he ordered his army to slaughter a whole village of civilians. The soldiers beheaded civilians and carried their heads into Chang'an to show off as war trophies, pretending to have had a great victory against his enemies. A year later Dong Zhuo was killed in a coup d'etat by Wang Yun and Lü Bu.

[edit] Rise of Cao Cao
Sculpture of a foreign soldier, Three Kingdoms, 3rd century AD, China.

In 191, there was some talk among the coalition of appointing Liu Yu, an imperial relative, as emperor, and gradually its members began to fall out. Most of the warlords in the coalition, with a few exceptions, sought the increase of personal military power in the time of instability instead of seriously wishing to restore the Han Dynasty's authority. The Han empire was divided between a number of regional warlords. Yuan Shao occupied the northern area of Ye and extended his power, by taking over his superior Han Fu with trickery and intimidation, north of the Yellow River against Gongsun Zan, who held the northern frontier. Cáo Cāo, directly to Yuan's south, was engaged in a struggle against Yuan Shu and Liu Biao, who occupied respectively the Huai River basin and Middle Yangzi regions. Further south the young warlord Sun Ce, taking over after the untimely death of Sun Jian, was establishing his rule in the Lower Yangzi, albeit as a subordinate of Yuan Shu. In the west, Liu Zhang held Yizhou province while Hanzhong and the northwest were controlled by a motley collection of smaller warlords such as Ma Teng of Xiliang, the original post of Dong Zhuo.

Dong Zhuo, confident in his success, was slain by his own adopted son, Lü Bu and his father-in-law Wang Yun. Lü Bu, in turn, was attacked by Dong Zhuo's supporters: Li Jue, Guo Si, Zhang Ji (Zhang Xiu's Uncle) and Fan Chou. Wang Yun and his whole family were executed. Lu fled to Zhang Yang, a northern warlord, and remained with him for a time before briefly joining Yuan Shao, but it was clear that Lü Bu was far too independent to serve another.

In August 195, Emperor Xian fled the tyranny of Li Jue at Chang'an and made a year long hazardous journey east in search of supporters. By 196, when he was received by Cao Cao, most of the smaller contenders for power had either been absorbed by larger ones or destroyed. This is an extremely important move for Cao Cao with the suggestion from his primary advisor, Xun Yu, commenting that by supporting the authentic Emperor, Cao Cao would have the formal legal authority to control the other warlords and force them to comply in order to restore the Han dynasty.

Cao Cao, whose zone of control was the precursor to the Kingdom of Wei, had raised an army in the winter of 189. In several strategic movements and battles, he controlled the Dui province and defeated several factions of the Yellow Turban rebels. This earned him the aid of other local militaries controlled by Zhang Miao and Chen Gong, who joined his cause to create his first sizable army. He continued the effort and absorbed approximately 300,000 Yellow Turbans into his army as well as a number of clan-based military groups particular to the eastern side of Qing province. In 196 he established an imperial court at Xuchang and developed military agricultural colonies (tuntian) to support his army. Although the system imposed a heavy tax for hired civilian farmers (40% to 60% of agricultural production), the farmers were more than pleased to be able to work with relative stability and professional military protection in a time of chaos. This was later said to be his second important policy to success.

In 194, Cao Cao went to war with Tao Qian of Xuzhou, whose officers had executed his whole family. Tao Qian received the support of Liu Bei and Gongsun Zan, but even then, it seemed as if Cao Cao's superior forces would overrun Xuzhou entirely. However, Cao Cao received word that Lü Bu had seized Yan province in Cao Cao's absence, and thus, he retreated, putting a halt to hostilities with Tao Qian for the time being. Tao Qian died that same year, leaving his province to Liu Bei. A year later, in 195, Cao Cao managed to drive Lü Bu out of Yan. Lu Bu fled to Xuzhou and was received by Liu Bei, and an uneasy alliance began between the two.

In the south, Sun Ce, then an independent general under the service of Yuan Shu, defeated the warlords of Yangzhou, including Liu Yao, Wang Lang, and Yan Baihu. The speed with which Sun Ce accomplished his conquests led to his nickname, "Little Conqueror" (小霸王), a reference to the late Xiang Yu. In 197, Yuan Shu, who was at odds with Cao Cao, Yuan Shao, and Liu Bei, felt assured of victory with his subordinate's conquests, and thus declared himself emperor of the Cheng Dynasty. The move, however, was a tactical blunder, as it drew the ire of many warlords across the land, including Yuan Shu's own subordinate Sun Ce, who had advised Yuan Shu not to make such a move. Cao Cao issued orders to Sun Ce to attack Yuan Shu. Sun Ce complied, but first convinced Cao Cao to form a coalition against Yuan Shu, of which Liu Bei and Lü Bu were members. Attacked on all sides, Yuan Shu was defeated and fled into hiding.

Afterwards, Lü Bu betrayed Liu Bei and seized Xuzhou, forming an alliance with Yuan Shu's remnant forces. Liu Bei fled to Cao Cao, who accepted him. Soon, preparations were made for an attack on Lü Bu, and the combined forces of Cao Cao and Liu Bei besieged Xia Pi. Lü Bu's officers deserted him, Yuan Shu's forces never arrived as reinforcements, and he was bound by his own officers Song Xian and Wei Xu and executed along with many of his officers. Thus, the man known as the mightiest warrior in the land was no more.

In 200, Dong Cheng, an officer of the Imperial Court, received a secret edict from the Emperor to assassinate Cao Cao. He collaborated with Liu Bei on this effort, but Cao Cao soon found out about the plot and had Dong Cheng and his co-conspirators executed, with only Liu Bei surviving and fleeing to the Yuan Shao in the north.

After settling the nearby provinces, including a rebellion led by former Yellow Turbans, and internal affairs with the court, Cao Cao turned his attention north to Yuan Shao, who himself had eliminated his northern rival Gongsun Zan that same year. Yuan Shao, himself of higher nobility than Cao Cao, amassed a large army and camped along the northern bank of the Yellow river.

In 200, after winning a decisive battle against Liu Biao at Shaxian and putting down the rebellions of Xu Gong and others, Sun Ce was struck by an arrow and fatally wounded. On his deathbed, he named his younger brother, Sun Quan, as his heir.

Following months of planning, Cao Cao and Yuan Shao met in force at Guandu. Overcoming Yuan's superior numbers, (actual numbers vary in different sources, but Yuan Shao having a manifestly superior number is universally accepted) Cao Cao decisively defeated him by setting fire to his supplies, and in doing so crippled the northern army. Liu Bei fled to Liu Biao of Jing province, and many of Yuan Shao's forces were destroyed. In 202, Cao Cao took advantage of Yuan Shao's death and the resulting division among his sons to advance north of the Yellow River. He captured Ye in 204 and occupied the provinces of Ji, Bing, Qing and You. By the end of 207, after a lightning campaign against the Wuhuan barbarians, Cao Cao had achieved undisputed dominance of the North China P

merokok

Merokok memang sangat membahayakan keselamatan. Setidaknya, inilah yang kini sedang direnungkan Brandon Robles. Pria berusia 25 tahun asal Illinois Selatan itu baru saja lolos dari maut akibat menyalakan rokok sembarangan, yaitu didekat rel kereta api.

Kisah ini berawal ketika Robles pulang dengan jalan kaki. Di tengah jalan, saat berada di dekat rel kereta api, dia menyalakan rokoknya. Entah sadar atau tidak, tiba-tiba

Abstract art


Abstract art (also called non-objective art) uses a visual language of form, color and line to create a composition which may exist with a degree of independence from visual references in the world.[1] Western art had been, from the Renaissance up to the middle of the 19th century, underpinned by the logic of perspective and an attempt to reproduce an illusion of visible reality. The arts of cultures other than the European had become accessible and showed alternative ways of describing visual experience to the artist. By the end of the 19th century many artists felt a need to create a new kind of art which would encompass the fundamental changes taking place in technology, science and philosophy. The sources from which individual artists drew their theoretical arguments were diverse, and reflected the social and intellectual preoccupations in all areas of Western culture at that time.[2]

Abstraction indicates a departure from reality in depiction of imagery in art. This departure from accurate representation can be only slight, or it can be partial, or it can be complete. Abstraction exists along a continuum. Even art that aims for verisimilitude of the highest degree can be said to be abstract, at least theoretically, since perfect representation is likely to be exceedingly elusive. Artwork which takes liberties, altering for instance color and form in ways that are conspicuous, can be said to be partially abstract. Total abstraction bears no trace of any reference to anything recognizable. In geometric abstraction, for instance, one is unlikely to find references to naturalistic entities. Figurative art and total abstraction are almost mutually exclusive. But figurative and representational (or realistic) art often contains partial abstraction.

Both Geometric abstraction and Lyrical Abstraction are often totally abstract. Among the very numerous art movements that embody partial abstraction would be for instance fauvism in which color is conspicuously and deliberately altered vis-a-vis reality, and cubism, which blatantly alters the forms of the real life entities depicted.[3][4]


An electric vehicle (EV) is a vehicle with one or more electric motors for propulsion. This is also referred to as an electric drive vehicle. The motion may be provided either by wheels or propellers driven by rotary motors, or in the case of tracked vehicles, by linear motors.

Unlike an internal combustion engine (ICE) that is tuned to specifically operate with a particular fuel such as gasoline or diesel, an electric drive vehicle needs electricity, which comes from sources such as batteries or a generator. This flexibility allows the drive train of the vehicle to remain the same, while the fuel source can be changed.

The energy used to propel the vehicle may be obtained from several sources, some of them more ecological than others:

* on-board rechargeable electricity storage system (RESS), called Full Electric Vehicles (FEV). Power storage methods include:
o chemical energy stored on the vehicle in on-board batteries: Battery electric vehicle (BEV)
o static energy stored on the vehicle in on-board electric double-layer capacitors
o kinetic energy storage: flywheels
* direct connection to generation plants as is common among electric trains, trolley buses, and trolley trucks (See also : overhead lines, third rail and conduit current collection)
* renewable sources such as solar power: solar vehicle
* generated on-board using a diesel engine: diesel-electric locomotive
* generated on-board using a fuel cell: fuel cell vehicle
* generated on-board using nuclear energy: nuclear submarines and aircraft carriers


It is also possible to have hybrid electric vehicles that derives energy from multiple sources. Such as:

* on-board rechargeable electricity storage system (RESS) and a direct continuous connection to land-based generation plants for purposes of on-highway recharging with unrestricted highway range
* on-board rechargeable electricity storage system and a fueled propulsion power source (internal combustion engine): plug-in hybrid


History

Logica was founded by Len Taylor, Philip Hughes and Pat Coen as a systems integration business in 1969.[1] Early projects included the control system for the natural gas grid in the UK in 1971 and the design of the SWIFT network for international money transfers in 1973.[1]

In 1974, Logica, together with the French company SESA (now part of Capgemini), set up a joint venture, Sesa-Logica, to undertake the European Informatics Network development. This project, undertaken with the support of partners throughout Europe and with the assistance of Bolt, Beranek and Newman in Cambridge, Massachusetts, brought the core datagram technology of the Arpanet, now the Internet, to Europe for the first time, and established a network linking research centres in a number of European Countries, including CERN, the French research centre INRIA and the UK’s National Physical Laboratory.[2]

In 1975, Logica developed the first electronic typing pool – Unicom – for Unilever. This development allowed the complete functions of a typing pool to be automated into a single system supporting about 50 workstations. With the support of the UK’s National Enterprise Board the company established a new subsidiary to exploit this technology, Logica VTS. A range of stand alone word processors, the VTS 100 and the VTS 2200, were developed and were manufactured at a purpose built factory in Swindon. These machines were sold internationally by BT and by International Computers Ltd and were amongst the first word processors to achieve mass sales. However the advent of the Personal Computer and software such as Microsoft Word led to the decline of this business and its ultimate closure.[3]

At this time Logica set up operating subsidiaries in the Netherlands, Australia, Sweden, the United States and elsewhere as well as joint ventures in Hong Kong with Jardine Matheson, in Italy with Finsiel and in the UK with British Airways. The Company floated on the London Stock Exchange on 26 October 1983.[1]

In 1984 the Company developed the automated clearing system for the UK banks (CHAPS)[1] as well as the customer service system for British Telecom.[1]

The Company pioneered the automated ticketing system for London Underground in 1987[1] and the system which randomly generates premium bond numbers (ERNIE) in 1988.[1]

Logica was also responsible at this time for the first commercial Short Message Service (SMS) system to Telia in Sweden: this was later to become a major line of business for the Company.[1]

During the late 1980s and early 1990s the Company was led by Dr David Mann.[4]

Dr Martin Read was recruited from GEC Marconi and appointed CEO in August 1993.[1] All the executive directors left the company during the two years following his appointment.[5] In 2001 the Company secured an outsourcing contract to create and operate a new case management system for the Crown Prosecution Service.[6] At this time the level of Dr Read's remuneration received attention when it was revealed that he enjoyed a £28 million pay packet.[7]

The merger of Logica (60%) with CMG (40%), on 30 December 2002, represented the union of an established technology firm (Logica) with an established consulting firm (CMG).[8] In June 2003 LogicaCMG’s software controlled the Beagle 2 probe after separation from the Mars Express orbiter.[9]

In 2005 LogicaCMG purchased 60% of the Portuguese company Edinfor,[1] and in March 2008 purchased the remaining 40%. In 2006, LogicaCMG purchased the French company Unilog and the Swedish company WM-data.[1]

The Company suffered some embarrassment in 2006 when laptops containing police payroll data were stolen from LogicaCMG[10] and Transport for London terminated an IT outsourcing contract with LogicaCMG after payment disputes and a failure to meet service level agreements.[11]

On 20 February 2007 LogicaCMG Telecom Products was sold for £265m (US $525m) to private investors Atlantic Bridge Ventures and Access Industries and became known as Acision.[12]

Following a profit warning in 2007,[13] Andy Green was recruited as the new CEO and took office from 1 January 2008.[14] On 27 February 2008, the Company changed its name back to Logica.[1] In April 2008 Green announced a major restructuring programme for the company, leading to 1,300 job losses.[15] Also in May 2008 the Company announced that it would outsource more of its activities including SAP support and HR and payroll administration to Makati City in the Philippines

Second Crusade

The Second Crusade (1147–1149) was the second major crusade launched from Europe, called in 1145 in response to the fall of the County of Edessa the previous year.

Edessa was the first of the Crusader states to have been founded during the First Crusade (1095–1099), and was the first to fall. The Second Crusade was announced by Pope Eugene III, and was the first of the crusades to be led by European kings, namely Louis VII of France and Conrad III of Germany, with help from a number of other important European nobles. The armies of the two kings marched separately across Europe and were somewhat hindered by Byzantine emperor Manuel I Comnenus; after crossing Byzantine territory into Anatolia, both armies were separately defeated by the Seljuk Turks. Louis and Conrad and the remnants of their armies reached Jerusalem and, in 1148, participated in an ill-advised attack on Damascus. The crusade in the east was a failure for the crusaders and a great victory for the Muslims. It would ultimately lead to the fall of Jerusalem and the Third Crusade at the end of the 12th century.

The only success came outside of the Mediterranean, where Flemish, Frisian, Norman, English, Scottish, and some German crusaders, on the way by ship to the Holy Land, fortuitously stopped and helped the Portuguese in the capture of Lisbon in 1147.

Meanwhile, in Eastern Europe, the first of the Northern Crusades began with the intent of forcibly converting pagan tribes to Christianity, and these crusades would go on for centuries

ഞുദുല്‍

daftar hadir santri pondok MA miftahussalam banyumas

മാറി കിട രുബത് ഇമെയില്‍ kita

Welcome to Gmail

Once you complete this form, your Gmail username will become your new default email address as well as the primary address identifying your Google Account. Your previous email address will remain a part of your Google Account and you may continue to log in with that address if you prefer.

If you wish to create a separate Google Account for use with the Gmail service then click here to first log out and create a new Google Account. (Note: you can only be logged into one Google Account at a time).

israel

Israel
israel sebagai negara teroristis


Jump to: navigation, search
Semi-protected
This is related to a current event: 2008–2009 Israel–Gaza conflict.
Information may change rapidly as the event progresses.

For a topic outline on this subject, see List of basic Israel topics. For other uses, see Israel (disambiguation).

Featured article
מְדִינַת יִשְרָאֵל‎‎
Medīnat Yisrā'el دولة إسرائيل‎
Dawlat Isrā'īl
State of Israel
Flag of Israel Emblem of Israel
Flag Emblem
Anthem: Hatikvah
The Hope
Location of Israel
Capital
(and largest city) Jerusalem[1]
[show location on an interactive map] 31°47′N 35°13′E / 31.783, 35.217
Official languages Hebrew, Arabic[2]
Ethnic groups 76% Jewish, 19% Arab, 5% minority groups
Demonym Israeli
Government Parliamentary democracy[2]
- President Shimon Peres
- Prime Minister Ehud Olmert
- Knesset Speaker Dalia Itzik
- Supreme Court President Dorit Beinisch
Independence from British Mandate of Palestine
- Declaration May 14, 1948 (05 Iyar 5708)
Area
- Total 1 20,770 / 22,072 km2 (151st)
8,019 / 8,522 sq mi
- Water (%) ~2%
Population
- 2008 estimate 7,282,0002[3] (96th)
- 1995 census 5,548,523
- Density 324/km2 (34th)
839/sq mi
GDP (PPP) 2007 estimate
- Total $188.936 billion[4] (52nd)
- Per capita $27,146[4] (32nd)
GDP (nominal) 2007 estimate
- Total $164.103 billion[4]
- Per capita $23,578[4]
Gini (2005) 38.6[2]
HDI (2007) ▬ 0.932 (high) (23rd)
Currency Israeli new sheqel (₪‎) (ILS)
Time zone IST (UTC+2)
- Summer (DST) (UTC+3)
Drives on the right
Internet TLD .il
Calling code 972
1 Excluding / Including the Golan Heights and East Jerusalem; see below.
2 Includes all permanent residents in proper Israel, the Golan Heights and East Jerusalem. Also includes Israeli population in the West Bank.

Israel (Hebrew: יִשְרָאֵל‎, Yisra'el; Arabic: إسرائيل‎, Isrā'īl) officially the State of Israel (Hebrew: He-Medinat Israel.ogg מְדִינַת יִשְרָאֵל‎ (help·info), Medinat Yisra'el; Arabic: دَوْلَةْ إِسْرَائِيل‎, Dawlat Isrā'īl), is a country in Western Asia located on the eastern edge of the Mediterranean Sea. It borders Lebanon in the north, Syria in the northeast, Jordan in the east, and Egypt on the southwest, and contains geographically diverse features within its relatively small area.[5] The West Bank and Gaza Strip are also adjacent. With a population of about 7.28 million,[3] the majority of whom are Jews, Israel is the world's only Jewish state.[6] It is also home to other ethnic groups, including most numerously Arab citizens of Israel, as well as many religious groups including Muslims, Christians, Druze, Samaritans and others.

The modern state of Israel has its roots in the Land of Israel (Eretz Yisrael), a concept central to Judaism since ancient times,[7] and the heartland of the ancient Kingdom of Judah to which modern Jews are usually attributed. After World War I, the League of Nations approved the British Mandate of Palestine with the intent of creating a "national home for the Jewish people."[8] In 1947, the United Nations approved the partition of Palestine into two states, one Jewish and one Arab.[9] On May 14, 1948 the state of Israel declared independence and this was followed by a war with the surrounding Arab states, which refused to accept the plan. The Israelis were subsequently victorious in a series of wars confirming their independence and expanding the borders of the Jewish state beyond those in the UN Partition Plan. Since then, Israel has been in conflict with many of the neighboring Arab countries, resulting in several major wars and decades of violence that continue to this day.[10] Since its foundation, Israel's boundaries and the State's right to exist have been subject to dispute, especially among its Arab neighbors and their many Palestinian refugees. Israel has signed peace treaties with Egypt and Jordan, though efforts for a long-lasting peace with the Palestinians have so far been unsuccessful.

Israel is a representative democracy with a parliamentary system and universal suffrage.[11][12] The Prime Minister serves as head of government and the Knesset serves as Israel's legislative body. In terms of nominal gross domestic product, the nation's economy is estimated as being the 44th-largest in the world.[13] Israel ranks highest among Middle Eastern countries on the bases of human development,[14] freedom of the press,[15] and economic competitiveness.[16] Jerusalem is the country's capital, seat of government, and largest city, while Israel's main financial center is Tel Aviv.[1]

b

Friendster Layouts
Friendster-Layouts.com: Hance Williams's layouts

Frog
From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search
Semi-protected
For other uses, see Frog (disambiguation).
Frog
Fossil range: Triassic–present
PreЄ
Є
O
S
D
C
P
T
J
K
Pg
N
White's Tree Frog (Litoria caerulea)
White's Tree Frog (Litoria caerulea)
Scientific classification
Kingdom: Animalia
Phylum: Chordata
Class: Amphibia
Order: Anura
Merrem, 1820
Native distribution of frogs (in black)
Native distribution of frogs (in black)
Suborders

Archaeobatrachia
Mesobatrachia
Neobatrachia
-
List of Anuran families

The frog is an amphibian in the order Anura (meaning "tail-less", from Greek an-, without + oura, tail), formerly referred to as Salientia (Latin saltare, to jump). The name frog derives from Old English frogga,[1] (compare Old Norse frauki, German Frosch, older Dutch spelling kikvorsch), cognate with Sanskrit plava (frog), probably deriving from Proto-Indo-European praw = "to jump".[2]

Most frogs are characterized by long hind legs, a short body, webbed digits (fingers or toes), protruding eyes and the absence of a tail. Most frogs have a semi-aquatic lifestyle, but move easily on land by jumping or climbing. They typically lay their eggs in puddles, ponds or lakes, and their larvae, called tadpoles, have gills and develop in water. Adult frogs follow a carnivorous diet, mostly of arthropods, annelids and gastropods. Frogs are most noticeable by their call, which can be widely heard during the night or day, mainly in their mating season.

The distribution of frogs ranges from tropic to subarctic regions, but most species are found in tropical rainforests. Consisting of more than 5,000 species described, they are among the most diverse groups of vertebrates. However, populations of certain frog species are significantly declining.

A distinction is often made between frogs and toads on the basis of their appearance, caused by the convergent adaptation among so-called toads to dry environments; however, this distinction has no taxonomic basis. The only family exclusively given the common name "toad" is Bufonidae, but many species from other families are also called "toads," and the species within the toad genus Atelopus are referred to as "harlequin frogs".
Contents
[hide]

* 1 Taxonomy
* 2 Morphology and physiology
o 2.1 Feet and legs
o 2.2 Jumping
o 2.3 Skin
o 2.4 Poison
o 2.5 Respiration and circulation
o 2.6 Digestion and excretion
o 2.7 Nervous system
* 3 Natural history
o 3.1 Life cycle
o 3.2 Reproduction of frogs
o 3.3 Parental care
o 3.4 Call
* 4 Distribution and conservation status
* 5 Evolution
* 6 Uses in agriculture and research
* 7 Cultural beliefs
* 8 See also
* 9 Cited references
* 10 General references
* 11 External links
o 11.1 Media

Taxonomy
European Fire-bellied Toad (Bombina bombina)

For more details on this topic, see List of Anuran families.

The order Anura contains 4,810 species[3] in 33 families, of which the Leptodactylidae (1100 spp.), Hylidae (800 spp.) and Ranidae (750 spp.) are the richest in species. About 88% of amphibian species are frogs.

The use of the common names "frog" and "toad" has no taxonomic justification. From a taxonomic perspective, all members of the order Anura are frogs, but only members of the family Bufonidae are considered "true toads". The use of the term "frog" in common names usually refers to species that are aquatic or semi-aquatic with smooth and/or moist skins, and the term "toad" generally refers to species that tend to be terrestrial with dry, warty skin that seems as though it has been mauled by another animal. An exception is the fire-bellied toad (Bombina bombina): while its skin is slightly warty, it prefers a watery habitat.

Frogs and toads are broadly classified into three suborders: Archaeobatrachia, which includes four families of primitive frogs; Mesobatrachia, which includes five families of more evolutionary intermediate frogs; and Neobatrachia, by far the largest group, which contains the remaining 24 families of "modern" frogs, including most common species throughout the world. Neobatrachia is further divided into the Hyloidea and Ranoidea.[4] This classification is based on such morphological features as the number of vertebrae, the structure of the pectoral girdle, and the morphology of tadpoles. While this classification is largely accepted, relationships among families of frogs are still debated. Future studies of molecular genetics should soon provide further insights to the evolutionary relationships among Anuran families.[5]

Some species of anurans hybridise readily. For instance, the Edible Frog (Rana esculenta) is a hybrid of the Pool Frog (R. lessonae) and the Marsh Frog (R. ridibunda). Bombina bombina and Bombina variegata similarly form hybrids, although these are less fertile, giving rise to a hybrid zone.

Morphology and physiology
Skeleton of Rana

The morphology of frogs is unique among amphibians. Compared with the other two groups of amphibians, (salamanders and caecilians), frogs are unusual because they lack tails as adults and their legs are more suited to jumping than walking. The physiology of frogs is generally like that of other amphibians (and differs from other terrestrial vertebrates) because oxygen can pass through their highly permeable skin. This unique feature allows frogs to "breathe" largely through their skin.[citation needed] Because the oxygen is dissolved in an aqueous film on the skin and passes from there to the blood, the skin must remain moist at all times; this makes frogs susceptible to many toxins in the environment, some of which can similarly dissolve in the layer of water and be passed into their bloodstream. This may be cause of the decline in frog populations.[citation needed]

Many characteristics are not shared by all of the approximately 5,250 described frog species. However, some general characteristics distinguish them from other amphibians. Frogs are usually well suited to jumping, with long hind legs and elongated ankle bones. They have a short vertebral column, with no more than ten free vertebrae, followed by a fused tailbone (urostyle or coccyx), typically resulting in a tailless phenotype.[citation needed]

Frogs range in size from 10 mm (0.39 in) (Brachycephalus didactylus of Brazil and Eleutherodactylus iberia of Cuba) to 300 mm (12 in) (goliath frog, Conraua goliath, of Cameroon). The skin hangs loosely on the body because of the lack of loose connective tissue. Skin texture varies: it can be smooth, warty or folded. Frogs have three eyelid membranes: one is transparent to protect the eyes underwater, and two vary from translucent to opaque. Frogs have a tympanum on each side of the head, which is involved in hearing and, in some species, is covered by skin. Most frogs do in fact have teeth of a sort. They have a ridge of very small cone teeth around the upper edge of the jaw. These are called maxillary teeth. Frogs often also have what are called vomerine teeth on the roof of their mouth. They do not have anything that could be called teeth on their lower jaw, so they usually swallow their food whole. The so-called "teeth" are mainly used to hold the prey and keep it in place till they can get a good grip on it and squash their eyeballs down to swallow their meal. Toads, however, do not have any teeth.[citation needed]
Tyler's Tree Frog (Litoria tyleri) illustrates large toe pads and webbed feet.

Feet and legs

The structure of the feet and legs varies greatly among frog species, depending in part on whether they live primarily on the ground, in water, in trees, or in burrows. Frogs must be able to move quickly through their environment to catch prey and escape predators, and numerous adaptations help them do so.

Many frogs, especially those that live in water, have webbed toes. The degree to which the toes are webbed is directly proportional to the amount of time the species lives in the water. For example, the completely aquatic African dwarf frog (Hymenochirus sp.) has fully webbed toes, whereas the toes of White's tree frog (Litoria caerulea), an arboreal species, are only a half or a quarter webbed.

Arboreal frogs have "toe pads" to help grip vertical surfaces. These pads, located on the ends of the toes, do not work by suction. Rather, the surface of the pad consists of interlocking cells, with a small gap between adjacent cells. When the frog applies pressure to the toe pads, the interlocking cells grip irregularities on the substrate. The small gaps between the cells drain away all but a thin layer of moisture on the pad, and maintain a grip through capillarity. This allows the frog to grip smooth surfaces, and does not function when the pads are excessively wet.[6]

In many arboreal frogs, a small "intercalary structure" in each toe increases the surface area touching the substrate. Furthermore, since hopping through trees can be dangerous, many arboreal frogs have hip joints that allow both hopping and walking. Some frogs that live high in trees even possess an elaborate degree of webbing between their toes, as do aquatic frogs. In these arboreal frogs, the webs allow the frogs to "parachute" or control their glide from one position in the canopy to another.[7]

Ground-dwelling frogs generally lack the adaptations of aquatic and arboreal frogs. Most have smaller toe pads, if any, and little webbing. Some burrowing frogs have a toe extension—a metatarsal tubercle—that helps them to burrow. The hind legs of ground dwellers are more muscular than those of aqueous and tree-dwelling frogs.

Jumping

Frogs are generally recognized as exceptional jumpers, and the best jumper of all vertebrates. The Australian rocket frog, Litoria nasuta, can leap over 50 times their body length (5.5 cm), resulting in jumps of over 2 meters. The acceleration of the jump may be up to twice gravity. There are tremendous differences between species in jumping capability, but within a species, jump distance increases with increasing size, but relative jumping distance (body-lengths jumped) decreases.

While frog species can use a variety of locomotor modes (running, walking, gliding, swimming, and climbing), more are either proficient at jumping or descended from ancestors who were, with much of the musculo-skeletal morphology modified for this purpose. The tibia, fibula and tarsals have been fused into a single, strong bone, as have the radius and ulna in the forelimbs (which must absorb the impact of landing). The metatarsals have become elongated to add to the leg length and allow the frog to push against the ground for longer during a jump. The illium has elongated and formed a mobile joint with the sacrum which, in specialist jumpers such as Ranids or Hylids, functions as an additional limb joint to further power the leaps. This elongation of the limbs results in the frog being able to apply force to the ground for longer during a jump, which in turn results in a longer, faster jump.[citation needed]

The muscular system has been similarly modified. The hind limbs of the ancestor of frogs presumably contained pairs of muscles which would act in opposition (one muscle to flex the knee, a different muscle to extend it), as is seen in most other limbed animals. However, in modern frogs, almost all muscles have been modified to contribute to the action of jumping, with only a few small muscles remaining to bring the limb back to the starting position and maintain posture. The muscles have also been greatly enlarged, with the muscles involved in jumping accounting for over 17% of the total mass of the frog.

In some extremely capable jumpers, such as the cuban tree frog, the peak power exerted during a jump can exceed what muscle is capable of producing. Currently, it is hypothesized that frogs are storing muscular energy by stretching their tendons like springs, then triggering the release all at once, allowing the frog to increase the energy of its jump beyond the limits of muscle-powered acceleration. A similar mechanism has already been documented in locusts and grasshoppers.[citation needed]

Skin
Pouched Frog (Assa darlingtoni) camouflaged against leaf litter.

Many frogs are able to absorb water and oxygen directly through the skin, especially around the pelvic area. However, the permeability of a frog's skin can also result in water loss. Some tree frogs reduce water loss with a waterproof layer of skin. Others have adapted behaviours to conserve water, including engaging in nocturnal activity and resting in a water-conserving position. This position involves the frog lying with its toes and fingers tucked under its body and chin, respectively, with no gap between the body and substrate. Some frog species will also rest in large groups, touching the skin of the neighbouring frog. This reduces the amount of skin exposed to the air or a dry surface, and thus reduces water loss. These adaptations only reduce water loss enough for a predominantly arboreal existence, and are not suitable for arid conditions.

Camouflage is a common defensive mechanism in frogs. Most camouflaged frogs are nocturnal, which adds to their ability to hide. Nocturnal frogs usually find the ideal camouflaged position during the day to sleep. Some frogs have the ability to change colour, but this is usually restricted to shades of one or two colours. For example, White's tree frog varies in shades of green and brown. Features such as warts and skin folds are usually found on ground-dwelling frogs, where a smooth skin would not disguise them effectively. Arboreal frogs usually have smooth skin, enabling them to disguise themselves as leaves.[citation needed]

Certain frogs change colour between night and day, as light and moisture stimulate the pigment cells and cause them to expand or contract.
Oophaga pumilio, a poison dart frog, contains numerous alkaloids which deter predators.

Poison

Many frogs contain mild toxins that make them unpalatable to potential predators. For example, all toads have large poison glands—the parotoid glands—located behind the eyes on the top of the head. Some frogs, such as some poison dart frogs, are especially toxic. The chemical makeup of toxins in frogs varies from irritants to hallucinogens, convulsants, nerve poisons, and vasoconstrictors. Many predators of frogs have adapted to tolerate high levels of these poisons. Others, including humans, may be severely affected.

Some frogs obtain poisons from the ants and other arthropods they eat;[8] others, such as the Australian Corroboree Frogs (Pseudophryne corroboree and Pseudophryne pengilleyi), can manufacture an alkaloid not derived from their diet.[9] Some native people of South America extract poison from the poison dart frogs and apply it to their darts for hunting,[10] although few species are toxic enough to be used for this purpose. It was previously a misconception the poison was placed on arrows rather than darts. The common name of these frogs was thus changed from "poison arrow frog" to "poison dart frog" in the early 1980s. Poisonous frogs tend to advertise their toxicity with bright colours, an adaptive strategy known as aposematism. There are at least two non-poisonous species of frogs in tropical America (Eleutherodactylus gaigei and Lithodytes lineatus) that mimic the colouration of dart poison frogs' coloration for self-protection (Batesian mimicry).[11][12]

Because frog toxins are extraordinarily diverse, they have raised the interest of biochemists as a "natural pharmacy". The alkaloid epibatidine, a painkiller 200 times more potent than morphine, is found in some species of poison dart frogs. Other chemicals isolated from the skin of frogs may offer resistance to HIV infection.[13] Arrow and dart poisons are under active investigation for their potential as therapeutic drugs.[14]

The skin secretions of some toads, such as the Colorado River toad and cane toad, contain bufotoxins, some of which, such as bufotenin, are psychoactive, and have therefore been used as recreational drugs. Typically, the skin secretions are dried and smoked. Skin licking is especially dangerous, and appears to constitute an urban myth. See psychoactive toad.

Respiration and circulation

The skin of a frog is permeable to oxygen and carbon dioxide, as well as to water. There are a number of blood vessels near the surface of the skin. When a frog is underwater, oxygen is transmitted through the skin directly into the bloodstream. On land, adult frogs use their lungs to breathe. Their lungs are similar to those of humans, but the chest muscles are not involved in respiration, and there are no ribs or diaphragm to support breathing. Frogs breathe by taking air in through the nostrils (which often have valves which close when the frog is submerged), causing the throat to puff out, then compressing the floor of the mouth, which forces the air into the lungs. In August 2007 an aquatic frog named Barbourula kalimantanensis was discovered in a remote part of Indonesia. The Bornean Flat-headed Frog (B. kalimantanensis) is the first species of frog known to science without lungs.

Frogs are known for their three-chambered heart, which they share with all tetrapods except birds and mammals. In the three-chambered heart, oxygenated blood from the lungs and de-oxygenated blood from the respiring tissues enter by separate atria, and are directed via a spiral valve to the appropriate vessel—aorta for oxygenated blood and pulmonary vein for deoxygenated blood. This special structure is essential to keeping the mixing of the two types of blood to a minimum, which enables frogs to have higher metabolic rates, and to be more active than otherwise.

Digestion and excretion

The frog's digestive system begins with the mouth. Frogs have teeth along their upper jaw called the maxillary teeth, which are used to grind food before swallowing. These teeth are very weak, and cannot be used to catch or harm agile prey. Instead, the frog uses its sticky tongue to catch food (such as flies or other insects). The food then moves through the esophagus into the stomach. The food then proceeds to the small intestine (duodenum and ileum) where most digestion occurs. Frogs carry pancreatic juice from the pancreas, and bile (produced by the liver) through the gallbladder from the liver to the small intestine, where the fluids digest the food and extract the nutrients. When the food passes into the large intestine, the water is reabsorbed and wastes are routed to the cloaca. All wastes exit the body through the cloaca and the cloacal vent.


Nervous system

The frog has a highly developed nervous system which consists of a brain, spinal cord and nerves. Many parts of the frog's brain correspond with those of humans. The medulla oblongata regulates respiration, digestion, and other automatic functions. Muscular coordination and posture are controlled by the cerebellum. The relative size of the cerebrum of a frog is much smaller than that of a human. Frogs have ten cranial nerves (nerves which pass information from the outside directly to the brain) and ten pairs of spinal nerves (nerves which pass information from extremities to the brain through the spinal cord). By contrast, all amniotes (mammals, birds and reptiles) have twelve cranial nerves. Frogs do not have external ears; the eardrums (tympanic membranes) are directly exposed. As in all animals, the ear contains semicircular canals which help control balance and orientation.

Natural history

The life cycle of frogs, like that of other amphibians, consists of four main stages: egg, tadpole, metamorphosis and adult. The reliance of frogs on an aquatic environment for the egg and tadpole stages gives rise to a variety of breeding behaviours that include the well-known mating calls used by the males of most species to attract females to the bodies of water that they have chosen for breeding. Some frogs also look after their eggs—and in some cases even the tadpoles—for some time after laying.

Life cycle
Frogspawn
Frogspawn development
Tadpole of Haswell's Froglet (Paracrinia haswelli
Adult leopard frog
Sister project Wikibooks has a book on the topic of
Adventist Youth Honors Answer Book/Nature/Life cycle of a frog

The life cycle of a frog starts with an egg. A female generally lays frogspawn, or egg masses containing thousands of eggs, in water. The eggs are highly vulnerable to predation, so frogs have evolved many techniques to ensure the survival of the next generation. In colder areas the embryo is black to absorb more heat from the sun, which speeds up the development. Most commonly, this involves synchronous reproduction. Many individuals will breed at the same time, overwhelming the actions of predators; the majority of the offspring will still die due to predation, but there is a greater chance some will survive. Another way in which some species avoid the predators and pathogens eggs are exposed to in ponds is to lay eggs on leaves above the pond, with a gelatinous coating designed to retain moisture. In these species the tadpoles drop into the water upon hatching. The eggs of some species laid out of water can detect vibrations of nearby predatory wasps or snakes, and will hatch early to avoid being eaten.[15] Some species, such as the Cane Toad (Bufo marinus), lay poisonous eggs to minimise predation. While the length of the egg stage depends on the species and environmental conditions, aquatic eggs generally hatch within one week. Other species goes through their whole larval phase inside the eggs or the mother, or they have direct development.

Eggs hatch and continue life as tadpoles (occasionally known as polliwogs), which typically have oval bodies and long, vertically-flattened tails. At least one species (Nannophrys ceylonensis) has tadpoles that are semi-terrestrial and lives among wet rocks,[16][17] but as a general rule, free living larvae are fully aquatic. They lack lungs, eyelids, front and hind legs, and have a cartilaginous skeleton, a lateral line system, gills for respiration (external gills at first, internal gills later) and tails with dorsal and ventral folds of skin for swimming[18]. Some species which go through the metamorphosis inside the egg and hatch to small frogs never develop gills, instead there are specialised areas of skin that takes care of the respiration. Tadpoles also lack true teeth, but the jaws in most species usually have two elongate, parallel rows of small keratinized structures called keradonts in the upper jaw while the lower jaw has three rows of keradonts, surrounded by a horny beak, but the number of rows can be lower or absent, or much higher[1]. Tadpoles are typically herbivorous, feeding mostly on algae, including diatoms filtered from the water through the gills. Some species are carnivorous at the tadpole stage, eating insects, smaller tadpoles, and fish. Tadpoles are highly vulnerable to predation by fish, newts, predatory diving beetles and birds such as kingfishers. Cannibalism has been observed among tadpoles. Poisonous tadpoles are present in many species, such as Cane Toads. The tadpole stage may be as short as a week, or tadpoles may overwinter and metamorphose the following year in some species, such as the midwife toad (Alytes obstetricans) and the common spadefoot (Pelobates fuscus). In the Pipidae, with the exception for Hymenochirus, the tadpoles have paired anterior barbels which make them resemble small catfish[19].

With the exception of the base of the tail, where a few vertebral structures develop to give rise to the urostyle later in life, the tail lacks the completely solid, segmental, skeletal elements of cartilage or bony tissue that are so typical for other vertebrates, although it does contain a notochord

At the end of the tadpole stage, frogs undergo metamorphosis, in which they transition into adult form. Metamorphosis involves a dramatic transformation of morphology and physiology, as tadpoles develop hind legs, then front legs, lose their gills and develop lungs. Their intestines shorten as they shift from an herbivorous to a carnivorous diet. Eyes migrate rostrally and dorsally, allowing for binocular vision exhibited by the adult frog. This shift in eye position mirrors the shift from prey to predator, as the tadpole develops and depends less upon a larger and wider field of vision and more upon depth perception. The final stage of development from froglet to adult frog involves apoptosis (programmed cell death) and resorption of the tail.

After metamorphosis, young adults may leave the water and disperse into terrestrial habitats, or continue to live in the aquatic habitat as adults. Almost all species of frogs are carnivorous as adults, eating invertebrates such as arthropods, annelids and gastropods. A few of the larger species may eat prey such as small mammals, fish and smaller frogs. Some frogs use their sticky tongues to catch fast-moving prey, while others capture their prey and force it into their mouths with their hands. However, there are a very few species of frogs that primarily eat plants.[20] Adult frogs are themselves preyed upon by birds, large fish, snakes, otters, foxes, badgers, coatis, and other animals. Frogs are also eaten by people (see section on uses in agriculture and research, below).

Frogs and toads can live for many years; though little is known about their life span in the wild, captive frogs and toads are recorded living up to 40 years.[21]

Although it is not common knowledge, some species of frog in their tadpole stage are known to be carnivorous. Early developers who gain legs may be eaten by the others, so the late bloomers survive longer. This has been observed in England in the species Rana temporaria (common frog).[22]

Unlike salamanders and newts, frogs and toads never become sexually mature while still in their larval stage.

Reproduction of frogs

Once adult frogs reach maturity, they will assemble at a water source such as a pond or stream to breed. Many frogs return to the bodies of water where they were born, often resulting in annual migrations involving thousands of frogs. In continental Europe, a large proportion of migrating frogs used to die on roads, before special fences and tunnels were built for them.
Male and female Common toad (Bufo bufo) in amplexus

Once at the breeding ground, male frogs call to attract a mate, collectively becoming a chorus of frogs. The call is unique to the species, and will attract females of that species. Some species have satellite males who do not call, but intercept females that are approaching a calling male.

The male and female frogs then undergo amplexus. This involves the male mounting the female and gripping her (sometimes with special nuptial pads) tightly. Fertilization is external: the egg and sperm meet outside of the body. The female releases her eggs, which the male frog covers with a sperm solution. The eggs then swell and develop a protective coating. The eggs are typically brown or black, with a clear, gelatin-like covering.

Most temperate species of frogs reproduce between late autumn and early spring. In the UK, most common frog populations produce frogspawn in February, although there is wide variation in timing. Water temperatures at this time of year are relatively low, typically between four and 10 degrees Celsius. Reproducing in these conditions helps the developing tadpoles because dissolved oxygen concentrations in the water are highest at cold temperatures. More importantly, reproducing early in the season ensures that appropriate food is available to the developing frogs at the right time.

Parental care
Colour plate from Ernst Haeckel's 1904 Kunstformen der Natur, depicting frog species that include two examples of parental care.

Although care of offspring is poorly understood in frogs, it is estimated that up to 20% of amphibian species may care for their young in one way or another, and there is a great diversity of parental behaviours.[23] Some species of poison dart frog lay eggs on the forest floor and protect them, guarding the eggs from predation and keeping them moist. The frog will urinate on them if they become too dry. After hatching, a parent (the sex depends upon the species) will move them, on its back, to a water-holding bromeliad. The parent then feeds them by laying unfertilized eggs in the bromeliad until the young have metamorphosed. Other frogs carry the eggs and tadpoles on their hind legs or back (e.g. the midwife toads, Alytes spp.). Some frogs even protect their offspring inside their own bodies. The male Australian Pouched Frog (Assa darlingtoni) has pouches along its side in which the tadpoles reside until metamorphosis. The female Gastric-brooding Frogs (genus Rheobatrachus) from Australia, now probably extinct, swallows its tadpoles, which then develop in the stomach. To do this, the Gastric-brooding Frog must stop secreting stomach acid and suppress peristalsis (contractions of the stomach). Darwin's Frog (Rhinoderma darwinii) from Chile puts the tadpoles in its vocal sac for development. Some species of frog will leave a 'babysitter' to watch over the frogspawn until it hatches.

Call

Some frog calls are so loud, they can be heard up to a mile away.[24] The call of a frog is unique to its species. Frogs call by passing air through the larynx in the throat. In most calling frogs, the sound is amplified by one or more vocal sacs, membranes of skin under the throat or on the corner of the mouth that distend during the amplification of the call. The field of neuroethology studies the neurocircuitry that underlies frog audition.

Some frogs lack vocal sacs, such as those from the genera Heleioporus and Neobatrachus, but these species can still produce a loud call. Their buccal cavity is enlarged and dome-shaped, acting as a resonance chamber that amplifies their call. Species of frog without vocal sacs and that do not have a loud call tend to inhabit areas close to flowing water. The noise of flowing water overpowers any call, so they must communicate by other means.

The main reason for calling is to allow males to attract a mate. Males call either individually or in a group called a chorus. Females of many frog species, for example Polypedates leucomystax, produce calls reciprocal to the males', which act as the catalyst for the enhancement of reproductive activity in a breeding colony.[25] A male frog emits a release call when mounted by another male. Tropical species also have a rain call that they make on the basis of humidity cues prior to a rain shower. Many species also have a territorial call that is used to chase away other males. All of these calls are emitted with the mouth of the frog closed.

A distress call, emitted by some frogs when they are in danger, is produced with the mouth open, resulting in a higher-pitched call. The effectiveness of the call is unknown; however, it is suspected the call intrigues the predator until another animal is attracted, distracting them enough for its escape.

Many species of frog have deep calls, or croaks. The English onomatopoeic spelling is "ribbit". The croak of the American bullfrog (Rana catesbiana) is sometimes spelt "jug o' rum".[26] Other examples are Ancient Greek brekekekex koax koax for probably Rana ridibunda, and the description in Rigveda 7:103.6 gómāyur éko ajámāyur ékaħ = "one [has] a voice like a cow's, one [has] a voice like a goat's".

Distribution and conservation status
Golden toad (Ollotis periglenes) - last seen in 1989
The Red-eyed Tree Frog (Litoria chloris) is a species of tree frog native to eastern Australia.

The habitat of frogs extends almost worldwide, but they do not occur in Antarctica and are not present on many oceanic islands.[27][28] The greatest diversity of frogs occurs in the tropical areas of the world, where water is readily available, suiting frogs' requirements due to their skin. Some frogs inhabit arid areas such as deserts, where water may not be easily accessible, and rely on specific adaptations to survive. The Australian genus Cyclorana and the American genus Pternohyla will bury themselves underground, create a water-impervious cocoon and hibernate during dry periods. Once it rains, they emerge, find a temporary pond and breed. Egg and tadpole development is very fast in comparison to most other frogs so that breeding is complete before the pond dries up. Some frog species are adapted to a cold environment; for instance the wood frog, whose habitat extends north of the Arctic Circle, buries itself in the ground during winter when much of its body freezes.

Frog populations have declined dramatically since the 1950s: more than one third of species are believed to be threatened with extinction and more than 120 species are suspected to be extinct since the 1980s.[29] Among these species are the golden toad of Costa Rica and the Gastric-brooding frogs of Australia. Habitat loss is a significant cause of frog population decline, as are pollutants, climate change, the introduction of non-indigenous predators/competitors, and emerging infectious diseases including chytridiomycosis. Many environmental scientists believe that amphibians, including frogs, are excellent biological indicators of broader ecosystem health because of their intermediate position in food webs, permeable skins, and typically biphasic life (aquatic larvae and terrestrial adults).[30] It appears that it is the species with both aquatic eggs and aquatic larvae that are most affected by the decline, while those with direct development are the most resistant .[31]

A Canadian study conducted in 2006 proposed heavy traffic near frog habitats as a large threat to frog populations.[32]

In a few cases, captive breeding programs have been attempted to alleviate the pressure on frog populations, and these have proved successful.[33][34] In May 2007, it was reported the application of certain probiotic bacteria could protect amphibians from chytridiomycosis.[35]

Zoos and aquariums around the world have named 2008 the Year of the Frog, to draw attention to the conservation issues.[36]

Evolution
A fossilized frog from the Czech Republic, possibly Palaeobatrachus gigas.

Until the discovery of the Early Permian Gerobatrachus hottoni, a stem-batrachian with many salamander-like characteristics, the earliest known proto-frog was Triadobatrachus massinoti, from the 250 million year old early Triassic of Madagascar.[37] The skull is frog-like, being broad with large eye sockets, but the fossil has features diverging from modern amphibia. These include a different ilium, a longer body with more vertebrae, and separate vertebrae in its tail (whereas in modern frogs, the tail vertebrae are fused, and known as the urostyle or coccyx). The tibia and fibula bones are unfused and separate, making it probable Triadobatrachus was not an efficient leaper.

Another fossil frog, discovered in Arizona and called Prosalirus bitis, was uncovered in 1985, and dates from roughly the same time as Triadobatrachus. Like Triadobatrachus, Prosalirus did not have greatly enlarged legs, but had the typical three-pronged pelvic structure. Unlike Triadobatrachus, Prosalirus had already lost nearly all of its tail.

The earliest true frog is Vieraella herbsti, from the early Jurassic (188–213 million years ago). It is known only from the dorsal and ventral impressions of a single animal and was estimated to be 33 mm (1.3 in) from snout to vent. Notobatrachus degiustoi from the middle Jurassic is slightly younger, about 155–170 million years old. It is likely the evolution of modern Anura was completed by the Jurassic period. The main evolutionary changes involved the shortening of the body and the loss of the tail.

The earliest full fossil record of a modern frog is of sanyanlichan, which lived 125 million years ago[38] and had all modern frog features, but bore 9 presacral vertebrae instead of the 8 of modern frogs.[39]

Frog fossils have been found on all continents, including Antarctica.

Uses in agriculture and research

For more details on this topic, see animal testing on frogs.

Frogs are raised commercially for several purposes. Frogs are used as a food source; frog legs are a delicacy in China, France, the Philippines, the north of Greece and in many parts of the American South, especially Louisiana. Dead frogs are sometimes used for dissections in high school and university anatomy classes, often after being injected with coloured plastics to enhance the contrast between the organs. This practice has declined in recent years with the increasing concerns about animal welfare.

Frogs have served as important model organisms throughout the history of science. Eighteenth-century biologist Luigi Galvani discovered the link between electricity and the nervous system through studying frogs. The African clawed frog or platanna (Xenopus laevis) was first widely used in laboratories in pregnancy assays in the first half of the 20th century. When human chorionic gonadotropin, a hormone found in substantial quantities in the urine of pregnant women, is injected into a female X. laevis, it induces them to lay eggs. In 1952, Robert Briggs and Thomas J. King cloned a frog by somatic cell nuclear transfer, the same technique later used to create Dolly the Sheep, their experiment was the first time successful nuclear transplantation had been accomplished in metazoans.[40]

Frogs are used in cloning research and other branches of embryology because frogs are among the closest living relatives of man to lack egg shells characteristic of most other vertebrates, and therefore facilitate observations of early development. Although alternative pregnancy assays have been developed, biologists continue to use Xenopus as a model organism in developmental biology because it is easy to raise in captivity and has a large and easily manipulatable embryo. Recently, X. laevis is increasingly being displaced by its smaller relative X. tropicalis, which reaches its reproductive age in five months rather than one to two years (as in X. laevis),[41] facilitating faster studies across generations. The genome sequence of X. tropicalis will probably be completed by 2015 at the latest.[42]

Cultural beliefs
Moche Frog 200 A.D. Larco Museum Collection Lima, Peru.

For more details on this topic, see Frogs in popular culture.

Frogs feature prominently in folklore, fairy tales and popular culture. They tend to be portrayed as benign, ugly, clumsy, but with hidden talents. Examples include Michigan J. Frog, The Frog Prince, and Kermit the Frog. Michigan J. Frog, featured in the Warner Brothers cartoon One Froggy Evening, only performs his singing and dancing routine for his owner. Once another person looks at him, he will return to a frog-like pose. "The Frog Prince" is a fairy tale of a frog who turns into a handsome prince once kissed. Kermit the Frog, on the other hand, is a conscientious and disciplined character of The Muppet Show and Sesame Street; while openly friendly and greatly talented, he is often portrayed as cringing at the fanciful behaviour of more flamboyant characters.